Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penamu, Pahalamu!


Oleh: Sahilatul Hidayah

Satu Peluru hanya akan menembus satu kepala, tetapi satu tulisan akan bisa menembus ribuan  bahkan jutaan kepala (Sayyid Quthub)

Menulis?. Hmm..apa yak kira-kira kata yang pertama kali kalean sebut atau rasa yang pertama kali muncul ketika pertama kali mendengar kata ini?. Duh kak gak bisa aku kak gak bakat gitu deh akunya. Gak ada waktu ya kak akunya, deretan tugas aku tuh udah gak sabar mintak diselesain atau malah ada yang jawab gak ngerti kak cara mulainya. Itu kali ya tiga urutan teratas kemungkinan jawaban yang akan kalean sampein ketika pertama kali mendengar kata menulis.

Kok bisa ya..napa gitu ketiga alasan tadi bisa ada. Jawabannya karena kalean belum nemuin kalau menulis itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan bikin nyaman, senyaman ketika kalean sedang bersama dengan orang yang kalean sayang. Asek..eh with big note dengan yang halal lho ya..Klo belum punya ya udah gak usah pkek dibayangin senyaman apa..wkwkwkw..

Kalau bagiku sih menulis itu emang nyenengin abiez dan bikin nyaman. Why? Karena aku makhluk intovert a.k.a tertutup yang gak bisa mudah percaya sama orang kalau mau cerita-cerita, jadinya ceritanya ya lewat tulisan di buku harian. Jadul dan keliatan kan yak usia aku berapa..hehehe..Tapi itu beneran nyenengin dan bikin lega perasaan. Plong gitu rasanya, makanya akhirnya bikin nyaman. Dan beneran gess, ada penelitian ilmiah yang nyebutin kalo menulis itu ternyata salah satu terapi yang okey untuk ngilangin stres lho, gak percaya cobain aja yess.

Itulah penilaianku tentang menulis sebagai seorang pribadi, lalu bagaimana dari sudut pandang sebagai seseorang yang telah mengazzamkan diri sebagai seorang pengemban dakwah. Dan penilaianku tetaplah sama, menulis itu kegiatan yang menyenangkan dan bikin nyaman. Kok bisa? Karena dari menulislah kesempatannya aku untuk bisa mendapatkan pahala sepuasnya.

Pasti pada nanyak deh bentar-bentar maksudnya apaan tuh bisa mendapatkan pahala sepuasnya. Jadi gini ya seperti pernyataan kecenya Sayyid Quthub, kalau satu peluru itu hanya bisa nembus satu kepala tapi kalau satu tulisan itu bisa tembus ribuan bahkan jutaan kepala. MashaaAllah..Jadi maksud dari pernyataan itu gini yak misal nie kamu nulis tentang menutup aurat itu sebuah kewajiban bagi seorang muslimah, trus beredarlah tulisanmu itu di jagad media sosial dan berkat tulisanmu yang udah dibaca ada seorang muslimah yang akhirnya sadar dan menutup auratnya.

Pahala yang dia dapat karena ketaatannya menjalankan syariat dengan menutup aurat akan juga mengalir ke kamu lho sebagai perantara kesadaran yang didapatkan si mbaknya tadi setelah baca tulisannya kamu. Selama si mbaknya tetap dalam ketaatan dengan menutup auratnya selama itu pula pahala itu akan mengalir buat kamu juga yak.
Hmm..enak banget gak sih. Itu baru satu mbak, cobak bayangin klo yang terinspirasi dan akhirnya mau berubah ada ribuan mbak bahkan jutaan mbak mashaaAllah ntu pahala ngalirnya bakalan deres beut tuh. Masih gak mupeng (muka pengen) dengan balasan pahala dari Allah yang begitu luas buat seorang pengemban dakwah yang melakukan dakwah lewat tulisan. Kalau aku sih mupeng abiez..

InshaaAllah dengan aliran pahala yang terus menerus dan gak terputus selama yang berubah karena tulisan kita selalu dalam ketaatan, seharusnya menjadi motivasi terbesar kita untuk selalu tetap semangat dalam menulis. Dalam menjalankan segala prosesnya tentu bukanlah hal yang gak mudah, ngerasa gak berbakat, ngerasa gak punya waktu dengan deretan tugas yang panjang itu, belum lagi malah gak ngerti gimana cara mulainya seharusnya tidak menjadi alasan kita tidak memulai untuk menulis.

Kuncinya cuman dua, paksain dan biasain.

Paksa untuk memulainya. Kalau ngerasa gak punya bakat jangan kawatir karena dalam menulis pengaruh bakat itu hanya 1% sedangkan 99% lainnya dipengaruhi oleh kemauan, disiplin, kerja keras dan semangat pantang menyerah. Kalau pagi sampe malam udah tersibukkan dengan berbagai macam tugas, bisa disiaati menulisnya habis salat tahajud atau sehabis waktu subuh sebelum kita memulai beraktivitas. Kalau gak tau gimana caranya ya belajar akak, cari mentor yang kece atau ikuta kursus online menulis yang sekarang udah banyak.

Untuk mencapai kebahagiaan dunia saja kita rela bekerja begitu keras untuk meraihnya, maka untuk kebahagiaan akhirat seharusnya kita bisa bekerja lebih keras lagi. Menulis bagi seorang pengemban dakwah adalah bagian dari dakwah yang tidak bisa terpisahkan. Penamu pahalamu, dakwah lewat tulisan akan menjadi sarana bagi seorang pengemban dakwah untuk mendapatkan balasan yang begitu berlimpah yaitu pahala yang tiada berputus pastinya dalam upaya keras kita meraih ridaNya, sehingga kita akan bisa meraih kebahagiaan akhirat dengan mendapatkan surgaNya. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Penamu, Pahalamu!"