Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Millenial Cinta Islam


Oleh: Ayu Arrum (Member SWI Muslimah Bangil)

Islamophobia adalah istilah yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim,". Faktanya islamofobhia tidak hanya diderita oleh orang non muslim saja, tapi muslim itu sendiri sangat bisa terdampak islamofobhia.

Mengidap islamofobhia adalah hal yang sangat sering terjadi dikalangan remaja, dan bahkan mereka tidak menyadari hal itu. Berbahayanya islamofobhia membuat seorang muslim melupakan identitas jati dirinya, melupakan fitrahnya sebagai seorang muslim bahkan bisa menjadi antiislam dan malah membuat dia meninggalkan islam. Alhasil islam hanyalah sebatas tertulis pada kartu identitasnya atau bahkan islam hanyalah agama turunan bagi mereka.

Adanya islamofobhia dan rapuhnya pemikiran remaja millenial, membuat hal ini benar-benar harus ditangani secara serius, langkah-langkah apakah yang dapat remaja millenial ambil agar terhindar dari islamofobhia ini.

• Yang pertama, tentu kita sadari lingkungan keluarga adalah lingkungan dasar yang dimiliki seorang anak, dengan adanya peran keluarga yang kuat, maka ia akan mampu menumbuhkan generasi islam yang kokoh. Dari sini peran orang tua sangat berpengaruh bagi cikal bakal generasi selanjutnya.

• Yang kedua adalah lingkungan, lingkungan ini akan sangat berpengaruh dimana remaja akan mulai lebih mendengarkan teman-temannya dari pada keluarganya, maka dari itu akan sangat baik bila remaja millenial saat ini bergaul dengan teman-teman yang sholeh/sholeh, yang mengajak kepada yang ma'ruf dan menghindari kemungkaran.

Tidak terlepas dari itu saja, zaman sekarang dengan kemudahan tegnologi tentu memudahkan remaja millenial mencari ilmu agama dari berbagai sumber, akan sangat membantu bila remaja millenial disibukkan dengan menghadiri majelis taklim, dan mencari guru untuk pembekalan agama lebih dalam. Namun tentu orang tua wajib mendampingi agar remaja millenial tidak salah informasi dan salah memilih guru pembimbingnya.

Adanya pengokohan dari dalam (keluarga) dan dari luar (lingkungan) serta adanya guru untuk memperdalam ilmu agama, maka rasa cinta dan ketaqwaan pada Allah dan syariahnya akan semakin tertancap kuat, remaja millenialpun tumbuh dengan prinsip hidup islami dan dia akan melakukan penerapan pada kehidupannya.

• Yang ketiga tentunya peran negara, mengapa sangat dirasa bahwa peran negara sangat berpengaruh?, Mengingat negara adalah garis pertahanan terkuat dalam melindungi rakyat (ummat) tentunya peran negara akan sangat dibutuhkan untuk menghadapi islamofobhia ini. Dengan adanya negara yang berlandaskan islam lurus, islam yang sempurna diterapkan maka tidak akan ada lagi islamofobhia, dan tidak akan ada lagi generasi millenial yang hilang arah bahkan tersesat.

Maka, bila kita fahami seberapa berbahayanya islamofobhia ini bila menjangkiti remaja millenial kita saat ini, sudah sepantasnya kita kembali pada syariah islam, syariah yang dilakukan secara kaffah tanpa memilih dan memilah, kita sadari pemisahan agama dan kehidupan yang terjadi saat inipun hanya akan menimbulkan polemik baru dan hanya akan menyesatkan ummat, khususnya generasi muda.

Ketaqwaan dan ketundukan sepenuhnya hanya pada peraturan Allah, dzat Yang Maha Sempurna, tidak akan ada keraguan didalamnya, karena hanya Allahlah yang paling mengerti ummatnya. Penumbuhan rasa cinta ini harus ditanamkan sejak dini dan diperkuat pada masa peralihan (masa remaja). Dengan begini kita akan memiliki generasi remaja millenial yang cinta islam dan tangguh menghadapi islamofobhia. Wallahualam bisawam. (reper/rmn)

Posting Komentar untuk "Millenial Cinta Islam"