Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hallyu Alias Korean Wave, Inspiratif?


Oleh: Cynthia Putri

Baru-baru ini muncul statement mengenai begitu banyaknya produk Korea yang diproduksi di Indonesia yang dapat menjadi momentum pembelajaran bagi anak-anak bangsa. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan produk berkualitas baik dan berdaya saing maka dalam jangka panjang diharapkan dapat mendorong proses industrialisasi Indonesia.

Pendapat selanjutnya disebutkan bahwasanya budaya Korea yang didiseminasi di Indonesia melalui K-Pop (musik pop Korea) dan K-Drama (film drama Korea) memiliki potensi meningkatkan kreativitas generasi muda Indonesia dalam membawa budaya RI 'go international'.

Kegandrungan banyak orang Indonesia terhadap K-Pop menunjukkan selera musik dari Negeri Ginseng tersebut mendapat tempat di dalam negeri. Gelombang Korea atau Korean Wave alias Hallyu juga membawa pengaruh budaya Korea di Indonesia, selain melalui musik pop (fun), drama (film), juga lewat makanan (food), dan mode (fashion). Fixed kita diserang bertubi-tubi melalui 4F (fun, film, food, fashion) yang melenakan generasi masa depan bangsa.

Selain lewat industri hiburan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga semakin diperkuat pada sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Tren tersebut dapat meningkatkan kerja sama antar kedua negara, khususnya di bidang ekonomi dari adanya kunjungan turis wisatawan asing ke masing-masing negara.

Namun, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, layakkah Korean Wave tersebut menjadi panutan bagi generasi muslim?

Perlu kita bedakan antara hadhoroh (pandangan hidup) dengan madaniyyah (kemajuan teknologi). Pandangan hidup (the way of life) dari Korea yang mengagungkan materi sebagai sumber kebahagiaan serta meyakini adanya konsep reinkarnasi misalnya, merupakan pandangan hidup yang salah.

Ideologi kapitalisme-materialisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa sumber kebahagiaan manusia ialah apabila ia memiliki materi yang berlimpah. Padahal kenyataannya, materi bukanlah sumber kebahagiaan yang hakiki. Begitu banyaknya artis korea yang berlimpah materi namun mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri menjadi bukti nyata kerusakan ideologi materialisme yang mereka emban.

Keyakinan mengenai adanya reinkarnasi di kehidupan yang akan datang membuat begitu mudahnya warga Korea melakukan bunuh diri. Dengan harapan agar segera beralih menjadi makhluk hidup yang lain di kemudian hari. Entah menjadi hewan, serangga, pohon, atau kembali menjadi manusia yang baru di kehidupan selanjutnya. Sungguh itu merupakan keyakinan yang bathil. Dalam Islam, kehidupan di dunia hanyalah 1 kali. Maka maksimalkan bekal untuk menjalani kehidupan setelah di dunia yakni kehidupan akhirat yang kekal.

Di samping itu, gaya hidup (lifestyle) hedonis yang diumbar oleh para artis korea, dengan kebebasan dalam hal 4F (food, fun, fashion hingga film) merupakan hal yang merusak generasi muslim jaman now. Halal-haram dalam pemilihan makanan & minuman pun terabaikan karena mengikuti gaya hidup oppa-nuna yang terbiasa mengkonsumsi daging babi hingga minum soju yang memabukkan. Musik pop korea menjadi lantunan yang melenakan generasi muda masa kini.

Fashion ala kebebasan dunia barat pun digunakan para artis korea sehingga generasi muda muslim pun tak sedikit yang tertarik mengenakannya juga. Bahkan film yang berisi kehidupan drama penuh halusinasi dengan berbagai kisah yang tak layak dicontoh semacam perselingkuhan, married by accident, pacaran tanpa ikatan pernikahan yang sah pun merupakan tontonan yang menjadi tuntunan yang salah arah.

Kesemua pandangan hidup tersebut sangat tidak layak untuk ditiru apalagi dijadikan inspirasi oleh umat muslim. Namun, lain halnya dengan madaniyyah (kemajuan teknologi) yang boleh saja diambil oleh umat muslim untuk kemajuan industri dalam negeri. Karena teknologi merupakan ilmu pengetahuan di luar dari scope pandangan hidup (ideologi), yang boleh saja kita ambil untuk kita terapkan tekniknya.

Maka, tak ada salahnya generasi penerus peradaban ini mempelajari berbagai teknologi terkini untuk dikembangkan sedemikian rupa untuk kemudian disempurnakan. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas dari peran serta negara yang seharusnya turut mendukung segala bentuk penelitian yang dilakukan oleh setiap warga negara guna kemajuan industri dalam negeri. Dukungan tersebut dapat berupa anggaran untuk biaya penelitian yang layak sehingga mencapai hasil yang maksimal.

Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW yang pernah mengirim orang untuk belajar industri manjanik ke negara yang sudah sukses membuatnya. Namun, Rasulullah SAW tidak mengirim orang untuk mempelajari moral dan nilai-nilai serta budaya Persia dan Romawi.

Maka, sudah sepatutnya umat muslim didelegasikan untuk mempelajari kemajuan industri dari suatu negeri. Namun tidak perlu diperintahkan untuk mempelajari budaya Korea yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Serta menjalankan kewajiban mengemban misi Islam ke seluruh penjuru negeri. Karena Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi seluruh alam. Mari kita berjuang bersama untuk mewujudkannya! (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Hallyu Alias Korean Wave, Inspiratif?"