Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda, "Agent Of Change"?


Oleh: Wa Arny (The Voice of Muslimah Papua Barat) 


Pemuda adalah sosok yang memiliki peran penting dalam suatu negara dan tatanan kehidupan manusia dalam bermasyarakat secara umum. Seperti ungkapan bapak Ir. Soekarno presiden Republik Indonesia yang pertama pernah mengatakan "berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia".  Dari kutipan kalimat tersebut, kita simpulkan bahwa betapa pentingnya peran pemuda dalam suatu bangsa di karenakan pemuda itu di kenal dengan pembawa perubahan selain itu pemuda juga merupakan perwakilan aspirasi rakyat. Tetapi jika di bandingkan dengan pemuda masa kini di mana di lihat tidak serius dalam mengemukakan aspirasinya, seperti berita yang di lansir dari wartakotalive.com (10/10/2020) sebuah aksi goyang tiktok saat demo UU Cipta Kerja di Makassar menjadi viral di media sosial, Video itu menunjukan beberapa mahasiswa berjoget tiktok sambil memprotes UU Cipta Kerja, ada pula mahasiswa yang justru sibuk mengerjakan tugasnya di tengah-tengah aksi demo dan bahkan ada yang meminta rokok ke polisi.


Di lihat dari beberapa fakta di atas tersebut bahwa aspirasi yang dilakukan pemuda saat ini hanyalah isapan jempol semata dimana tidak ada keseriusan serta solusi dalam menangani kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tersebut. Sebenarnya jika di teliti secara mendalam seharusnya para pemuda lebih serius dalam melakukan perubahan di tengah tengah masyarakat dan tau benar letak akar permasalahnya serta memberikan solusi jitu untuk menangani hal tersebut bukan malah menjadikan hal tersebut sebagai bahan penghibur tiktok-an dan bahkan tidak sedikit yang mengikuti demonstrasi tanpa tau permasalahannya.


Terlihat jelas bahwa pemuda hari ini telah terkontaminasi oleh sistem liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi hingga semakin jauh dari islam sehingga mustahil untuk membuat perubahan yang mengakar. William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan Perdana Menteri Inggris berkata “Percuma kita memerangi umat Islam, kita tidak akan menguasainya. Selama di dalam dada pemuda-pemudi Islam masih tertanam Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka. Baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Nabi Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu, tanamkanlah di dalam hati mereka rasa cinta kepada materi dan seks.” Tak hanya itu Napoleon Bonaparte pun mengungkapkan hal serupa. “Selama Al-Qur’an ini berkuasa di tengah-tengah kaum muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan mereka dari Al-Qur’an.” ungkapnya.


Beda hal nya dengan para pemuda dalam islam, dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang nyata bagi pemuda masa kini yang sedang kehilangan tokoh idola positif. Inilah beberapa contoh pemuda Islam di zaman salafus sholeh.


1. Zaid bin Tsabit, 13 tahun. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah sabda Rasulullah. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi (pembukuan) Al Qur’an.


2.Thalhah bin Ubaidillah, 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasulullah pada Perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng Nabi.


3.Al-Arqam bin Abil Arqam, 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah selama 13 tahun berturut-turut.


4. Muhammad Al Qasim, 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.


5. Usamah bin Zaid, 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.


6. Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasulullah sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.


7. Abdurrahman An-Nashir, 21 tahun. Pada masanya kepemimpinannya, Andalusia mencapai puncak keemasan. Ia mampu melerai berbagai pertikaian, dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.


8. Muhammad Al-Fatih, 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.


Jika ingin perubahan bagi bangsa ini,  Seperti inilah pemuda yang harus dicontohi. Menjadi pemuda yang berani membela negara bukan dengan menjadi pemuda TikTok. Sudah sampai dimanakah perjuangan kita para pemuda? Sudah benarkah jalan yang kita ambil? Perubahan seperti apakah yang kita inginkan jika kita hanya disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat? Bangunlah wahai pemuda, tonggak perubahan dunia ada ditanganmu. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Pemuda, "Agent Of Change"?"