Cinta Nabi Tak Sekedar Terucap
Oleh: Zainul_Krian
Kemuliaan Nabi ﷺ kembali dihina. Kali ini dilakukan oleh seorang pemimpin Perancis, Emmanuel Macron. Tindakan kurang dewasa tersebut patut disayangkan, mengingat agama adalah hal yang amat sensitif. Apalagi dilakukan oleh seorang presiden. Tak ayal, perbuatan itu telah membangunkan jiwa-jiwa muslim dengan berbagai aksi, memprotes keras penghinaan tersebut.
Banyak negara yang menyerukan boikot produk asal Perancis sebagai bentuk protes. Sebut saja Turki, Kuwait, Mesir dan lainnya. Diperkirakan gelombang aksi akan terus berlanjut dan semakin besar hingga si presiden meminta maaf.
Sedangkan Indonesia, negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Pemimpin muslim disini, jangankan bertindak memboikot produk Perancis. Mengancam akan memboikot pun tidak dilakukan. Kebijakan yang diambil hanya sebatas pernyataan kecaman. Hm...
Sebenarnya kecaman layaknya pengumuman tersebut tidak berbanding imbang dengan betapa besarnya negeri muslim ini. Namun hal ini bisa dimaklumi sebab dari segi sistem, negara memang belum menjadikan Islam sebagai asas berpolitik. Sehingga aktifitas politik di dunia internasional belum memiliki nilai tawar lebih.
Meski begitu, paling tidak negara turut mengapresiasi kebijakan yang dilakukan pemerintahan desa Panaguan Pamekasan Madura Jawa Timur. Bersama para tokoh dan ulama', memiliki aspirasi yang sama, yakni tidak rela nabinya dilecehkan. Kemudian dengan mengeluarkan surat edaran, melakukan pemboikotan produk asal Perancis. Dengan maksud, setidaknya berusaha memberikan efek jera dari hal terkecil dahulu yaitu ekonomi.
Memang aksi mengecam, turun ke jalan hingga usaha memboikot perekonomian suatu negara kerap dilakukan para pecinta Nabi ﷺ. Tapi mengapa masih bisa terjadi berulang? Dengan kata lain, terhadap subyek penghinaan, segala aksi kaum muslim belum mampu memberi efek jera bagi para pelaku penghinaan.
Inilah yang terjadi jika umat Islam pecinta Nabi ﷺ, tetap berkeinginan mempertahankan sistem politik sekular. Mengambil Islam hanya dalam ranah pribadi dan mentok urusan keluarga. Disaat bersamaan, alergi jika Islam turut mengatur urusan negara (politik).
Padahal kaum diluar sana sudah sangat jelas, sedang membangun perpolitikan menghantam kita. Terbukti kemarin yang membela penghinaan nabi berasal dari kalangan presiden yang juga termasuk jabatan politik.
Jika mau jujur, di masa kekhalifahan Abdul Hamid ll juga sudah pernah terjadi penghinaan semacam ini. Namun dikarenakan umat Islam masih mempunyai perisai (Khalifah) yang ketika itu mengultimatum akan menyerukan jihad fisabilillah jika rencana pementasan drama dengan tokoh Nabi ﷺ dilanjutkan. Alhasil, pertunjukan pun langsung dibatalkan.
Bagaimana tidak, secara geografis kekuasaan dan kekuatan negeri-negeri muslim terbentang dari Maroko di pantai barat Afrika hingga Merauke di ujung timur Asia.
Segala perbedaan disatukan persepsinya hanya dengan sudut pandang Islam dibawah kepemimpinan sang Khalifah. Lantas faktanya, persatuan umat dapat terwujud dengan penuh hikmat dan berkeadilan.
Jika memperhatikan hal tersebut, betapa bersahaja umat Islam kala itu. Ditakuti oleh musuh, disegani kawan. Kegemilangan yang seharusnya diraih kembali oleh umat Islam saat ini.
Benarlah kata Imam Ahmad bin Hanbal, 'Dengan tidak adanya kepemimpinan Islam yang mengurusi seluruh urusan umat, akan ada fitnah yang sangat besar'. Salah satunya penghinaan kepada Nabi ﷺ yang secara tidak langsung juga merendahkan Islam itu sendiri.
Sedangkan mengenai hukum Islam bagi pelaku penghina Nabi ﷺ, para ulama' sepakat hukumannya adalah mati. Baik itu pelakunya muslim ataupun kafir. Tetapi beda perlakuan jika objek hinaan selain Beliau.
Jadi ungkapan tiada kemuliaan Islam tanpa syari'ah sesungguhnya tidaklah salah. Tetapi syari'ah tidak akan tegak sempurna tanpa institusi negara yang mengadopsi keseluruhan hukum Islam. Yang kekuasaannya meliputi kehidupan seluruh umat.
Dialah Khalifah yang akan menyatukan dan meneguhkan buih-buih individu muslim, menjadi gelombang besar peradaban. Sehingga jangankan perang, seruan menutup pintu perdagangan antar negara saja akan membuat musuh gemetaran ketakutan. Wallahu a'lam. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Cinta Nabi Tak Sekedar Terucap"