Negeri Merdeka Rasa Terjajah
Oleh: Kunjung S.
Perjuangan mengangkat senjata melawan penjajah bersenjata itu memang telah lewat dan usai. Penjajahan yang menyakitkan selama 350 tahun telah berlalu. Stempel merdeka kepada negeri ini telah tercapai 75 tahun yang lalu.
Negeri yang makmur akan kekayaan sumber daya alam dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang dikatakan Koes Plus dalam lagunya Kolam Susu "orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman." Atau dalam pepatah Jawa "Gemah ripah loh jinawi toto tentrem raharjo." Negeri yang dari dulu menjadi incaran negara lain.
Tapi melawan penjajahan gaya baru asing dan aseng dengan tancapan dalam moderenisasi penuh trik, keserakahan dan ketamakan sedang dialami negri ini. Perjuangan memerdekakan yang miskin, yang tertinggal, yang terisoler dan yang tertindas terus diwujudkan.
Berjuang membebaskan keterpurukan kaum buruh, petani, pedagang, kesehatan, pendidikan masih jauh dari kata sejahtera. Dan membebaskan penghambaan kepada manusia untuk penghambaan kepada Allah SWT semata, belum tercapai.
Sumber daya air yang melimpah milik umum masih harus bayar dan listrik semakin naik. Lapangan pekerjaan sempit dan tenaga kerja asing bebas masuk. Iuran kesehatan BPJS naik dan harga BBM terus bertahan diatas dan subsidinya perlahan dicabut. Laut kita 70% tetapi garam masih import. Angka pengangguran dan kemiskinan semakin naik. Ketimpangan hukum masih terjadi, keadilan berpolitik yang bersih masih juga belum terwujud.
Raksasa korporasi asing masih mengeruk tambang emas dan tambang-tambang kekayaan lain serta migas kita. Kebijakan penguasa masih sendiko dawuh akan tuan-tuannya yang bercokol kuat. Oligarki dengan politik oportunis menguasai negri ini. Sekulerisme masih mencengkram kuat negri ini dan negri-negri muslim lainya.
Mesin penjajahan dunia berkedok bantuan dengan lembaga seperti IMF, Bank Dunia, ADB, Usaid dan monster-monster sejenisnya masih mengendalikan kuat. Dan ketergantungan pada suntikan donor dari mereka membuat ketagihan. Dengan masih bercokolnya orang-orang alumni jebolan luar negri yang berorientasi berpihak pada lembaga dunia, maka takan lepas dari penjajahan neoliberalisme.
Penjajahan secara halus dari segi pembuatan aturan dan kebijakan draft Undang-undang didekte asing bercorak neoliberal. Utang sebagai alat penjajahan, perubahan konstitusi, bantuan teknis semua dibuat ketergantungan agar tak bisa lepas dari cengkraman. Disisi lain lahir kebijakan yang meminimalkan peran negara dan mengalihkan tanggungjawab ke pundak rakyatnya.
Dari dalam internal kita juga harus membebaskan diri dari budaya jajah seperti manager menjajah karyawan, atasan menjajah anak buah. Tokoh agama menjajah umatnya, penguasa menjajah rakyat dan wakil rakyat menjajah yang mereka wakilinya. Sungguh memilukan kalau itu sudah terjadi di depan mata kita.
Jadi saat ini kita belum bisa dikatakan merdeka secara hakiki. Selama ideologi Kapitalisme-sekular masih berada di Indonesia dan negri muslimin. Kemerdekaan yang sempurna adalah bukan penghambaan kepada manusia, tetapi penghambaan totalitas hanya kepada Allah SWT. Islam datang membebaskan manusia dari kedzaliman sistem selain Islam.
Maka dari itu Islam memerintahkan untuk menerapkan aturan Allah diseluruh kehidupan. Segala aspek seperti monster dunia IMF, Bank Dunia dan kroni-kroninya akan disetop. Semua kebijakan yang merugikan rakyat akan sirna. Orang-orang yang tidak amanah akan disingkirkan. Dan yang terpenting ideologi Kapitalis-sekuler akan dicabut beserta akar-akarnya.
Sejarah Islam
dalam mewujudkan kemerdekaan hakiki mengambil kisah Jenderal Rustum (Persia) dengan Rab’iy bin ‘Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash) yang diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rab’iy bin ‘Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rab’iy bin menjawab: “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam..”
Kemerdekaan hakiki adalah ketika pengembalian hak penetapan aturan hukum hanya menjadi hak Allah SWT dan Rasulnya. Karena jika aturan itu berasal dari manusia yang lemah, tidak akan mampu memberikan keadilan, kemakmuran, kesejahteraan serta keamanan yang menjadi cita-cita semua negri di dunia ini. Jadi pertanyaanya sudahkah kita merdeka saat ini? Atau merdeka tapi terjajah? (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Negeri Merdeka Rasa Terjajah"