Cinta Nabi Tegakkan Syariat
Oleh: Rini Fahmi Fauziyah
Pada tanggal 12 rabiul awal 571 M lahirlah baginda Nabi Muhammad saw, sosok manusia mulia yang membawa perubahan mulai dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang. Yang kini tanggal tersebut dikenal sebagai tanggal kelahiran Nabi, atau umat islam biasa menyebutnya "maulid Nabi", dan setiap tahun umat islam merayakannya. Begitu pun tahun ini, walaupun di dalam kondisi yang berbeda yaitu kondisi pandemi, namun semangat umat islam tak pernah surut dan tetap memperingati dengan berbagai perayaan, ada yang memperbanyak infak, shalawat, menghatamkan al-quran, dsb. Wah banyak cara yah untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai salah satu bentuk cinta kepada manusia yang mulia ini. Cinta?
Mengatakan cinta kepada Rasulullah rasanya gak afdhol dong kalau ga kenal sosok beliau yang mulia ini, hemmm.. sahabat tentu tahu kan bahwa Rasulullah adalah sebagai penyampai wasilah islam yang diutus Allah SWT.
Oleh karena itu, jika seseorang yang mengaku cinta terhadap Rasulullah maka wajib mencintai dan mengamalkan ajaran Nabi. Cinta bukan sekedar cinta yah sahabat. Tapi cinta juga butuh pembuktian, bukti cinta kita kepada Rasulullah adalah taat kepada syariat yang di bawa beliau. Termasuk sistem pemerintahan yang beliau praktekkan dan itu harus didahulukan di atas ucapan manusia, adat dan kebiasaan manusia.
Sistem pemerintahan warisan Nabi Muhammad saw adalah khilafah. Sistem inilah yang tidak hanya mengatur individual semata, tetapi urusan masyarakat dan negara. Sistem khilafah wajib diikuti, Nabi saw bersabda: "Aku mewasiatkan kepada kalian hendaklah kalian selalu bertakwa kepada Allah mendengar dan menaati (pemimpin) sekalipun dia seorang budak habsyi sebab sungguh siapapun dari kalian berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang teguh pada sunnah ku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan (HR. Ahmad, Abu dawud, At.tirmidzi dan ibnu majah).
Sunnah dalam hadist ini menggunakan makna bahasanya yaitu thoriqoh (jalan/jejak/langkah). Dalam hadist ini Nabi Muhammad saw memerintahkan kita untuk mengambil dan berpegang teguh dengan jejak langkah beliau dan khulafur rasyidin. Perintah ini tentu mencakup masalah sistem kepemimpinan, artinya hadist ini merupakan perintah agar kita mengikuti corak dan sistem kepemimpian khulafaur rasyidin, yaitu sistem khilafah.
Sedangkan orang-orang liberal dan sekuler mereka membenci salah satu syariat Nabi ini. Jangankan syariatnya, Nabi nya pun mereka benci seperti kabar yang baru-baru ini viral disaat umat islam sedang bergembira merayakan kelahiran Nabi, disaat yang bersamaan pula umat islam merasakan marah, sedih dan kecewa yang begitu besar terhadap perlakuan presiden prancis laknatullah Emmanuel Macron terhadap umat islam terutama penghinaannya terhadap Nabi. Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad saw di Carlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat, dia juga mengatakan islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim semakin sulit.
Penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah ini telah memicu kemarahan umat islam di seluruh dunia. Mulai dari negara Arab, Timur Tengah, Turki, Eropa hingga Indonesia. Presiden Turki, Erdogan menyerukan boikot massal semua produk prancis, di Arab Saudi seruan untuk boikot supermarket Prancis menjadi trending kedua pada 25 Oktober 2020. Sedangkan di Indonesia sendiri menjadi trending topic pada 26 Oktober 2020.
Sebagai umat muslim, kita wajib marah bahkan harus bersikap tegas atas penghinaan terhadap Nabi yang terus menerus berlanjut, apalagi yang melakukannya adalah seorang kepala negara. Apakah hanya cukup mengecam dan memboikotnya saja? Besarnya dosa bagi para penghina Nabi, bisa dilihat dari konsekuensinya yaitu hukuman yang sangat keras dan tegas yakni hukuman mati sebagaimana pendapat dari imam malik.
Karena itu, wajib bagi seorang muslim untuk membela agama kita, juga kehormatan Nabi kita yang mulia. Tapi, ketahuilah orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti melakukan penyerangan terhadap agama kita, maka dari itu kita harus memiliki perisai umat yang kuat, perisai itu tidak lain adalah Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Cinta Nabi Tegakkan Syariat"