Mencintai Ulama Tanpa Tapi
Oleh: Choirin Fitri
Mencintai ulama bagian dari keimanan. Mengapa? Karena, Rasulullah telah menetapkan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Para ulama inilah yang memiliki kecakapan pemahaman Islam dan dari lisan merekalah umat Islam memahami agamanya.
Jika kita memiliki kewajiban untuk mencintai Rasulullah Saw tanpa syarat. Maka, kita pun memiliki kewajiban untuk mencintai para penerus perjuangan beliau (ulama) tanpa syarat pula. Tanpa tapi. Tanpa nanti.
Tanpa peran aktif para ulama dalam menyampaikan ajaran Islam sepertinya kita akan menjadi manusia jahil. Manusia bodoh yang tak memahami bagaimana tuntunan Islam dalam berperilaku. Manusia yang tak paham bagaimana cara mengagungkan Rabbnya. Manusia yang tak mengerti cara untuk menggapai Surga.
Sehingga, selayaknyalah yang keluar dari lisan seorang muslim adalah pujian, sanjungan, serta penghormatan pada para ulama. Bukan, malah hinaan, hujatan, atau Bullyan sebagaimana yang dilisankan seorang pesohor beberapa waktu lalu.
Pertanyaannya adalah bagaimana perasaan kita saat ada orang yang menghina ulama? Marah? Sedih? Atau biasa saja?
Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi ukuran seberapa dalam iman kita. Jika kita merasa marah berarti masih ada iman yang tertancap dalam dada. Namun, jika kita merasa cuek dan diam saja, berarti iman kita telah luntur tak berbekas. Nauzubillahimindzalik.
Mencintai ulama tanpa tapi bukan hanya dengan lisan. Tapi, rasa cinta itu diwujudkan dengan perbuatan. Artinya, apa yang disampaikan para ulama yang bersumber dari Alquran dan Assunnah dikerjakan. Tak cukup dikerjakan untuk diri sendiri, tapi juga disampaikan ke yang lain sesuai kemampuan. Sehingga, akan ada estafet pemahaman yang terus bergulir dan tidak berhenti pada satu individu tertentu.
Inilah cara terbaik agar Islam terus hidup. Agama Islam akan sampai pada anak cucu kita jika kita mau melakukan estafet pemahaman. Namun, jika kita mencukupkan hanya sampai pada diri kita, niscaya Islam akan padam. Sungguh, kita tidak menginginkan hal itu terjadi bukan?(reper/ar)


Posting Komentar untuk "Mencintai Ulama Tanpa Tapi"