Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Serabi dan Syakhsiyah


Oleh: Kunjung S. (Komunitas Garis Bawah)

Teringat beberapa tahun yang lalu, saat pulang ke kotaku Banjarnegara. Di Alun-alun kota ada rutinitas setiap ahad pagi  menjadi ajang olahraga. Tak luput pula penjaja kuliner bertebaran disekelilingnya.

Saya yang rindu pada makanan tradisional Kue Serabi khas Banjarnegara. Rasanya tak kalah dengan serabi terkenal dari Bandung dan Solo.

Jajan pasar yang masih exist, dengan berbahan dasar kelapa parut dan tepung, lalu dipadu gula jawa diguyur di permukaan serabi. Masih menggunakan alat tradisional tungku dan wajan kecil. Dimasak diatas bara api kayu bakar.

Ditengah menunggu antrian kue serabi, ada seorang bapak-bapak dengan anaknya yang berjalan menuju penjual serabi. Tak butuh cukup waktu lama mengingatnya. Beliau adalah salah satu guru SMP saya dan waktu itu beliau mutasi menjadi Kepala Sekolah dan sekarang beliau menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Banjarnegara.

Saya dahulu termasuk salah satu murid kesayangan beliau. Singkat cerita kita ngobrol masa lalu dan masa kini. Pandangan mata beliau menyapu penampilan dandanan saya dari ujung rambut hingga mata kaki. Beliau agak sinis dan ada rasa kekecewa pada penampilan fisik saya.

Saya memahami dengan penampilan rambut gondrong dengan semir, memakai kalung-gelang, berkaos ala rocker, bercelana jeans robek di lutut, lalu omongan saya ngalor-ngidul gak jelas. Ada perasaan malu dan tidak enak kepada beliau yang dulu menganggap saya murid kesayangannya.

Akhirnya itu semua menjadi cambuk malu bagi saya. Singkat cerita saya berusaha menjemput hidayah, saya terus berproses dan memperbaiki diri. Ikut dalam harokah dakwah dan dibina dengan tsaqofah islam.

Mulailah mengkaji Islam dari A sampai dengan Z. Mengkaji Islam mulai dari akar hingga daunya. Tibalah saat mengkaji ilmu tentang Syakhsiyah Islamiyyah. Ini ada hubungannya ketika di tempat kue serabi bertemu guru saya.

Dahulu kalau saya sudah mengenal Syakhsiyah Islam, pasti saat diskusi diatas bara kue serabi akan berbeda rasanya. Syakhsiyah Islam itu sendiri bermakna kepribadian yang terbentuk dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap).

Syakhsiyah atau kepribadian tidak ditentukan oleh pakaian, bentuk tubuh, warna kulit, kekayaaan ataupun tabiat dari seseorang. Tetapi ditentukan dari cara berpikirnya, tingkah lakunya atau aqidah dari seseorang tersebut.

Untuk memperkuat syakhsiyah islam dengan aqliyah islamnya, seperti kualitas pemahaman Islam, dorongan individu bertaqwa dan mewajibkan setiap muslim menuntut ilmu atau tsaqafah.

Dan memperkuat Syakhsiyah Islam dengan nafsiyahnya, seperti ketaatan individu dalam menjalankan perintah Allah, mengamalkan yang fardhu dan meninggalkan yang haram, menghidupkan Sunnah dan bersikap wara' menjauhi makruh dan subhat.

Yang terpenting kita harus meluruskan pandangan bahwa "yang mempunyai syakhsiyah islamiyah adalah seperti malaikat yang tanpa dosa."  Dan beranggapan "hidup Islami itu tidak mungkin!!" Itu adalah pendapat yang keliru.

Yang lebih tepat adalah Islam datang untuk diterapkan secara amaliyah dan memecahkan permasalahan-permasalahan hidup. Dan setiap manusia akan mampu menerapkan Islam jika dia telah menemukan aqidahnya dan mempunyai Syakhsiyah Islamiyyah.

Jadi teramat wajar ketika bincang santai dengan guru saya saat di penjual serabi. Menimbulkan persepsi beliau penilaian  pada diri saya yang saat itu berpenampilan fisik gak karuan dan gaya bicara slengek'an.

Pada akhirnya saya berkesimpulan ada keunikan pada Syakhsiyah Islamiyyah yaitu menjadikan aqidah Islam sebagai asas kepribadiannya. Lalu menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur sikap dan perbuatan. Kemudian yang terakhir ridha Allah sebagai makna kebahagian yang hakiki. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Serabi dan Syakhsiyah"