Teruslah Menulis, Meskipun Ghiroh Menulis Mulai Menurun
Oleh: Mochamad Efendi
Dua Hari ini terasa blank, tidak ada ide untuk ditulis. Setelah memberikan motivasi yang lain agar terus menulis dan berfikir menulis Itu mudah, tapi ternyata diriku merasakan blank, tidak ada ide yang bisa ditulis. Hari ini terasa kosong, benar-benar tidak ada ide yang bisa dialirkan kedalam tulisan. Kubiarkan diriku duduk dikursi dan kupaksa jari bergerak merangkai kata dengan menggunakan HPku. Sesekali kubaca berita di sosmed tapi tidak ada yang menarik untuk ditulis. Padahal saya berjanji untuk tidak melewatkan waktu sia-sia tanpa menulis. "Harus ada ide-ide menarik yang bisa kuikat Hari ini dan siap kualirkan menjadi tulisan yang bisa dibagi pada orang lain", hati bergumam dan berjanji untuk tidak berhenti menulis. Tentunya tulisan yang mengandung Hikmah dan nasehat yang baik yang bisa menginspirasi pada kebaikan.
Sekali lagi jariku terhenti dan menunggu ide yang bisa dialirkan dari kepala dan hatiku. Kosong dan tidak ada ide itulah yang kurasakan. Tapi saya terlanjur menganggap mudah dan meyakinkan orang lain untuk tidak menganggap menulis Itu sulit. Ternyata menjaga kristiqomahan dalam menulis Itulah yang tidak mudah karena sekali kita putuskan berhenti menulis, perlahan api ghiroh menulis perlahan padam. Jangan biarkan padam karena akan butuh energi lebih besar lagi untuk menyalakannya kembali.
Meskipun blank, ide ini harus dipaksa untuk mengalir dan kubiarkan hati-hati ini menuangkan suasana hati dan pikiranku yang lagi lancar dalam merangkai kata-,kata. Mungkin inikah titik jenuh yang kurasakan dalam menulis, tapi janji hati untuk tidak berhenti menulis sudah tertanam dalam hati yang paling dalam.
Dalam kesendirian ini adalah waktu untuk bisa menuangkan ide-ide yang disekitar. Dalam kejenuhan dan kebosanan tidak kubiarkan menghentikan jari-jariku untuk Menulis. Tidak usah diedit, sebelum dua halaman tulisan berhasil dibuat. Mataku semakin lama sulit untuk dibuka. Jari -jari berkali-berkali membuat kesalahan menandakan bahwa rasa lelah semakin membuat diriku terasa berat mengangkat tangan dan menggerakkan jari.
Tapi niat kuat dan tekat di dalam hati membuat diri memaksa untuk terus menulis sampai setidaknya sudah tidak ada lagi yang bisa kualirkan dari isi kepala dan perasaan hati ini. Pada akhirnya menyerah saat lelah dan kantuk sudah menyatu dan mata tidak lagi bisa dibuka. Ya Allah, inilah bukti keterbatasanku sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari rasa kantuk dan tertidur yang memaksaku untuk berhenti sementara.
Setelah tertidur selama beberapa jam badan menjadi lebih segar dan pikiran menjadi fresh, apalagi setelah sholat malam. Waktu yang tepat untuk menulis. Meskipun demikian, sering Kita enggan untuk melakukan karena banyak pekerjaan belum terselesaikan. Luangkan waktu sebentar saja sebelum menyelesaikan tugas yang menumpuk karena tidak segera dikerjakan. Waktu harus digunakan secara maksimal untuk pekerjaan dan banyak hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain sebelum rasa lelah, Malas dan kantuk datang menghampiri kita.
Jaga semangatmu untuk terus menulis dan buang keinginan untuk berhenti menulis karena sibuk, gak punya waktu dan banyak pekerjaan yang melelahkan. Ingatlah, dengan menulis waktumu akan lebih berarti dan banyak manfaat yang bisa kau petik dari aktifitas menulis. Menulis tidak akan membuat pekerjaan terbengkalai karena semua Itu dilakukan disela-sela kesibukanmu. Bahkan, dengan menulis kamu bisa lebih mengatur waktu dan melakukan pekerjaan lebih baik lagi.
Mungkin kamu perlu bergabung dengan komunitas menulis agar semangatmu terus terjaga, tidak mati karena kesibukan dunia. Saling menyemangati, memberikan ide dan terus menjaga idealisme untuk menjadi penulis ideologies. Tentunya pilihlah komunitas penulis ideaogis yang selalu mengkaitkan setiap tulisan dengan Islam sebagai solusi fundamental dan landasan berfikir. Jadikan menulis adalah gaya hidup dan kebiasaan agar bisa menggunakan waktu lebih bernilai dengan karya yang siap untuk menginspirasi umat dengan Islam. Lebih hebat lagi menjadi penulis ideologies yang terus menulis karena idealisme daripada para buzzer dan influencer yang menulis untuk yang membayar.
Terus kutambahkan ide dalam tulisan ini, satu atau dua kalimat bahkan satu paragraf disetiap ada waktu. Meskipun hanya lima meniti waktu terasa berharga jika Kita gunakan untuk menulis. Sampai pada akhirnya waktu untuk mengedit tiba. Kubaca lagi tulisan dari awal. Ada beberapa kata salah ketik dan ada pula yang harus diganti dan ditambah ataupun dihilangkan. Kubaca lagi mungkin masih ada yang perlu diperbaiki sana dan sini.
Cukup sudah saya pikir waktunya untuk mengupload agar dibaca oleh orang lain. Kuniatkan menulis bukan untuk diri sendiri tapi untuk untuk orang lain agar bisa merubah mindset yang masih menganggap menulis itu sulit dilakukan dan butuh waktu khusus sebagai seorang penulis. Menulis juga bukan bakat, kemampuan bawaan tapi kamampuan menulis harus diasah agar semakin meningkat. Kemampuan Itu sudah ada pada diri setiap orang yang terbukti mampu menyampaikan ide-idenya secara lisan. Ayo paksa dirimu untuk menulis dan yakinlah kamu bisa dan perlahan menjadi terbiasa dan suka. Tapi ingatlah jangan berhenti untuk Menulis agar ghiroh menulis tidak mati. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Teruslah Menulis, Meskipun Ghiroh Menulis Mulai Menurun "