Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berjalan Di Tepi Jurang


Oleh: Kunjung Sasono (Komunitas Garis Bawah)


Mencatatkan kehidupan kita dalam tinta putih atau tinta hitam dalam kehidupan ini adalah pilihan kita. Kita yang ditaqdirkan hidup di dunia ini atas kehendakNYA bersama milyaran manusia.


Kisah hidup kita catatkan akan menjadi pahlawan atau pecundang adalah pilihan dimana jejak langkah sejarah hidup kita berpijak. Berpijak kepada kebenaran yang semua datang dari sang pencipta.


Jika kita berjalan di tepi jurang kelam tanpa cahaya, pasti kita tersesat dan terperosok di jurang kehinaan. Keserakahan dunia adalah jurang maut, manusia menggapainya tanpa rasa puas.


Jika kita berjalan di tepi jurang dengan nur cahaya melambai menuntun, pasti terselamatkan oleh sebuah kebenaran. Hingga seberapa intensitas cahaya yang datang padamu kau sambut.


Seorang muslim sejati berjalan ditepi jurang dalam malam hari hari, harus waspada dan hati-hati agar tidak terjatuh dalam lembah dosa. Itulah hakekat taqwa adalah agar hidup berhati-hati.


Maka manusia perlu petunjuk arah, tongkat acuan dan cahaya penerangan agar tak salah arah. Manusia perlu kompas kehidupan, rambu-rambu dan pijakan agar terselamatkan.


Agar kita berjalan menuju arah yang benar, maka tak lain dan tak bukan harus mengambil arah petunjuk yang benar. Yang telah dituruhkan sang pencipta untuk setiap insan manusia.


Rasulullah Saw bersabda "Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat setelah (kalian bepergian teguh pada) keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” [HR. At-Thabrani].


Sungguh hidup memang banyak penderitaan untuk menuju kebahagiaan. Orang mukmin didunia memang seperti di penjara, tidak bebas semaunya sendiri ada aturan dan perunjuk. Hingga tiba hari kebebasan dan kemenangan abadi.


Bersabarlah wahai orang-orang yang bertaqwa. Tetap berjalan pada apa yang telah digariskanya. Jangan sampai lengah sedikitpun hingga jurang ini kau lalui. (reper/ar)

 

Posting Komentar untuk "Berjalan Di Tepi Jurang"