Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hanya Ucapan


 

Oleh: Choirin Fitri


"Bro, kenapa sih Loe nggak mau ngucapin selamat Natal ke Gua?"


"Agama Gue nggak ngizinin," 


"Kenapa? Itu kan cuma ucapan. Ngaruh sama keyakinan Loe?"


"Coba deh Loe ucapin syahadat. Bisa nggak?" 


"Ya, nggak bisa. Keyakinan kita beda Bro."


"Kata Loe cuman ucapan. Nggak ngaruhkan sama agama Loe?" 


"Oke-oke, aku paham." 


Yup, memang selintas lalu mengucapkan, "Selamat Natal" hanyalah sekadar ucapan. Tapi, nyatanya dalam ucapan itu mengandung pengertian bahwa kita meyakini bahwa Isa dilahirkan dan menjadi Tuhan. Nyatanya sebagai seorang muslim kita yakin Allahlah Rabb yang layak disembah. Sementara, Isa adalah hanyalah seorang Nabi utusan Allah. Tugasnya adalah untuk menyeru manusia hanya menyembah pada Rabb semesta alam yakni Allah. 


Gegara pemahaman yang salah saat ini kaum muslimin latah ikut-ikutan mengucap ucapan selamat yang melunturkan aqidahnya. Padahal, ketika lisan mengucapkan 'Selamat Natal', itu sama artinya mengucapkan, 'Selamat Allah sudah melahirkan anak'. 'Selamat Tuhan sudah melahirkan anak pada 25 Desember'. Ngeri bukan? 


Ada juga yang berpendapat bahwa boleh mengucapkan selamat Natal karena toleransi beragama. Sebenarnya, toleransi beragama dijunjung tinggi oleh Islam dengan syarat tidak terdapat penyelisihan syari’at. Artinya, bentuk toleransi tidak dengan mengucapkan selamat Natal tapi cukup membiarkan mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka. 


Islam mengajarkan untuk memberi perlakuan baik terhadap sesama muslim dan orang kafir. Seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin. Sebagaimana, Allah Ta’ala berfirman,


لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)


Nah, jadi tidak ada alasan lagi ya untuk mengucap ucapan selamat yang menyalahi aqidah Islam. Apalagi dalam surat Al Kaafirun Allah telah menyatakan bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku. So, kita wajib mencukupkan taat pada Allah sebagai Rabb yang mencipta sekaligus mengatur kita. Tak perlu mengakui Tuhan selain-Nya meski hanya sebatas ucapan.(reper/zia)

Posting Komentar untuk "Hanya Ucapan"