Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Lupa Ucapkan "Insyaallah", Sebelum Berjanji


Oleh: Mochamad Efendi


Sebagai seorang Muslim tidak bisa memastikan bahwa sesuatu akan terjadi atau berjanji akan melakukan sesuatu kecuali dengan mengatakan "Insyaallah", jika Allah menghendaki. Mengucapkan insyaallah bukan berarti main-main dengan janji atau peluang untuk mengingkarinya hanya karena alasan yang tidak syari'. Mengucapkan insyaallah, artinya kita akan sungguh-sungguh untuk mekakukan apa yang kita ucapkan. Janji adalah hutang yang harus ditepati, namun manusia hanya bisa berusaha, hanya Allah Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu termasuk juga apa yang kita ingin lakukan. Semua akan terjadi atas izin dan kehendakNya.


Namun, sering kita dihadapkan fakta di masyarakat bahwa mengucapkan insyaallah ketika berjanji dianggap tidak sungguh-sungguh atas janji yang terucap. Kita dianggap tidak serius dengan janji yang kita ucapkan. Sungguh ini pemahaman yang salah dan harus dirubah. Berjanji atas sesuatu yang belum terjadi harus mengucapkan insyaallah. Artinya bahwa sesuatu Itu akan terjadi jika Allah menghendakinya. Namun Kita jangan mudah mengobral janji, apalagi jika hanya untuk diingkari. Janji adalah hutang dan harus ditunaikan.  


Mengucapkan insyaallah adalah perintah Allah, atas kejadian yang akan kita lakukan. Sungguh ini adalah perintah Allah yang dijelaskan di al-Qur'an, surat al-Kahfi ayat 23 dan 24. Dan janganlah mengatakan sesuatu yang engkau berniat untuk melakukannya, ”aku akan melakukan sesuatu itu besok.” kecuali engkau menggantungkan ucapanmu dengan kehendak Allah. Yaitu engkau mengatakan, ”insya Allah” dan ingatlah kepada tuhanmu ketika engkau lupa mengucapkan ”insya Allah” dan tiap kali engkau lupa, maka berdzikirlah(mengingat dan menyebut Allah) sebab mengingat Allah akan menghilangkan lupa. Dan katakanlah “semoga tuhanku akan menunjukan kepadaku jalan paling dekat yang mengantarkan menuju hidayah dan petunjuk yang lurus.


Jangan hanya karena untuk meyakinkan manusia kita tidak mengucapkan insyaallah, padahal kita tidak bisa memastikan bahwa apa yang kita inginkan bisa benar-benar akan terjadi. Kita hanya bisa mengusahakan dengan janji yang sudah terucap dari mulut kita dan  dibenarkan hati kita. Jangan arogan dan sombong berani memastikan sesuatu akan terjadi sesuai dengan apa yang kau ucapkan atau janjikan, padahal tidak ada sesuatu terjadi di dunia ini tanpa izin Allah. Disini Kita mengakui kelemahan sebagai manusia yang terbatas sementara Allah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.  


Gaes, kita harus rubah satu pemahaman bahwa mengatakan Insyaallah adalah bentuk ketidakseriusan atas ucapkan kita. Jika Allah Berkehendak bukan berarti kita meremehkan atas janji yang kita ucapkan. Bahkan dengan mengucapkan kata Insyaallah, Kita sudah melibatkan Allah dalam janji kita dengan orang lain. Artinya Kita tidak main-main, dan dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan janji Itu. Celakalah, mereka yang berani berjanji tanpa menyebut insyaallah, apalagi jika janji diucapkan hanya untuk pencitraan.


Janji manis diucapkan hanya untuk meyakinkan orang lain. Fenomena Itu nyata ada ditengah masyarakat, bahkan sering dilakukan para pemimpin di negeri ini hanya untuk menarik simpati rakyat agar mau mendukung untuk menggapai kursi kekuasaan. Bahkan janji diucapkan tanpa menyebut Insyaallah karena ingin dipercaya dan dianggap sungguh-sungguh oleh masyarakat. Padahal Allah Maha Tahu dan menyaksikan, janji yang diucapkan didepan orang banyak. Sungguh celaka para pemimpin yang berani berjanji dengan program, visi dan misinya tapi ternyata semua itu hanya pencitraan dan tidak untuk diwujudkan. Mereka juga tidak mengucapkan insyaallah atas janji-janji yang sudah diucapkan.


Gaes, jangan kamu mudah mengobral janji, karena janji adalah hutang yang harus ditepati. Mengucapkan Insyaallah adalah bentuk pengakuan kita sebagai manusia yang punya kelemahan dan tidak bisa memastikan sesuatu akan terjadi. Bahkan  kitapun tidak bisa memastikan  apakah besok masih bisa menghirup udara segar atau tidak. Saat nikmat hidup sudah dicabut, kitapun tidak akan mampu untuk mewujudkan janji yang sudah terucap. Kitapun tidak mungkin mewujudkanya tanpa izin Allah. Kita bisa berencana, tapi Allah yang memutuskan sesuatu itu akan terjadi.


Gaes, jangan main-main dengan janji yang kita ucapkan dan jangan pula pula lupa mengawali dengan mengucapkan Insyaallah. Ini harus dibiasakan dan menjadi identitas kita sebagai seorang Muslim saat mengucapkan sebuah janji. Tapi jangan menggunakan Insyaallah sebagai alasan untuk mengingkarinya. Bagaimana jika orang meragukan apa yang kita ucapkan kerena kita mengawali janji itu dengan insyaallah? Katakan pada mereka bahwa seorang muslim sejati tidak boleh berjanji kecuali dengan mengucapkan Insyaallah dan seorang Muslim sejati tidak mungkin akan mengingkari janjinya kecuali ada alasan syari' yang menghalanginya untuk menempati janjinya yang diluar kehendakNya sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan kelemahan. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Jangan Lupa Ucapkan "Insyaallah", Sebelum Berjanji"