K-Wave Produk Liberalisme
Oleh: Nae Moe Chan (Pegiat Literasi dan Pemerhati Remaja)
Masa pandemi belum selesai. Namun, kini malah muncul "virus" lagi yang lebih menyayat seluruh organ tubuh manusia. Mulai dari musik, fashion, makanan, dan trend lainnya. Fakta di lapangan menunjukkan banyak individu-individu (khususnya remaja) yang aktivitas kesehariannya mengikuti K-Wave. Ini menjadikan dana yang akan diterima oleh mereka berhamburan. Tidak hanya itu, nama palaku K-Wave pun akan dibanggakan, jadi ternama dalam televisi manapun, disanjung, dipuja seakan-akan paling mulia dan paling baik. Trandingnya melejit tinggi, sehingga pihak Korsel (Korea Selatan) sang pemilik produk Liberalisme bisa meng-goal-kan idenya tersebut.
Satu sisi muda-mudi Indonesia kurang mengasah ilmu agama Islam. Meskipun agama Islam menjadi mayoritas tetapi dilihat dari udara begitu nampak menjadi minoritas. K-Wave sudah sangat merongrong masyarakat Indonesia, yang sekarang menjadi viral melalui alat musiknya atau lagu musik nya, kosmetik kecantikan, bikin glow dimana-mana, pemutih seluruh tubuh, saking dijaganya aura kecantikan yang dimiliki, meskipun persis orang meninggal, putih pucat bak salju. Korsel lah yang memunculkan virus tak karuan ini, memang gundah-gulana jauh dari agama nya sendiri.
Dari sisi fakta fashion, banyak sekarang hijabers tetapi tidak faham sebenarnya bagaimana hijab syar'i sesuai tuntunan Al-qur'an dan Hadits. Sehingga para hijabers juga terhasut rayuan trend masa kini. Hijab yang harusnya lebar menjadi pendek, yang harusnya tebal jadi nerawang, yang harusnya ikhlas nantinya pamer saja, bikin flog dimana2 untuk setiap aktivitasnya. Itu semua ala-ala Liberalisme yang ingin menghapus Islam dari diri kita. Padahal Islam itu sudah menjadi fitrah kita sebagai hamba Allah Swt.
Kecantikan sekarang sudah tidak lagi khusus wanita, banyak pria juga melakukannya. Hal ini dicontohkan oleh para aktor K-Wave. Laki-laki tapi cantik. Entah urusannya mau kemana, intinya dengan adanya K-Wave ini sekarang banyak orang berlomba untuk bisa menjadi artis semua. Ingin menjadi figur yang bisa dipertontonkan. Sehingga kecantikan itu dipandang sangat penting. Akhirnya menjalani kehidupan hanya sekup itu saja. Sibuk merombak fisik. Operasi plastik sampai berkali-kali. Memperbaiki sesuatu yang tak seharusnya diperbaiki. Sampai mereka lupa tugas apa yang harusnya dilakukan oleh para pemuda.
Kenapa K-Wave menjadi ancaman?? Kelakuan tak bermoral dipertontonkan, kenapa tidak!! Dalam setiap penampilannya selalu menaikkan rok tinggi-tinggi serta melemparkan lirikan mata dan senyuman yang menggoda. Seks bebas pun dilakukan. Dan malah lebih getol lagi pemerintahnya telah mendukung dengan menerbitkan aturan dalam UU negaranya. Maklum juga kasus bunuh diri semakin tinggi. Orang yang hidup banyak uang, melambung namanya, tinggi jabatannya tak membuat jaminan akan merasakan kebahagiaan. Jauh dari kebahagiaan apa juga yang kita harapkan, mending dibuang jauh-jauh biar tak mengusik lagi. Lalu carilah ganti aktivitas yang terbaik, yaitu dengan turut berjuang menerapkan Islam secara keseluruhan. Upayakan aktivitas keseharian kita hanya diisi dengan dakwah untuk menegakkan Islam. Marilah bersungguh-sungguh memperjuangkan Islam agar Islam diterapkan oleh negara. Karena tanpa negara, Islam tidak akan berjalan sempurna.
Hanya solusi yang jitu akan mengantarkan kepada tujuan tertentu. Tujuan tertentu itulah yang membuat kita akan merasakan Rahmatan Lil'alamiin. Ibarat kita berkaca kepada kaca yang retak, pasti refleksi diri kita sendiri pun akan ikut retak. maka pelajari hal ini dengan baik. Carilah kaca atau reflektor yang baik. Dan tak ada yang lebih baik dari Rasulullah Muhammad Saw. Maka dari itu carilah teman yang juga mengidolakan beliau, bukan K-Wave. Karena K-Wave adalah produk Liberalisme. (reper/az)


Posting Komentar untuk "K-Wave Produk Liberalisme"