Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencetak Ibu Generasi Al-Ayyubi


Oleh: Layyina Mujahida Fillah (Aktivis Dakwah Millenial)


Shalahuddin Al-Ayyubi, seorang pemimpin, ulama, dan pahlawan besar Islam, kesatria penakluk Yerussalem setelah 88 tahun dikuasai serdadu Perang Salib akhirnya Baitul Maqdis kembali ke haribaan kaum muslimin. 


Muhammad Al-Fatih, seorang sultan, yang pada umurnya sangat muda yakni 23 tahun, berhasil menaklukkan Konstantinopel dalam waktu sebulan lebih, sedangkan kaum muslimin telah berusaha 800 tahun sebelumnya dan tidak berhasil.


Abdullah bin Zubair, seorang pahlawan Islam yang tangguh imannya dan selalu menginginkan ridho ibu  bapaknya, pemimpin haramain, sang mutiara umat yang berdiri tegak di hadapan penguasa zalim saat itu.


Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, Abdullah bin Zubair adalah beberapa dari sekian banyak generasi muslim, para pemuda Islam yang berhasil menorehkan tinta sejarah dalam peradaban Islam di hadapan dunia, hal besar maupun kecil, diingat orang maupun tidak, dipuja dunia maupun dicela, terlepas dari semua itu, mereka adalah generasi khoiru ummah.


Di balik generasi berkualitas ini ada sosok orang tua yang hebat. Ada sosok ibu shalehah yang memiliki cita-cita tinggi, perempuan tangguh yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani berkualitas. Namun sayang, sangat berbeda dengan sekarang, saat ini meski generasi muslim besar secara kuantitas, namun tidak dengan kualitas.


Bahkan banyak dari generasi muslim yang tak lagi menyadari identitasnya, tidak mantap aqidah Islam nya, langsung goyah begitu berhadapan dengan permainan dan kesenangan dunia, lebih nyaman menjadi generasi rebahan daripada generasi pejuang, menghabiskan waktunya bukan untuk lebih mengenali Rasulullah agar bisa meneladaninya, tapi lebih sibuk kepoin oppa-oppa nya dan nonton streaming MV nya sampai lupa waktu shalat.


Krisis identitas dan lemahnya generasi muslim saat ini tidak lepas dari peran sang ibu sebagai pendidik dan teladan pertama anak. Karena para muslimah sekarang juga telah tergerus arus sekularisme, kapitalisme dan liberalisme sehingga tidak lagi memahami bagaimana peran muslimah sebagai seorang ibu dalam Islam.


Mereka mengenyam pendidikan tinggi, tapi tetap tidak mengerti apa makna dan tujuan hidup mereka hidup di dunia ini. Sehingga para muslimah ini lebih fokus pada karier dan pekerjaan, bahkan menganggap anak adalah aset ekonomi yang harus dididik untuk tujuan materi, sehingga dengan tenang menyerahkan peran dan tanggung jawab keibuannya kepada orang lain, pembantu maupun ibu pengasuh.

Padahal dalam Islam, perempuan adalah pusat peradaban. Karena muslimah memegang peranan penting dalam mempertahankan keluarga sekaligus identitas Islam para generasi muslim sebagai seorang ibu, pendidik generasi masa depan. Dalam lingkup yang lebih besar, peran muslimah adalah sang penjaga peradaban.


Umat ini sangat membutuhkan generasi pemempin yang akan mengeluarkan negeri ini dari kegelapan menuju cahaya, dan membutuhkan seorang ibu generasi yang mencetak pemimpin-pemimpin besar itu, juga membutuhkan seorang istri yang akan berdiri di samping suaminya pada masa jihad dan saat melakukan dakwah. Umat ini sungguh membutuhkan seorang ibu tangguh, sang produsen pahlawan besar.


Namun, sosok ibu tangguh pendidik generasi masa depan ini tidak bisa dicetak dalam negara sekuler-kapitalis. Karena negara seperti ini hanya sebagai regulator, memberikan semua beban kepada rakyat, bahkan kebutuhan primer juga harus diperjuangkan sendiri. Pendidikan dan keamanan dalam negara ini pun tidak diberikan secara cuma-cuma, hanya mereka yang punya uang yang berhak.


Hal ini berimbas kepada kaum ibu yang juga harus bekerja untuk mencari biaya tambahan. Akhirnya, para muslimah lebih memilih meninggalkan kebanggaan sebagai ibu generasi daripada kehilangan kariernya. Akibatnya, terjadilah kezaliman paling buruk, yaitu rusaknya moral dan integritas kaum perempuan, karena akan menjalar ke seluruh sendi sosial masyarakat.


Karena itu, sudah waktunya umat ini kembali kepada Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam individu, masyarakat maupun negara. Hanya saat umat Islam memiliki satu pemikiran, satu perasaan dan satu peraturan dalam bingkai Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah maka akan dapat mencetak muslimah sebagai ibu generasi tangguh yang dapat mengatasi era krisis identitas generasi muslim saat ini.

 

Islam adalah diin yang sempurna, termasuk di dalamnya negara Islam, yang akan bekerjasama dengan keluarga menjamin kesejahteraan hidup melalui mekanisme penerapan sistem politik Islam. Islam sangat memuliakan peran ibu, tidak seperti saat ini kapitalisme yang memojokkan peran ibu. Maka, muslimah sebagai sang ibu generasi dalam negara Khilafah Islamiyah akan dapat menjadi ibu tangguh yang dapat melahirkan pahlawan-pahlawan Islam dan mengembalikan identitasnya sebagai generasi muslim. Wallahua'lam bishowab. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Mencetak Ibu Generasi Al-Ayyubi"