Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Milenialls Berjuanglah untuk Mewujudkan Perubahan Hakiki


Oleh: Revina Putri H


“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum keadaan miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR al-Hakim). Diantara kita pasti sudah tak asing lagi dengan kutipan hadits diatas. Ya! Kutipan ini sering digunakan untuk memberikan motivasi kepada generasi muda untuk senantiasa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena hidup hanya sekali dan waktu tak akan bisa kembali, apa yang kita tanam dimasa muda itulah yang akan kita tuai dimasa mendatang, terlebih melalui tangan generasi mudalah, arah perubahan bangsa ditentukan. Jika generasi mudanya dilingkupi dengan suasana keimanan perubahan hakiki pasti dapat dirasakan, tetapi jika generasi mudanya dilingkupi dengan spirit kebebasan maka tunggulah saat kehancuran. 


Pemuda adalah harapan masa depan umat. Baik ataukah buruk kualitas yang dimilikinya menjadi penentu masa depan umat ini. Itulah sebabnya Rasulullah senantiasa mengingatkan kaum muslim untuk menjaga masa mudanya, Pemuda sebagai penerus bangsa sudah seharusnya memahami arah perubahan yang benar. Yang dapat menghilangkan segala kedzaliman yang ada dan menegakkan keadilan diseluruh dunia. Hal ini tak bisa jika bersumber hanya dari nafsu semata, tetapi harus berasal dari wahyu Sang Pencipta. Rasulullah sebagai seorang utusan yang menerima wahyu dari-Nya patutlah menjadi teladan bagi generasi muda dalam menentukan arah perubahan yang hakiki. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. Al-Ahzab Ayat 21. Sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum agama Islam muncul di muka bumi, para nabi dan rasul telah diutus untuk menyampaikan wahyu Allah SWT dan syari’at-Nya kepada umat manusia. Para rasul itu adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda. 


Nabi Ibrahim a.s., misalnya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, adalah pemuda yang sering berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan kepada patung-patung yang tidak dapat bicara, memberi manfaat dan mudharat (QS Al-Anbiya:60-67). Kita juga ingat kisah Ashabul Kahfi – yang tergolong pengikut Nabi Isa a.s. Mereka adalah anak-anak muda yang menolak kembali agama nenek moyang mereka, menolak menyembah selain Allah SWT. Mereka bermufakat mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua, karena jumlah mereka relatif sedikit yakni tujuh orang di antara masyarakat penyembah berhala. Fakta sejarah ini terekam jelas dalam Al-Qur’an surat Al Kahfi ayat 9-26, yang di antaranya terdapat dalam ayat 10 dan 13. Sebagian sahabat yang menyertai Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam – yang akhirnya berhasil menguasai lebih dari dua pertiga belahan bumi – adalah para pemuda yang menjadi murid Rasulullah SAW.


Sejarah emas Islam mencatat banyak pemuda yang harum namanya karena memuliakan Islam. Sejak Generasi Sahabat hingga Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel yang menjadi gerbang tersebarnya Islam ke Eropa. Kejayaan Islam banyak digerakkan oleh barisan kaum muda.


Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kahidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, membuat Pemikiran kritis. Karena itulah pemuda disebut sebagai agen perubahan (agent of change). Menjadi motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. 


Namun, potensi tinggallah potensi. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh generasi muda yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.


Jadi, potensi yang dimiliki oleh generasi muda haruslah diarahkan untuk menyokong dan mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Seorang muslim tentunya akan berada di garis depan untuk membela, memperjuangkan, dan mendakwahkan nilai-nilai Islam. Tak terkecuali para generasi muda. Dan tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran umat yang sangat memprihatinkan ini.


Namun jika melihat fakta, pemuda kini telah jauh dari fungsinya. Terutama pemuda islam  ia seolah tak memahami perannya. Terlena dan disibukkan dengan pemahaman yang ditebar oleh ideologi yang berkembang kini. Kapitalistik membuat ia menjadi hedonis, matrealistik, dan liberal. Tanpa disadari hal ini menjadi pola pikir yang mengarahkan setiap tingkah lakunya. Seperti pacaran yang tak memiliki batasan, tak berhijab karena berbagai alasan, dan lain sebagainya. Padahal Islam sudah begitu jelas membatasi. Haram bagi kaum muslimin mengambil pemahaman dan aturan-aturan yang bukan berasal dari Islam. Allah SWT berfirman :

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7)


/Have to doing/


Untuk itu generasi muda harus melakukan sejumlah hal:

• 1. hujamkan keimanan bahwa Islam adalah agama yang paripurna; mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual. Tak ada agama serta sistem kehidupan yang terbaik kecuali hanya Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 85).


• 2. kaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Mereka wajib terikat dengan syariah Islam. Dengan terikat pada syariah Islam, pemuda Muslim akan menilai baik-buruk berdasarkan ajaran Islam. Mulai dari pergaulan dengan lawan jenis, adab kepada orangtua dan guru sampai memilih pemimpin akan dilandasi dengan nilai-nilai Islam.


• 3. Senantiasa memiliki sikap berpihak pada Islam, bukan netral, apalagi oportunis demi mencari keuntungan duniawi. Banyak remaja dan pemuda Muslim hari ini yang hidup bak pucuk pohon ditiup angin. Ke mana angin bertiup ke sanalah mereka terbawa. Pemuda Muslim harus memiliki keteguhan pada Islam hingga akhir hayat.


• 4. Terlibat dalam dakwah Islam demi tegaknya syariah dan Khilafah Islam. Sungguh kemuliaan Islam hanya bisa tampak bila umat, khususnya kaum muda, senantiasa berdakwah untuk menegakkan Islam. Alquran telah merekam keteguhan iman dan kesungguhan perjuangan para pemuda Kahfi hingga mereka mendapat pertolongan dan perlindungan Allah SWT (Lihat: QS Kahfi [18]: 13-14).

Dengan begitu maka peran pemuda sebagai agen perubahan akan berfungsi dan akan membawa umat pada perubahan hakiki menuju peradaban islam yang gemilang.


Kita sebagai generasi muda, agen perubahan, yang di pundak kita itu ada amanah yang begitu besar untuk masa depan umat ini maka masih pantaskah kita untuk berleha, bermalas-malasan, masih pantaskah kita hanya disibukkan dengan permaslahan2 yang ada pada diri kita tanpa memikirkan permaslahan2 yang begitu kompleks yang dialami oleh umat ini, hayu kita bergerak, kita optimalkan potensi yang ada pada diri kita, kita laksanakan tips yang sudah dipaparkan dimateri 


Isi waktu luang kita, manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, waktu muda ini ditanya oleh Allah, mengkaji pehaman islam, mengkaji Islam tidak cukup hanya pada tataran ibadah saja, tetapi mengkaji islam secara keseluruhan, mengkaji bagaimana islam mengatur permasalahan pendidikan, sosial masyarakat, politik dan lain sebagainya, dan yakinkan pada diri bahwa islam lah satu-satunya solusi kehidupan, setelah itu, kita dakwahkan islam ke tengah2 umat agar umat pun memahami apa yang kita pahami sehingga umat pun menginkan adanya perubahan hakiki itu, karena perubahan hakiki adalah dengan menerapkan seluruh aturan Islam dalam kehidupan kita. Ketika kita bisa menjalankan seluruh aturan-aturan Allah dalam seluruh kehidupan kita. (reper/yuni)

 

Posting Komentar untuk "Milenialls Berjuanglah untuk Mewujudkan Perubahan Hakiki"