Tontonan Jadi Tuntunan
Oleh: Ai Hamzah (Pegiat di Komunitas Ibu Hebat)
Kini marak sudah tontonan di media televisi yang menayangkan sinetron-sinetron yang mengumbar percintaan, mulai dari percintaan abege sampai percintaan orang dewasa. Yang penuh dengan keromantisan dan mengobral cinta layaknya pasangan suami istri. Pelakon memerankan perannya dengan sepenuh hati, biar keliatan all out oleh pemirsa dirumah.
Ramenya tayangan percintaan membuat produserpun ramai untuk membuat sebuah karya percintaan baik layar lebar ataupun layar kaca, mereka bersemangat membuat tayangan yang mengumbar hawa nafsu tersebut. Sehingga mereka berlomba untuk memproduksi sebuah film atau sinetron tersebut untuk mendongkrak keuntungan.
Dilan, sang tokoh ini sempat viral saat filmnya tayang dilayar lebar. Seantero dunia remaja saat itu larut dengan film Dilan. Seolah-olah sang pemeran utama itu adalah pahlawan cinta bagi mereka. Bioskop yang menayangkan film inipun nyaris penuh oleh para penonton yang penasaran dengan cerita Dilan si pengobral cinta. Sampai jadilah sebuah taman di kota Bandung, taman Dilan.
Dua Garis Biru tak kalah viralnya, film inipun menjadi heboh tatkala launching. Pro dan kontra antara kaum emak yang merasa khawatir dengan tayangan film ini dengan sang produsen film yang merasa film ini adalah edukasi seks untuk anak- anak remaja. Dengan dalih itulah akhirnya film inipun sukses tayang dibioskop-bioskop ditanah air. Sehingga meraih beberapa penghargaan difestival film Indonesia.
Film ini menceritakan percintaan anak ingusan. Yang tak kalah hebohnya dengan Dilan dalam soal mengumbar hawa nafsu. Bagaimana tidak anak remaja putih biru ini sukses dalam sebuah kisah cinta yang menghantarkan keduanya kepada perbuatan maksiat. Dan itulah hasil pencapaian kisah cinta dua remaja dalam film Dua Garis Biru, mungkin khalayak sudah familiar dengan kata-kata dua garis biru (hasil tes kehamilan). Apakah itu yang dinamakan edukasi??
Yang sedang viral saat ini sebuah sinetron remaja Jendela SMP yang sedang tayang disalah satu stasiun televisi. Sinetron ini menceritakan kisah asmara dua anak remaja, cerita ini tak jauh beda dengan Dua Garis Biru dan Dilan, semua mengumbar hawa nafsu usia dini. Tak disangka sinetron ini menjadi favorit bagi kalangan remaja sampai dewasa. Sehingga ratingnya naik dan sudah jelas ini akan meraup keuntungan yang tidak sedikit. Lagi-lagi dengan dalih edukasi seks untuk remaja, sinetron inipun kini langgeng penayangannya.
Tayangan dan film yang mengumbar hawa nafsu ini bukannya menjadi edukasi seks bagi para abege tetapi justru tayangan ini menjadi edukasi seks aman bagi mereka. Maka terjaringlah anak-anak usia SMP sedang pesta seks bersama disebuah hotel. Dalam operasi itu, banyak yang terjaring anak-anak remaja di bawah umur. Mereka menyewa kamar hotel.
"Sangat miris sekali. Laki-lakinya umur 15 tahun, ada perempuannya umur 13 tahun. Kita temukan ada 1 perempuan 6 laki-laki di satu kamar,” kata Camat Pasar Kota Jambi, Mursida, Kamis malam (9/7/2020). TribunJabar.id
Jadi inikah yang dinamakan pendidikan sek usia dini??
Allah SWT telah memperingatkan dalam Al Quran Surat al-Isra’ ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.
Allah sudah menurunkan aturannya didalam Al Quran melalui Rosulullah SAW yang seharusnya menjadi suri tauldan bagi umatnya. Rasulullah sebagai tuntunan hidup sudah memberikan contoh terbaik melalui sunnah-sunnahnya. Dan perkara ini semuanya telah diatur didalam Islam.
Didalam Islam setidaknya harus ada 3 pilar dalam masalah ini;
1. Pilar keluarga: keluarga seharusnya mendidik anak-anak dengan standar pergaulan Islam. Memperkenalkan masalah aurat, siapa saja yang mahrom, menjelaskan pergaulan Islam: ikhtilat, menundukan pandangan dll.
2. Pilar Masyarakat: dengan kontrol masyarakat maka akan memudahkan anak-anak bergaul sesuai dengan standar Islam, saling mengingatkan, saling support dalam kebaikan.
3. Pilar Negara: karena negara seharusnya menjamin seluruh kebutuhan umatnya. Termasuk dalam pergaulan anak-anak, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran orang tua. Wallau A'laam... (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Tontonan Jadi Tuntunan"