Hati Nurani Ibu dalam Sistem Demokrasi
Oleh: Putri (Santriwati Ponpes Darul Bayan Sumedang)
Ibu mana yang tega membunuh anaknya sendiri? Jawabnya ibu yang hidup dalam tekanan ekonomi dan berbagai masalah kehidupan lainnya di kehidupan sistem demokrasi ini. Sebab bertahan di sistem seperti ini membutuhkan keimanan dan kesabaran yang kuat. Apalagi, bagi seorang ibu, beliau harus mengasuh, mendidik, ditambah perceraian yang marak terjadi, beliau harus mencari nafkah untuk anak-anak nya sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya.
Tak jarang kia temukan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang istri kepada suami dan anak-anaknya. Atau yang saat ini masih hangat menjadi buah bibir di tengah masyarakat, berita seorang ibu berinisial MT membunuh ketiga anaknya di Kecamatan Namohalu Esiwa, Nias Utara, Sulawesi Utara. Polisi pun segera menangkap MT. Sebelum dibawa, ia terbaring disamping anaknya sembari memegang sebilah parang. Paur Humas Polres Nias, Iptu Yadsen Hulu mengatakan dari hasil penyelidikan sementara tersangka tega membunuh anaknya karena masalah ekonmi keluarga. (sumut.inews.id, 10/12/2020).
Hal ini juga sama juga terjadi pada seorang ibu di Tangerang, tega membunuh anaknya lantaran korban susah diajarkan saat belajar online. Peristiwa tersebut terjadi pada (26/8/2020) lalu, dirumah kontrakan Kecamatan Larangan.
Ibunya menganiaya anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1 dengan mencubit, memukul menggunakan gagang sapu, bahkan memukulinya di kepala bagian belakang sebanyak tiga kali. (megapolitan.kompas.com, 16/9/2020).
Mengapa semua ini terjadi disekitar kita? Seolah-olah sang ibu tidak lagi memiliki akal sehat dan hati nurani kepada anak-anaknya. Penerapan sistem salah menjadi penyebab utama semua ini bisa terjadi. Inilah sistem demokrasi, tindakan kriminal mudah terjadi dalam sistem ini, karena menuhankan aturan manusia. Padahal, aturan Sang Pencipta, Allah SWT yang paling benar dan mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Sistem demokrasi telah gagal melindungi rakyatnya, telah gagal memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Lantas dengan apa rakyat bisa sejahtera?
Hanya dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah di muka bumi ini, hidup rakyat terjamin, terlindungi, dan peran ibu pun tersalurkan dengan benar. Tidak usah repot-repot ibu mencari nafkah, karena beban nafkah hanya pada kepala keluarga yaitu suami. Khalifah akan memfasilitasi para suami untuk mendapatkan kemudahan mencari nafkah. Jika pihak-pihak yang berkewajiban menafkahi memang tidak ada, negaralah yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan para ibu. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Hati Nurani Ibu dalam Sistem Demokrasi"