Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibumu Bukan Ibu Sehari


Oleh: Choirin Ummu Mush'ab


Pernahkah kau bayangkan merasa mual, makan tak enak, tidur tak nyenyak saat awal-awal kau hadir dalam rahimnya? 


Pernahkah kau bayangkan membawa beban yang kian hari kian bertambah tapi tak bisa diletakkan barang sesaat? 


Pernahkah kau bayangkan bagaimana rasanya dua puluh tulang sehat yang dipatahkan secara bersamaan? 


Tak pernah bukan? 

Tak ada dalam anganmu bukan?

Tak sanggup kau bayangkan bukan? 


Nyatanya, semua itu telah ibumu rasakan

Ya, dialah yang merasakan betapa penatnya ketika engkau ada dalam rahimnya selama 9 bulan

Dialah yang berani bertaruh nyawa demi hadirmu ke dunia

Dialah yang tak pernah lelah mengasuhmu hingga kini kau dewasa


Namun, sayang seribu sayang

Penghargaan yang kau berikan hanya sehari

Kau ucapkan, "Selamat hari ibu" sembari engkau kirimkan sekotak hadiah tanpa arti


Mengapakah kau setega itu Nak? 

Bukankah ibumu bukan ibu sehari? 


Sembilan bulan lebih ia mengandungmu

Ia pertaruhkan nyawa demi kelahiranmu

Dua tahun ia susuimu

Dan kini ketika engkau dewasa engkau hanya berikan penghargaan sehari untuknya


Bukan..

Bukan itu yang dimaui ibumu Nak

Ia memang tak harap balas jasa darimu

Karena tiap tetes darah dan air mata yang telah tertumpah untukmu takkan mungkin terganti


Ia hanya inginkan engkau menjadi anak saleh

Sebagaimana doa yang ia haturkan pada Rabb Semesta Alam

"Robbi hablii minassholihiin"

“Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih.”


Ibumu akan menangis Nak

Saat ia tahu kini engkau berkubang dalam pergaulan bebas

Engkau menelan narkoba dan menenggak minuman keras

Engkau tinggalkan salat tanpa merasa was-was


Ibumu akan menangis pilu Nak

Ketika engkau campakkan syariat demi maksiat

Ketika engkau jauhi Allah demi kenikmatan dunia sesaat. (reper/yuni)

 

Posting Komentar untuk "Ibumu Bukan Ibu Sehari"