Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tubuhku Bukan Milikku?


Oleh: Cynthia Putri


Terlahir sebagai wanita

Adalah suratan takdirku

Kuasa Ilahi

Jadikanku miliki kodrat kewanitaan ini


Puber dan baligh

Sebuah fase yang kulalui

Menuju kedewasaan

Amanah pun mulai ku pikul

Tanggung jawab kian besar ku emban


Taklif hukum telah berjalan

Kewajiban jalankan syari'at pun harus kujalani

Dosa, bila ku tinggalkan aturan-Nya

Pahala hanya bila ku jalankan hidup sesuai syara'

Serta ikhlas lillahi ta'ala

Jadi syarat ihsanul amal


Namun, apalah daya

Inginku ta'at tak sejalan dengan tempatku bernaung

Aku terlahir di era masa kini

Masa dimana hukum-hukum Allah dicampakkan

Manusia dengan lancang membuat aturan hidupnya sendiri

Bahkan berzina pun

Kini digaungkan oleh kalangan akademisi

Bahkan kepada mahasiswa/i baru di sebuah kampus ternama negeri ini

Free-sex seakan halal dengan adanya sexual consent

Perjanjian awal atas dasar suka sama suka


Padahal, sejatinya tubuh ini milik Allah

Anugerah dari Sang Ilahi Robbi

Amanah yang harus dijaga kesuciannya

Kelak akan dimintai pertanggungjawaban

Atas segala pilihan hidup ini


Sungguh rindu diterapkannya kembali sistem Islam

Yang kan mengentaskan segala problematika kehidupan ini

Berkat aturan dari Sang Maha Pengatur

Yang Maha Tahu seluk beluk makhluk ciptaan-Nya

Tata pergaulan pun tak lepas dari batasan syar'i


Betapa ketaatan individu pun turut terjaga

Berkat adanya peran penguasa

Jalankan ketakwaan jama'ah

Tak hanya taat untuk diri ini seorang

Tapi jua masyarakat

Hingga negara pun serukan ketaatan massal

Menindak tegas pelaku maksiat

Sanksi nan memalukan pun membuat jera

Menjadi cermin bagi hamba

Agar tak terbelenggu dengan silau dunia

Tak terlena dengan goda syaitan terkutuk

Tak jua lalai akan tujuan hidup nan hakiki

Hingga khusnul khotimah di akhir hayat


Pion masa depan ada di tanganmu

Duhai jiwa yang dirahmati Allah

Akankah kita turut berjuang menegakkan seluruh aturan Allah?

Atau mengendurkan semangat para pejuang Islam kaffah?

Ataupun berdiam diri menjadi penonton semata?


Sungguh Sang Khaliq Maha Tahu

Sangat jeli perhitungan-Nya

Kelak, sampai jumpa di Hari Penghisaban

Hari dimana mulut terkunci

Tak ada lagi kata

Tangan dan kakipun bersaksi

Atas apa yang telah kita perbuat

Selama hidup di dunia

Berharap dapat istiqomah dalam ketaatan jama'iy

Hingga ajal merenggut nyawa. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Tubuhku Bukan Milikku?"