Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebahagiaan Hakiki


Oleh: Naning Prasdawati, S.Kep.,Ns (Pemerhati Pemuda)


Adalah sebuah fitrah ketika manusia hidup di dunia mencintai kenikmatan. Menginginkan kebahagiaan. Cinta harta, cinta prestasi, cinta jabatan, cinta pasangan, cinta kepada anak-anak. Namun akan menjadi fitnah tatkala kita menjadikan kenikmatan dan kebahagiaan duniawi ini tadi diatas segalanya. 


Allah membekali manusia dengan cinta kepada hal-hal diatas, semata demi keberlangsungan hidupnya. Padanya Allah anugerahkan naluri mempertahankan diri yang bermanifestasi cinta harta, cinta prestasi, cinta jabatan dll. Pada naluri kasih sayang Allah anugerahkan cinta kepada orang tua, kepada pasangan, kepada anak-anaknya. Dan kepada naluri menuhankan sesuatu, Allah anugerahkan cinta kepada Rabbnya, kepada pembawa risalah Rabbnya. Dimana semua cinta ini tidak ada yang salah, jika kita mampu menempatkan semua pada porsi yang benar.


“Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara- saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah : 24)


Maka porsi yang benar adalah tatkala semua cinta hanya bermuara kepada cinta yang sesungguhnya, yakni kepada Allah dan RasulNya. Karena hanya dengan cara inilah, keberkahan, kebahagiaan dan ketentraman hidup akan kita rasakan. Apalah arti banyak harta, tinggi jabatan, prestasi gemilang, anak dan pasangan menawan, tapi tidak semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Bukankah ini sebuah musibah?


Dari Uqbah bin Amir ra. Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari perkara (dunia) yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepadaNya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan dari Allah” (HR. Ahmad no 145)


Relakah kita menggadaikan sesuatu yang kekal demi sesuatu yang sementara? Maukah kita disegerakan nikmat untuk hari ini namun kita tidak mendapatkan apa-apa di hari yang abadi nanti? Maka tatkala hati mulai condong kepada cinta yang bersifat duniawi, arahkan cinta itu pada muara yang tepat. Perbanyak mengingat kematian, karena sesungguhnya itu akan melembutkan hati dan meluruskan orientasi hidup bahwa semua milik Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah.(reper/baim)

Posting Komentar untuk "Kebahagiaan Hakiki"