Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

The Real Happyness


Oleh: Emil Nur kholifah

Assalammualaikum, Pengen nanyak nie boleh yaak..Siapa nih yang sering lihat drama korea? Cung dung. Nah kalau pada demen pasti hafal dungapa sih yang jadi standar bahagia disana? Iyaps jawabannya cuman satu, the one and the only one dunia
Mayoritas penduduk korea selatan emang mayoritas  nggak percaya sama yang namanya tuhan dan agama, maka akan sangat wajar jika definisi kebahagiaan bagi orang Korea beda beut ya dengan seorang muslim.

Umumnya masyarakat korea selatan memiliki pandangan hidup materialism, yang identik dengan pleasure atau kesenangan, ketiadaan masalah dan hidup yang menyenangkan. Yang penting happy lha pokoknya dengan segala kerlap kerlip Keindahan kenikmatan dunia yang terpampang nyata di depan mata. Selain itu yang paling sering terjadi, bahagia juga dikaitkan dengan segala pencapaian hidup yang telah teraih dengan sekali lagi standar yang digunakan adalah materi, sayangnya pencapaian hidup orang lain sering kali dijadikan penggaris atau tolak ukur kita untuk mengukur kebahagiaan diri kita sendiri dan dari sinilah biasanya masalah terjadi.

Bayangkan jika standar bahagia kek gitu, bakalan gampang beut tuh bikin kita  sedih dan nggak bahagia. Kenapa? Karena materi itu nggak kekal. Bisa habis, berkurang, hilang dan pergi. Nggak ada uang sedih, nggak lulus sedih, nggak kerja sedih, nggak punya pacar sedih, nggak cantik sedih, nggak dipuji sedih, nggak dianggap sedih. Terus Kapan cobak bahagianya? Sambil nanyak ke diri.

Yuk coba deh sesekali tanyain ke diri sendiri, ketika kita mendapatkan semua kesenangan dunia ini apakah kita tuh benar-benar akan ngedapetin yang namanya bahagia? Atau jangan –jangan kita hanya lega karena menyelesaikan perjuangan, mengakhiri penantian, menemui apa yang diharapkan?. Karena sejatinya bahagia ntu berbeda dengan lega bukan?

Jika memang kita menyebutnya bahagia, berapa lama kebahagiaan itu akan bertahan? Seperti kita yang lulus wisuda, berapa lama kebahhagian ini akan terus hadir? Apakah hingga berbulan-bulan?. Begitu pun dengan pencapaian apapun yg kita capai, semua hanya sementara.Dan bukankah kebahagiaan semacam ini adalah semu? Siapa yang menjamin kita bisa lulus sebelum wafat, siapa yang menjamin kita bisa mencapai dan melakukan apapun yang kita mau sebelum wafat? Tidak ada.

Masih lekat di ingatan kita, jonghyun shinee dan suli fx bunuh diri belum lama ini. Apakah mereka terlihat tidak bahagia? Sukses iya. Uang banyak iya. Ketenaran punya. Lalu apa lagi yang kurang jika standar kebahagiaan disana adalah materi?. Lalu mengapa mereka memilih jalan itu?mengakhiri hidupnya dengan cara setragis itu

Terkait dunia, kita mengira hidup hanya satu kali, atau seperti orang korea, jika mereka mati mereka akan hidup lagi nantinya dengan kehidupan yang baru, sehingga jika masalah terasa sedang menghimpit, tak jarang orang-orang menganggap bahwa mengakhiri hidup atau bunuh diri adalah solusi, karena setelah mati tidak akan ada apa-apa lagi, atau jika yang menganut reinkarnasi, setelah mati mereka akan hidup lagi.

Padahal  Orang yang cerdas adalah mereka yang mengingat kematian bukan? Sehingga akan memahami akan ada kehidupan yang kekal abadi selamanya d kehidupan akhirat. Dan kehidupan dunia kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak disana
Daripada berfokus pada kebahagiaan-kebahagiaan yang hanya sementara tadi, yuk kita berfokus menghamba kepada Allah, fokus pada kehidupan akhirat kita. Sebab kita tahu kebahagiaan sebenarnya ada disana, jika kita pulang ke syurga menemui Rabb kita. (reper/az)

Posting Komentar untuk "The Real Happyness"