Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rangga dan Guru Hebat


Oleh: Abdullah Makhrus*


Rangga namanya. Asal Birem Bayeun, Aceh Timur. Masih anak-anak. Tidak lebih dari 10 tahun. Di usia yang sangat belia itu, ia berhasil meraih puncak “prestasi”. Ya, beberapa waktu lalu ia meraih puncak kemuliaan: meraih syahadah. Ia wafat sebagai syahid di tangan penjahat kambuhan, narapidana yang melakukan kejahatan setelah sebelumnya mendapat asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait wabah Covid-19.


Menanggapi hal itu, psikolog Universitas Pancasila (UP) Jakarta, Aully Grashinta menuturkan, apa yang dilakukan Rangga adalah sebuah bentuk perlawanan. Dan untuk melakukan perlawanan sudah pasti memerlukan keberanian yang besar.


“Ada dua hal yang dilakukan oleh seseorang yaitu fight atau flight. Nah yang dilakukan anak ini adalah fight untuk bisa fight memang perlu dorongan keberanian yang besar dari seseorang,” ucapnya.


Di usianya yang masih kecil itu tentunya sangat mengejutkan publik karena Rangga berani melakukan perlawanan terhadap pelaku. Keberanian yang dimiliki Rangga itu, ucap Shinta, tak lepas dari pendidikan karakter yang dimiliki Rangga. 


“Mengingat usianya yang masih kecil, hal ini menunjukkan bahwa dorongan kebenaran dari anak ini cukup besar. Hal ini tentunya didasarkan pada pendidikan karakter yang diterimanya selama ini,” tegasnya. (daerah.sindonews.com,17/10/20).


Miris, terharu, dan ingin rasanya menangis membaca berita yang sempat viral di bulan Oktober lalu tersebut. Betapa tidak, seorang anak dengan sangat gagah berani melawan penjahat dewasa yang bukan lawan tandingnya.  


Saaya menjadi teringat akan pesan Nabi Muhammad SAW,    Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Pertanyaannya. Siapa yang mengajarkan keberanian pada diri Rangga? Orang tua, guru, atau temannya?


Kita tidak pernah tahu, namun yang jelas karakter pemberani  itu tentu tidak bisa diajarkan oleh orang sembarangan. Pasti ada seorang “guru” hebat yang pernah menanamkan benih pesan keberanian hingga menghujam dalam dirinya. Dialah seorang “guru” hebat yang menggerakkan  Rangga membela kebenaran dan melawan kebatilan dengan segenap kemampuan yang ia miliki.


Berbicara tentang guru di hari peringatan Hari Guru Nasional tahun ini. Menurut penulis, guru memiliki makna universal, tidak sebatas yang ada di sekolah formal. Tetapi guru bermakna seseorang yang mengajarkan ilmu dan menuntun kepada kebaikan. Seperti guru ngaji, guru les, guru silat, ustaz, dosen, kiai/ulama, orang tua dan siapapun yang dengan suka cita berbagi ilmu dan menularkan pesan hikmah pada kita.


Itulah sebabnya, mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang begitu mulia? Karena guru adalah seseorang yang dititpkan ilmu oleh Allah SWT dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan ilmu serta mengamalkan kebaikan. Selain itu, guru juga mendidik muridnya untuk menjadi manusia beradab dan memiliki akhlak mulia. 


Maka, jika hari ini di saat semua orang merayakan dan mengucapkan selamat hari guru, mari kita sedikit merenung. Karakter apa yang sudah kita tanamkan pada anak didik kita? Sudah tampakkah akhlak mulia terpancar dalam kesehariannya? Akhlak mulia pada orang tua, kepada kita sendiri sebagai seorang “guru”, bahkan pada masyarakat di sekitarnya. Jika belum, maka ini masih menjadi PR besar bagi kita semua.


Hingga masyhurlah sebuah statemen di media sosial, "Jika anda menjadi guru hanya sekedar mentransfer pengetahuan, maka ada saatnya anda tidak akan dibutuhkan lagi. Karena nyatanya google lebih cerdas dan lebih tahu banyak hal daripada anda! Namun, jika anda menjadi guru yang juga mentransfer adab, akhlak, ketaqwaan dan keikhlasan anda akan selalu dibutuhkan. Karena google tak memiliki itu semua!"


Selamat Hari Guru Nasional. Semoga setiap ilmu yang sudah Bapak/Ibu ajarkan pada anak-anak didik kita, berbuah menjadi mesin jariah yang terus mengalirkan pahala  pada semua guru hebat yang telah ikhlas mengajarkan ilmu dan hikmah dalam membentuk karakter anak didik di seluruh penjuru tanah air. Aamiin. 


Sidoarjo, 25/11/2020. (reper/yuni)


*) Abdullah Makhrus adalah penulis artikel bebas sekaligus penulis buku antologi berjudul "New Class New Soul"

 

Posting Komentar untuk "Rangga dan Guru Hebat"