Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Good Looking and Smart Thinking


Oleh: Nawfa Andini (Revowriter Karawang)

Seliweran obrolan warganet dengan kata kunci 'good looking' diberbagai platform sosial media akhir-akhir ini yang ramai diperbincangkan ternyata bukan membahas soal penampilan para model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk. Bukan pula soal good looking persyaratan kerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG). Melainkan menampilkan berita pernyataan dari Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang menuai kontroversi dikalangan netizen.

Dilansir dari portal online cnn.indonesia.com, Menteri Agama Fachrul Razi membeberkan cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat.
Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.
"Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9).

Lagi, pernyataan kontroversi Menag ini menuai pro kontra dan bahkan kecaman dari Majlis Ulama Indonesia. Dalam portal online detik.com, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik. MUI menilai pernyataan Fachrul itu sangat menyakitkan.
"MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Nampaknya, pernyataan kontroversi dari Menteri Agama bukan kali ini saja. Beberapa kali juga pernyataan yang muncul dari Fachrul Razi banyak yang menuai polemik pembicaraan netizen. Pernyataan yang menempatkan orang pada kriteria radikalisme dengan ciri-ciri good looking, cakap bahasa Arab dan hafiz qur'an, sungguh sangat menyakitkan hati kaum muslimin.

Nampak multitafsir pernyataan dari Menag sehingga tak ada yang berlebihan jika ada opini ini justru menganggap Menag mengkerdilkan nilai-nalai Islami. Bagaimana tidak? Seorang Hafidz dan yang paham ilmu agama dijadikan kriteria cikal bakal radikalisme?

Satu hal bahwa ini bukti bahwa betapa umat Islam begitu 'kegeeran' kepada Menteri Agama di negerinya sendiri. Walaupun masyarakat Indonesia penganut agama Islam terbesar dan Menteri Agama beragama Islam, faktanya seorang Menteri Agama bukan hanya implementasi dari agama Islam saja. Melainkan aneka ragam agama yang diakui Indonesia. Artinya, bukankah ini sebuah bukti jika negeri ini berpemahaman ide sekularisme ?

/Good Looking Dimata Allah/

Sudahlah! Sudah cukup menyakiti hati umat Islam dengan pernyataan yang tak mendasar. Good looking atau berpenampilan menarik bukankah itu baik? Bukankah itu juga bagian dari adab ketika bersosialisasi dengan yang lain? Apalagi jika good looking di hadapan Allah.

Bahasa Arab adalah bahasa Al-qur'an. Bahasa yang pernah menjadi bahasa inernasional tatkala ideologi Islam diterapkan hingga 13 abad lamanya. Bahasa Arab juga merupakan bahasanya surga kelak di kampung akhirat. Tak selayaknya seorang jajaran intelektual membuat pernyataan demikian. Sungguh menyakitkan. Bukankah ketika seseorang yang menguasai bahasa Arab adalah orang yang 'good looking' di hadapan Allah? Sebab salahsatu syarat menjadi seorang faqih fiddin adalah dia yang menguasai bahasa Arab?

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda:”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak di hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Maka Kedua orang tuanya bertanya: ’Mengapa kami diberi pakian kemuliaan seperti ini?’ Dijawab: ’Karena anak kalian berdua belajar dan menghafal Al Qur’an.’ (Mustadrak Al Hakim 1/568. Dihasankan Al Albani dlm As Shahihah no.2914).

Sungguh bukankah ini kabar menyejukan dari Rasulullah SAW., untuk para penghapal dan pembelajar al qur'an? Tidakkah ada kebahagiaan lain selain kelak kita disatukan dengan orang-orang terkasih di surgaNya Allah? Inilah sejatinya impian terbesar semua umat Islam. Celakanya hari ini, kita mendengar pernyataan yang miris tentang para hafiz alqur'an dikatakan sebagai cikal bakal radikal.

Good looking itu bagian daripada adab. Sedangkan good looking dimata Allah merupakan sebuah kewajiban. Tiga kriteria yang didistorsi oleh politisi sungguh tidaklah elok. Yuk smart thinking! Berusaha menjadikan diri sebagai orang yang good looking dihadapan Allah dengan juga menggaungkan dan membumikan nilai-nilai keislaman untuk kemudian bisa diterapkan secara menyeluruh didalam kehidupan. Good looking menyuarakan pemikiran Islam ke tengah-tengah masyarakat. Wa'allahu alam bi showab. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Good Looking and Smart Thinking"