Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemimpin Sejati, Dambaan Bumi Pertiwi


Oleh: Wafi Mu'tashimah (Siswi SMAIT al-Amri)

Bersamaan dengan kemunculan virus Covid-19, beberapa perusahaan bioteknologi dunia berusaha membuat vaksin penawarnya. Salah satunya perusahaan bioteknologi Sinovac. Dan beberapa waktu lalu, salah satu perusahaan di lndonesia menjalin kerjasama dengannya.

Dilansir dari detik.com, Jum'at (24/7/2020) sekretaris perusahaan PT Bio Farma, Bambang Herijan mengungkapkan kerjasama antara PT Bio Farma dan Sinovac menguntungkan Indonesia.

Keuntungan yang ada diantaranya, transfer teknologi dari Sinovac ke Bio Farma dan uji coba ini bakal memberi informasi terkait respon vaksin pada penduduk lndonesia. Dengan demikian, kecocokan vaksin dapat diketahui ketimbang membeli vaksin dari luar yang belum diuji di lndonesia.

Kerjasama ini, terkait pembelian vaksin dan uji coba di indonesia melibatkan dana dari BUMN. Diketahui juga bahwa vaksin ini belum tentu aman diberikan pada manusia.

Tampak sekali kelemahan pemimpin dalam sistem kapitalis ketika memutuskan kebijakan ini. Setiap keputusan yang menyangkut rakyat, dinilai atas dasar tolak ukur keuntungan bagi para kapital dan pion-pionnya, bukan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Kerjasama yang lebih menguntungkan penguasa dan memberi banyak mafsadat bagi rakyat diambil. Aspek kesehatan pun dikomersialkan. Jika perkara itu mampu mengisi kantong mereka, wajib diambil, meskipun membawa keburukan bagi ummat. Bahkan, uang rakyat yang digunakan untuk membiayainya.

Ini bukanlah potret pemimpin yang amanah. Pemimpin seperti ini hanyalah orang yang menggandeng status penguasa demi uang dan jabatan. Bukan melayani rakyat yang menaruh kepercayaan pada mereka dengan sepenuh hati.

Potret Pemimpin dalam lslam

Rasulullah SAW. bersabda:
“Seseorang yang dijadikan pemimpin, tapi tidak menjalankannya dengan baik, maka dia tidak akan mencium harumnya surga.” (HR. Imam Bukhari).

Seorang pemimpin dalam lslam tahu betul amanah mereka sebagai penguasa. Mereka tak akan main-main saat mengurusi urusan ummat. Lantaran apabila mereka lalai, Allah telah mengancam agar mereka tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat tercium dalam jarak 400 tahun perjalanan.

" ...bau surga dapat dicium sepanjang jarak perjalanan lima ratus tahun." (Hr. lbnu Majah)

Karena mereka dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya, para penguasa muslim selalu mengedepankan urusan ummat diatas urusan pribadi. Alih-alih ingin memanfaatkan jabatannya untuk mencari keuntungan bagi pribadi, mereka sangat berhati-hati dalam menggunakan harta yang mereka miliki.

Seperti yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan, ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke Baitul Mal bersama anaknya. Anak beliau melihat buah-buahan yang segar dan membuatnya tergoda ingin memakannya sehingga dia memakan sebuah apel. Melihat itu Khalifah Umar langsung lari dan membentak anaknya untuk memuntahkan buah yang telah ia makan sampai anaknya memuntahkan apelnya.

Istrinya pun bertanya: "Wahai suamiku kenapa engkau sampai tega memarahinya?" Beliau menjawab: "Wahai istriku sesungguhnya aku lebih sayang kepada anakku karena aku tak ingin anakku memakan apa yang bukan menjadi haknya".

Inilah potret penguasa sejati. Penguasa yang sangat amanah. Lebih mementingkan kemaslahatan bagi ummat, dari pada keuntungan bagi diri sendiri. Karena mereka tau, Allah SWT selalu mengawasi mereka. Wallahu a'lam bishowab. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Pemimpin Sejati, Dambaan Bumi Pertiwi"