Hafidz Qur'an Dituduh Radikal?
Oleh: Fathunia As'ary
Baru-baru ini, seorang menteri mengucapkan kalimat yang menyakiti umat muslim. Pernyataan terbaru yang membuat banyak orang bereaksi adalah pernyataan Menag Fachrul Razi terkait strategi paham radikal masuk di lingkungan ASN dan masyarakat. Disampaikan di acara webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9).
Fachrul mengatakan bahwa "Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-lama orang disitu bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan."
Dari pernyataan Menag diatas, terlihat betapa semberononya dia melemparkan tuduhan ke ide Islam bahkan umat Islam. Rasa takut terhadap Islam terus disebarkan seolah-olah masalah negara ini adalah radikalisme yang pelakunya adalah mereka yang "Islami". Umat selalu digiring kepada pemahaman bahwa Islam adalah biangnya radikalisme. Kata radikal selalu dilekatkan kepada Islam, baik itu terhadap idenya, orangnya, simbolnya, atau lembaga Islam yang tidak sejalan dengan rezim. Isu radikalisme ini sepertinya dipakai rezim untuk membungkam kaum muslim yang terus mendakwahkan Islam.
Menurut KBBI, radikalisme adalah 1. paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2. paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3. sikap ekstrem dalam aliran politik.
Dari arti kata radikalisme diatas, bagaimana bisa tuduhan jahat radikalisme diarahkan ke para hafidz ? Dimana letak radikalnya orang yang good looking, berpenampilan rapi, bahasa arabnya bagus dan seorang hafidz adalah orang yang radikal ? Bukankah orang yang menghapal Al-Qur'an adalah orang yang sehari-harinya menghabiskan banyak waktu dengan berinteraksi dengan Al-Qur'an ?
Pernyataan Menag ini tentu berbahaya sekali. Hal ini akan menjadikan rakyat menjauhi agamanya atau mungkin rakyat akan tidak percaya bahkan tidak mendengarkan perkataan para pejabat negaranya jika isu radikalisme ini terus dituduhkan ke tengah-tengah umat muslim. Pemerintah seolah-olah melihat bahwa permasalahan genting negara ini adalah radikalisme. Seolah-olah ancaman negara ini adalah radikalisme.
Coba bayangkan jika generasi umat muslim saat ini mengikuti perkataan Menag, otomatis mereka akan menjauhi mesjid, menjauhi majelis Ilmu, tidak mau memakai simbol Islam atau yang lebih parah, menjauhi kitab sucinya, Al-Qur'an.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca Qur’an, belajar dan mengamalkannya. Maka dipakaikan pada hari kiamat kepada kedua orang tuanya mahkota dari cahaya, cahayanya seperti pancaran cahaya matahari. Dipakaikan dua gelang untuk orang tuanya dimana tidak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya. Kedua berkata, “Kenapa kita dipakaikan ini? Dikatakan, “Karena kedua anak anda mengambil Qur’an.” HR. Hakim, (1/756).
Hadist diatas menggambarkan bagaimana Allah SWT sangat memuji hamba-nya yang membaca Al-Qur'an, apalagi menghapalkannya. Allah menyiapkan ganjaran terbaik bagi yang membaca, menghapal dan mengajarkan Al-Qur'an.
Tidak ada satupun ayat Al-Qur'an atau hadist yang menggambarkan bahwa muslim yang menghapal Al-Qur'an adalah orang yang berbahaya, orang yang membawa kerusakan, orang yang radikal. Tidak ada satupun keterangan dalam hadist yang menyematkan tuduhan-tuduhan jahat itu ke seorang hafiz. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi dasar Menag mengucapkan kalimat yang tendensius tadi ?
Kalau generasi muda Islam sudah jauh dari Islam, lalu apa yang bisa kita harapkan dari mereka. Padahal generasi saat ini adalah calon pemimpin di masa depan. Dengan Islam, kita tau apa itu adab. Dengan Islam, kita tau apa itu akhlak. Dengan Islam, kita mengenal yang mana dosa dan yang mana pahala. Kalau benar, generasi Islam menjauhi bahkan takut mempelajari Islamnya, tidak menghapal kitabnya bahkan phobia terhadap agamanya sendiri, akan bagaimana masa depan bangsa ini ?
Tidak beragama? Atau beragama tapi agama KTP saja?
Semoga Allah melindungi kita dari para pemimpin yang bodoh dan dzolim.
Semoga Allah segera menurunkan pertolongannya kepada kita agar kita bisa berislam kaffah. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Hafidz Qur'an Dituduh Radikal?"