Mengelola Rasa Cinta
Oleh: Chusnatul Jannah
Setiap insan pasti pernah merasakan jatuh cinta. Bagaimana rasanya mencintai seseorang. Bagaimana rasanya ditinggalkan orang tersayang. Dan bagaimana rasanya diduakan oleh sosok terkasih. Terutama kalangan milenial tentu sudah tak asing dengan sesuatu bernama 'cinta'. Kebanyakan mereka mengekspresikan rasa cinta pada seseorang melalui aktivitas pacaran. Bahkan tak jarang yang merealisasikan rasa cinta itu dengan berzina. Alias berhubungan intim layaknya suami istri.
Kata orang 'love is blind'. Benarkah? Jika dilihat dari aktivitas pacaran yang kebablasan hingga rela menyerahkan keperawanan, maka cinta buta adalah benar. Sebab, mereka yang melewati batas norma agama tak peduli dengan itu semua. 'Kalau kamu cinta sama aku, buktikan dong!'. Bukti itu pun akhirnya terjebak pada hubungan terlarang. Cinta bisa membutakan. Emang bener kok. Faktanya, kini banyak perempuan atau laki-laki yang justru menempatkan rasa suka atau cintanya pada orang yang salah. Bahkan berbangga dengan status perebut laki orang atau perebut bini orang. Duh... Cinta mengapa kau begitu membuat hati dan pikiran buta?
Cinta itu buta bisa terjerat pada mereka yang menjalin hubungan abnormal. Laki-laki menyukai sesama jenisnya. Bukankah itu abnormal? Bahkan bisa dibilang gila karena cinta. Cuma, kata mereka yang suka teriak kebebasan berperilaku dan berekspresi, cinta itu tak pernah salah. Sebab, rasa cinta ada pada setiap makhluk bernyawa. Whats???
Sederet fakta tentang cara mereka mengelola rasa cinta membuat hati teriris. Apakah mencintai itu salah? Apakah cinta harus dilenyapkan di hembusan kehidupan setiap insan? Oh No! Tak perlu seekstrim itu. Karena cinta tidak keliru. Yang salah adalah cara mengelola dan mengekspresikannya.
/Potensi Manusia/
Dalam kehidupan, Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan potensi bagi manusia. Potensi itu berupa hajatul udwiyah (kebutuhan jasmani), naluri, dan akal. Adapun kebutuhan jasmani, Allah memberi potensi ini berupa rasa laar, haus, buang air kecil dan besar, dan sebagainya. Sedangkan naluri, Allah berikan bagi manusia naluri beragama, naluri berkasih sayang, dan naluri mempertahankan diri.
Di antara naluri berkasih sayang itu terwujud dalam rasa sayang dan disayangi. Naluri berkasih sayang ini tidak hanya kepada lawan jenis. Bisa pada orang tua, saudara, teman, atau kerabat. Jadi, naluri berkasih sayang tidak sekadar diekspresikan dalam aktivitas pacaran atau pernikahan. Sedangkan akal, diberi potensi berupa berpikir. Itulah mengapa Allah menghendaki kita agar berpikir dulu sebelum beramal.
Cinta adalah fitrah. Allah memberikan rasa cinta agar manusia memiliki kasih sayang dengan manusia lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rum yang artinya, "Dan di antara tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tands bagi kaum yang berfikir." (TQS. Ar Rum: 21)
Cinta adalah kemurnian. Putih, bersih dan suci. Allah berfiman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." (TQS. Maryam: 96). Tak layak dieskpresikan dalam kemaksiatan. Sebab, hal itu akan menodai kesucian cinta yang Allah berikan pada manusia. Allah memberi potensi berupa naluri berkasih sayang bukan untuk dibelokkan pada cara dan jalan yang salah.
Menyalurkan rasa cinta semestinya sesuai tuntunan Allah. Bukan menyesuaikan kehendak hati manusia. Sebab, hati itu relatif. Karena di dalamnya terdapat nafsu. Jika hati dituntun nafsu, ia selalu meminta pemuasan tak berujung. Jika hati dibimbing wahyu, ia akan dikendalikan oleh pedoman dan aturan Tuhan. Maka dari itu, manusia tak boleh mengekspresikan cinta ke sebarang orang.
Rasa cinta pada hari ini biasanya tampak pada generasi uwu yang halu dan baperan. Apa itu uwu? Uwu bisa diartikan sebagai perasaan gembira atau lucu yang didapatkan dari mengagumi seseorang. Nah, yang paling sering mengalami rasa 'uwu' nya cinta ini adalah generasi milenial. Hingga mereka pun seringkali dijuluki generasi baperan. Mudah terbawa perasaan pada hal-hal yang dinilai sweet, takjub, kagum, dan romantis.
Semua itu muncul karena naluri nau' atau berkasih sayang ini terus menerus dirangsang. Dari drama korea yang romantis abis hingga drama rumah tangga yang bikin nangis dan hati teriris. Seperti kisah istri yang diselingkuhi. Masih ingat kan bagaimana pengaruh drama 'The World of The Married' yang viral itu? Bagaimana sosok Sunwoo yang mewakili istri yang terkhianati. Bagaimana tokoh Da Kyung berhasil bikin marah emak-emak se Indonesia Raya hingga mereka serbu akun sang artis dengan celaan dan bullyan. Ish...ish...ish....
Semua rasa baper bin uwu itu karena dirangsang tontonan. Dari tontonan bisa jadi tuntunan. Dari tuntunan bisa menjadi percontohan. Belum lagi era keterbukaan informasi. CLBK marak terjadi. Dulunya mantan akhirnya balik lagi. Begitulah pengaruh faktor lingkungan dan tontonan dalam mengaduk-aduk perasaan manusia.
Ada dua hal yang menjadi sebab mengapa banyak manusia gagal mengelola rasa pada waktu dan tempat yang tepat. Pertama, faktor internal. Faktor internal ini bisa berupa kurangnya iman dan minimnya ilmu. Tak dapat dipungkiri, iman adalah benteng pertama bagi setiap manusia. Iman dan ilmu adalah dua hal yang saling terkait.
Beriman tanpa ilmu itu buta. Artinya, merealisasikan iman harus didasari dengan ilmu agar tak salah jalan. Berilmu tanpa iman itu rapuh. Maksudnya adalah orang berilmu tapi jika ia tak menyandingkan ilmunya dengan keimanan hanya akan menjadi manusia yang tak memiliki ruh. Ruh yang dimaksud adalah idrak shillah billah, gaitu kesadaran hubungan dia dengan Allah. Kecerdasannya harus bermanfaat dan bermaslahat bagi manusia.
Kedua, faktor eksternal, yaitu lingkungan. Lingkungan memiliki pengaruh yang besar. Salah teman bisa salah pergaulan. Salah tontonan bisa menyesatkan. Inilah pentingnya bagi kita agar meningkatkan iman dan menambah ilmu sebelum mengamalkan.
Mencintai dan dicintai itu bukanlah sebuah kesalahan. Tanpa cinta, manusia bagai robot. Dingin dan tak bernurani. Sebab, cintalah yang memberi nurani. Hanya saja, mengelola rasa cinta haruslah benar sesuai tuntunan syariat Islam. Bukan diumbar tanpa batasan.
Islam sudah memberi petunjuk dalam mengelola rasa cinta. Bila tak mampu menahan, menikahlah. Bila belum mampu menikah, maka berpuasalah. Dalam Islam, rasa cinta pada lawan jenis hanya diridhoi dalam ikatan pernikahan. Bukan zina atau pacaran. Isilah amal dengan kebaikan menular. Bukan kemaksiatan menjalar. Mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang positif akan mengalihkanmu dari keuwuan dan kebaperan yang terus menderu. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Mengelola Rasa Cinta"