Mengubah Insecure Dengan Memupuk Rasa Syukur
Oleh: Kartika Linggawati, S.Pd
Insecure akhir-akhir ini menjadi fenomena yang menggejala di kalangan generasi muda. Penampakan seseorang dengan perasaan insecure itu bermacam-macam. Ada yang cenderung takut dengan penolakan atau penilaian orang lain, terlalu cemas, atau bahkan menjadi sangat tidak percaya diri. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami insecure, baik faktor internal maupun eksternal. Lalu apa sebenarnya insecure itu? Apa saja bahayanya jika insecure dibiarkan dialami seseorang secara terus-menerus? Lantas bagaimana Islam memandang permasalahan ini dan memberikan solusinya?
Insecure adalah suatu kondisi yang berasal dari peristiwa traumatis atau krisis, seperti perceraian, kebangkrutan, atau kehilangan.Hal tersebut juga dapat terjadi karena ketidakpastian atau gangguan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menimbulkan kecemasan dan rasa insecure. Orang yang memiliki rasa insecure mungkin juga memiliki kepercayaan diri yang rendah, punya masalah terhadap tubuhnya, hidup yang tidak terarah, atau merasa diabaikan oleh orang lain. Insecure adalah perasaan yang terjadi secara terus-menerus dan bersifat tidak baik karena dapat menyebabkan depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan, bahkan kelelahan kronis (dikutip dari https://www.google.com/amp/s/www.sehatq.com/artikel/memahami-apa-itu-insecure-beserta-gejalanya/amp).
Insecure bisa disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal tersebut diantaranya adalah pertama, rasa takut berlebihan akan kegagalan dan penolakan sosial. Dengan sifat seperti ini bisa menyebabkan seseorang cenderung menutup diri atau "mencari aman" dari resiko sebuah kegagalan sehingga menghambat langkahnya untuk mencoba sesuatu atau memulai sesuatu.
Kedua, sikap yang terlalu perfeksionis. Seseorang dengan sikap perfeksionisme tinggi dalam segala hal akan mendapati kekecewaan dan kegelisahan manakala kesempurnaan terhadap apa yang dia ingini tidak tercapai, seperti misalnya seseorang yang terbiasa selalu mendapatkan nilai 100 dalam setiap ujian akhir, namun dalam sekali waktu ketika dia mendapati nilainya hanya 90 atau 95 maka insecure akan muncul dengan wujud merasa gagal, menyalahkan diri sendiri, tidak menerima dan lebih jauh lagi sampai depresi.
Faktor eksternal yang bisa menyebabkan insecure adalah pertama, kekurangan dalam tampilan fisik maupun materi yang menjadi bahan perundungan (bullying). Kita dapati bahwa korban bullying akan mengalami traumatis sehingga cenderung menjadi sangat tidak percaya diri, ketakutan berlebihan hingga menutup diri dari interaksi sosial di masyarakat.
Ketiga, pola asuh yang gagal di dalam keluarga. Anak sebagai korban perceraian orang tua maupun kekerasan yang dialaminya di dalam keluarga akan memunculkan rasa tidak aman dan nyaman berada di dalam rumah. Maka tak jarang kita temukan fakta pula seorang anak broken home yang kabur dari rumah atau bahkan berulah di luaran. Ketiga, faktor eksternal yang secara tidak langsung adalah tertancapnya ide materialis-hedonis yang dilahirkan oleh sistem sekuler kapitalis. Tidak bisa kita pungkiri gaya hidup sekuler-kapitalis yang cenderung materialistis telah menjadikan standar kebahagiaan seseorang adalah pencapaian materi semata baik berupa harta, kedudukan, prestise maupun ketenaran di tengah masyarakat. Kita saksikan hari ini generasi muda yang disibukkan dengan peningkatan eksistensi diri dengan membuat konten-konten yang dianggap "menarik" melalui berbagai aplikasi videomaker dan media sosial. Semua dipicu karena generasi muda telah dibuat silau dengan eksistensi para pesohor negeri yang dihiasi ketenaran serta harta berlimpah.
Jika kita analisis dengan kacamata Islam dan merenunginya sejenak akan kita dapati bahwa semua faktor penyebab terjadinya insecure baik internal maupun eksternal adalah karena ketiadaan mafahim, maqayis, dan qanaat yang benar di dalam diri seseorang. Mafahim adalah pemikiran yang telah terinternalisasi dalam jiwa seseorang menjadi sebuah pemahaman yang utuh. Mafahim setingkat lebih tinggi dari sekedar ide atau pemikiran. Ide atau pemikiran jika hanya sebatas tersimpan di dalam memori maka hal itu hanyalah akan menjadi sebatas informasi belaka. Sementara mafahim tidak sebatas ide atau pemikiran yang tersimpan dalam memori namun ide atau pemikiran tersebut telah mampu mempengaruhi suluk (tingkah laku) seseorang yang ia bertindak dan berperilaku sesuai mafahim tersebut.
Ketika seseorang memilki mafahim islamiyyah maka ia akan berpikir dan berbuat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan pemahamannya tentang keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta Hari Akhir akan mengarahkan dirinya untuk senantiasa bersikap mengikuti ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik dan buruknya yang terjadi di dalam mengarungi kehidupannya diterima dan dijalani dengan keikhlasan. Maka manakala ia mendapati sebuah harapan yang tak sesuai ekspektasinya dia tidak akan berlarut-larut dalam kekecewaan dan kegelisahan. Dia akan tetap mampu bangkit dari kegagalan yang ia temui dalam hidup sebab yakin akan pertolongan dan kasih sayang Rabb-nya.
Bagaimana cara menanamkan mafahim ini? Tentunya dengan mau mendalami ilmu-ilmu agama secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan, menghayatinya dan mengamalkannya.
Selanjutnya adalah maqayis yang benar. Maqayis adalah standar atau tolok ukur kebenaran serta perbuatan. Maqayis yang benar sesuai kacamata Islam adalah benar-salah, baik-buruk disesuaikan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Maqayis ini adalah level tingkat kedua setelah mafahim. Setelah seseorang memiliki mafahim yang benar tentang kehidupan kemudian ia menjadikan standar kebenaran dan perbuatannya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan menjalani kehidupan hanya untuk meraih ridho Allah, hanya akan mengutamakan penilaian Allah sebagai Rabb yang menguasai dirinya, bukan penilaian manusia. Ia tidak akan menyibukkan diri hanya untuk mendapatkan pengakuan dan penilaian orang lain dan dikendalikan orang lain. Kita pun mengingati bahwa tidak semua orang menyukai kita, akan selalu ada dalam hidup ini yang tidak menyukai kita dengan standar pandangannya masing-masing. Maka ketika maqayis yang benar telah ada dalam diri seseorang maka ia akan jadikan benci dan cintanya, suka dan tidak sukanya sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Ia pun akan selalu tampil percaya diri dan memiliki ketentraman batin dalam menjalani kehidupan.
Kemudian yang berikutnya adalah qanaat yang benar. Qanaat adalah kepuasan dan penerimaan sepenuhnya terhadap karunia atau ketentuan yang telah ditetapkan. Qanaat ini tingkatan yang lebih tinggi setelah mafahim dan maqayis. Dengan tertanamnya qanaat yang benar dalam diri seseorang maka ia akan menjadikan rasa syukur sebagai penghias lisan dan perbuatannya. Sebab qanaat yang benar hanya akan menempatkan kepuasan diri pada apapun karunia yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, senantiasa merasa kecukupan itu hanya di sisi Rabb-nya. Ia akan menjadi orang yang bersahaja, tidak tamak akan urusan duniawi.
Dari sini maka nampak jelas bahwa Islam sudah sedemikian rupa memiliki konsep yang tepat dalam menyelesaikan problematika manusia, yakni konsep yang sesuai fitrah manusia dan menentramkan batin. Dengan mafahim, maqayis dan qanaat yang benar sesuai tuntunan Islam maka umat manusia siapapun dia akan senantiasa mensyukuri karunia dari Rabb-nya, tenang dan bersahaja menjalani hidup sehingga tidak akan pernah muncul dalam dirinya sesuatu yang dinamakan insecure. Karena dengan pemahaman Islam yang benar tentang kehidupan akan mengubah insecure menjadi sebuah rasa syukur yang terus-menerus dipupuk, sehingga rasa syukur itu tiada hentinya diucapkan dengan lisan dan dinikmati umat manusia.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku". – (Q.S Al-Baqarah: 152). Wallahu'alam. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Mengubah Insecure Dengan Memupuk Rasa Syukur"