Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Merajut Persahabatan Dalam Ketaatan


Oleh: Nur Hayati

Menurut sobat, bisa gak sih hidup tanpa kehadiran seorang teman?
Yaps, dapat dipastikan semua orang pasti membutuhkan seorang teman. Apalagi kita yang termasuk makhluk sosial. Mau gak mau lingkungan kita tak bakal lepas dari yang namanya interaksi antar sesama. Dengan begitu, kita butuh adanya seorang teman. Sebab, tidak semuanya bisa kita lakukan dengan sendiri. Seperti halnya teman sekolah, teman ngaji, teman kerja, teman kuliah, teman sosial media, dan masih banyak lagi.

Adapun sahabat, yaitu seseorang yang lebih dari sekadar teman. Seseorang yang tentunya tak sembarangan pilih, namun difilter terlebih dahulu. Sesuai dengan visi misi hidup yang kamu raih. Atau istilahnya nih dia lebih dekat, lebih mengenal dan tahu tentang diri kamu. Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi tidak dengan sahabat yang harus dipilah terlebih dahulu. Dan tentunya, harus berlandaskan standart islam. Cuma, harus tetap dibatasi ya kalau berteman  akrab sama lawan jenis dengan dalih 'hanyalah teman dan tak lebih'. Waduh, kalau ini mah alasan.

Sobat, tahu gak, kalau siapa diri kita itu cerminan sahabat kita? Dari segi sifat dan perilaku kita tanpa disadari kita didekatkan oleh orang-orang yang tak jauh dari sifat dan perilaku kita. Ga percaya? Coba deh, di cek sendiri hihi...

Hadits riwayat At-Tirmidzi mengatakan "Seseorang itu berada di atas agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kamu memperhatikan dengan siapa ia berteman."

Dari hadits tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam memfilter seorang sahabat harus diperhatikan dan dipilah dahulu, jangan asal memilih! Sahabat bukanlah serta merta selalu mendukungmu di segala keadaaan. Termasuk mendukungmu ketika kamu berbuat maksiat, senang melihat kamu bahagia dengan yang kamu inginkan. Yang ternyata keinginan tersebut melampaui batas keislaman atau menjalankan larangan yang telah Allah tetapkan.

Mengajak kamu hanya untuk bersenang-senang di dunia. Melakukan hal-hal yang sia-sia, tanpa membawa kebermanfaatan untuk diri kita. Turut suka cita melihat kamu mengambil jalan pacaran. Tega mendiamkan kita di jalan kemaksiatan. Idih ngeri banget. Hati-hati, ya sob!!!

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan kepada kita. Bahwa pentingnya memfilter seorang sahabat. Sahabat yang bisa menolong kita di akhirat nantinya. Bukanlah sahabat namanya, jika ujung-ujungnya bermusuhan, saling menyalahkan satu sama lain. Sahabat yang rela kita disiksa di neraka yang azabnya bukan main. Gimana sob, pasti kamu gamau kan digituin? Sakit...
Dalam sebuah persahabatan yang dirajut, haruslah mempunyai  visi dan misi yang kokoh. Jika visi kamu adalah mendapat Surga dan meraih Ridho-Nya, maka kunci dan petunjuk yang dibawa haruslah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan di dalam Al-Qur'an telah dijelaskan, bahwa yang bisa masuk surga adalah orang yang bertakwa. Jadi, kalau ingin masuk surga bareng sahabat berarti yah jalan satu-satunya adalah harus punya visi dan misi yang sama.

Adapun misi yang tengah diraih: Pertama, saling mengingatkan kepada kebaikan. Seorang sahabat yang baik yaitu sahabat yang selalu menasehati kita agar tidak berkubang di jalan kemaksiatan. Kedua, fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam hal kebaikan). Meskipun konteksnya adalah berlomba-lomba, tapi bukanlah persaingan. Ingat!  Surga terlalu luas untuk sendirian, maka tak ada salahnya jika kita mengajak yang lain bisa merasakan nikmat indahnya surga. Dengan berlomba-lomba dan berjuang untuk agama yang sangat dimuliakan ini, yakni Islam. Sehingga bisa mendatangkan rahmat di seluruh alam.

Adapun sahabat terbaik adalah sahabat yang bisa mengajak ketaatan kepada Allah semata. Beruntung sekali jika kamu mendapat sahabat yang semacam ini. Sebab, kehadirannya merupakan nikmat yang sangat besar. Umar bin Khattab berkata "Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat."

Jika kamu menemukan sahabat yang semacam ini, jangan lepaskan ya.  Karena kehadirannya pun berimbas kebaikan terhadap diri kita sekaligus efek yang luar biasa.
Hadits riwayat Bukhori dan Muslim mengatakan: "Sesungguhnya perumpamaan antara teman yang baik dan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau mungkin kamu membelinya atau mungkin kamu hanya akan mencium aroma harumnya. Sementara pandai besi, bisa jadi ia akan membakar bajumu atau setidaknya kamu akan mencium baunya yang tidak sedap."

Jadi, dalam mencari sahabat terbaik, sudahkah sahabat yang dipilih sesuai dengan visi dan misi yang dibawa?!? (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Merajut Persahabatan Dalam Ketaatan"