Menikmati....
Oleh: Kunjung S. (Komunitas Garis Bawah)
Dulu sahabat saya mengatakan "kalau ingin menikmati sebuah lukisan, janganlah terlalu dekat berdiri didepannya tetapi nikmatilah lukisan itu dari kejauhan..."
Melihat karya lukis dalam benak terlintas keindahan. Maka keindahan itu yang menjadikan tolak ukur seseorang terhadap sebuah karya lukis.
Lebih dalam lagi keindahan yang tercerap satu orang dengan orang lain sangat subjektif. Antara saya dengan teman saya kemudian orang lain punya cara pandang yang berbeda.
Apalagi ketika saya dihadapkan dengan lukisan abstrak. Akan banyak multi tafsir tentang lukisan tersebut. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan tanpa memiliki jawaban.
Walau akhirnya harus dipahami sipelukis akan disertakan keterangan identitas dan cerita dari karya seni tersebut.
Begitu juga dalam menikmati hidup. Orang akan beragam dalam mengisi seni panggung kehidupan. Dengan berbagai peran yang dimainkan dengan berjalan tetap di qadha dan qadharnya.
Kadang muncul pertanyaan mengapa kita sulit bahagia? Karena tolak ukur kita adalah nikmat orang lain. Atau jangan-jangan kita sendiri yang belum menemukan tolak ukur itu sendiri.
Ada yang menikmati hidup dengan bekerja berangkat pagi pulang petang. Atau yang hanya sekali tepuk seni harta datang dengan mudahnya.
Pilihan menikmati hidupun juga dengan berkeluarga bercengkrama weekend ria dan menyelesaikan problem kesehariannya di meja makan.
Atau menikmati hidup diatas pujian-pujian dan sanjungan-sanjungan jabatan dan kekuasaan. Tanpa mempedulikan tolak-ukur akan kebenaran kehidupan yang hakiki.
Hidup yang bermakna dapat dirasakan tapi terkadang sulit didefinisikan. Tak ada bedanya manusia dengan hewan sama-sama mencari makan, berkembang biak, berinteraksi dan bergerak.
Manusia menjalani hidupnya jika sekedar memenuhi kehidupan semata. Hidup seenak perutnya dan hanya memperturutkan logika dan hawa nafsu. Dan yang terparah melupakan aturan Allah SWT. Berarti disini manusia itu seperti hewan.
Allah SWT berfirman "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai".
Lalu bagaimana agar manusia tidak sama dengan hewan? Maka akal dan hati digunakan untuk memahami kebenaran. Pandangan mata digunakan mecari dan melihat kebenaran. Dan telinga digunakan mendengarkan kebenaran pula.
Kebenaran adalah apa-apa yang datang dari Allah SWT. Maka dimana manusia menikmati hidup sesuai dengan tolak-ukur perbuatan dari sang khalik, maka dia tidak akan tersesat didunia dan akherat.
Menikmati kehidupan yang penuh lika-liku, lukisan hitam-putih yang selalu tersirat di seni kehidupan. Cara pandang manusia untuk menjalani menikmati seni kehidupan itu sendiri dengan tolak ukur halal dan haram akan berpengaruh pada dirinya, keluarganya, teman-temanya dan lain-lainya. Ingat jangan sampai salah jalan, karena akan tersesat dan pasti menyesal kelak kemudian. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Menikmati...."