Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan dalam Perspektif Islam


Oleh: Ummu Hamnah Azizah Asy Syifa

(Relawan Media dan Opini Konawe)


Perempuan adalah makhluk Allah yang memiliki banyak keistimewaan. Perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan generasi suatu bangsa. Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan anak. 


Oleh karena itu, sangatlah tepat bila Islam menempatkan posisi dan peran ibu sebagai tugas pokok kaum perempuan. Bahkan untuk menjamin terlaksananya peran ini, Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan. 


Sebagai contoh, kebolehan untuk meninggalkan puasa sewaktu hamil dan menyusui, berhenti puasa dan shalat ketika haid dan nifas, hanya boleh digauli suami dalam keadaan suci dari haid dan nifas, dan sebagainya.  


Ibu juga yang memiliki kesempatan untuk mendidik anak dalam porsi yang lebih besar dibanding siapapun. Suatu hal yang salah bila ibu menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. 


Sekolah, dengan muatan kurikulum yang sarat sekulerisme, hanya membentuk aspek kognitif dan memberikan materi sebatas ilmu pengetahuan tanpa disertai dorongan untuk mengaplikasikan.


Akibatnya, anak hanya menjadi buku yang berjalan, dan berangkat dewasa dengan kekeringan agama, moral dan semangat perjuangan.


Perempuan dalam Islam sebagai tiang negara. Sehingga peran perempuan adalah membangun generasi agar kelak melanjutkan estafet dakwah dan pemerintahan dalam daulah.


Beda halnya dalam sistem kapitalisme saat ini. Perempuan hanya sebagai objek eksploitasi dan alat propaganda bagi skenario barat. Pemberdayaan perempuan hanya sebagai kedok agar perempuan lepas dari fitrahnya dalam ummu warabbah albayt.


Para pengemban kapitalisme memprovokasi kaum perempuan untuk keluar dari rumah-rumah mereka memprovokasi kaum perempuan untuk menanggalkan kemuliaan dan keiffahan mereka.


Serta memprovokasi kaum perempuan untuk menanggalkan kebanggaan menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, memprovokasi kaum perempuan untuk membeci Islam yang ditampilkan sebagai penghambat kemajuan dan mendiskriminasi mereka.


Oleh karena itu, yang seharusnya menjadi agenda perjuangan hari ini adalah bagaimana menghadirkan perspektif Islam dalam pengaturan kehidupan umat secara nyata, sehingga kaum Muslim dapat segera keluar dari keterpurukannya dan sekaligus bangkit kembali sebagai khair al-ummah.


Inilah hakikat pemberdayaan perempuan yang sesungguhnya. Tidak harus ditujukan hanya bagi perempuan saja, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Wallâhua'lam. (reper/yuni)

 

Posting Komentar untuk "Perempuan dalam Perspektif Islam"