Kitalah Penggerak Perubahan
Oleh: Choirin Fitri (Pemerhati Remaja)
Hijrah adalah perubahan. Berubah dari keburukan pada kebaikan. Berubah dari ahli maksiat, menjadi ahli taat. Berubah dari siap dibakar neraka, menuju generasi perindu dan dirindu Surga.
Berubah menjadi lebih baik itu tak melulu mengikuti tren. Hijab syar'i tren, diikuti. Sedekah Jum'at tren, diikuti. Artis hijrah tren, diikuti. Apapun yang tren, diikuti. Ini perubahan yang cukup baik tapi belum mampu membuat diri benar-benar istiqamah. Karena, suatu saat nanti jika tren berganti, bisa jadi ikutan berganti.
Nah, perubahan yang hakiki itu harus diiringi dengan pemahaman. Kenapa? Karena perubahan tanpa pemahaman akan mudah luntur dan tidak istiqomah. Namun, dengan berubahnya pemahaman, Insya Allah perubahan akan bisa dilakukan terus menerus dan dilakukan karena Allah semata.
Perubahan pemahaman yang benar ini tak bisa hanya dengan belajar mandiri, tapi butuh guru. Guru yang tak sekadar mengajarkan, tapi guru yang mampu mengontrol agar pemahaman yang didapatkan bisa diamalkan dan didakwakan. Jadi bukan hanya sekadar ta'lim (menuntut ilmu) tapi tasqif atau pembinaan. Dengan pembinaan inilah perubahan pemahaman akan seiring sejalan dengan perubahan perilaku.
Trus, jika kita telah berubah, maka itu tak cukup. Kita harus naik step alias level yang tertinggi yakni menjadi penggerak perubahan. Artinya, kita juga ikut berperan untuk merubah orang lain semampu kita.
Kerennya seorang penggerak perubahan memiliki ketajaman telinga serta mata. Ia akan peka dan peduli dengan apa yang terjadi di sekitar. Misal: ada mukena lusuh di Musholla, ia tergerak untuk mencucinya. Ada tetangga yang tak bisa makan, ia tergerak untuk memberi. Ada teman yang tidak mengenal Islam, ia tergerak untuk menyampaikan pemahaman. Ada teman yang pacaran, dia enggan ikutan tapi mau memberi tahu bahwa pacaran diharamkan Allah.
Oh ya, menjadi penggerak perubahan itu bukan hal yang mudah. Ada banyak halangan dan rintangan yang ada di hadapan. Tapi, Allah telah menyediakan surga seluas langit dan bumi bagi mereka yang berjuang.
Allah berfirman, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
(TQS.Ali Imron:133)
Lalu, bagaimana caranya agar kita terus bersemangat menjadi penggerak perubahan maka kita wajib ingat mati. Jangan tunggu tua untuk ingat mati. Karena, banyak kok yang masih muda tapi jatah nyawa telah habis.
Ingat ya! Orang yang senantiasa ingat kematian akan berusaha menjadikan tiap detiknya berada dalam kebaikan. Ia akan memaksimalkan amal salihnya agar menjadi tabungan menghadap Allah. Ia akan memaksimalkan potensi dirinya agar bermanfaat untuk orang lain. Ia akan rakus untuk beramal saleh. Ia pun takkan mudah menunda-nunda pekerjaan.
Kita memiliki teladan terbaik dalam hal ini. Rasulullah Saw. adalah teladan penggerak perubahan sejati. Bayangkan jika kita hidup tanpa beliau. Sebagai muslimah kita tidak akan tahu betapa Islam memuliakan kita dengan kewajiban menutup aurat, meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu, bahkan ibu dihormati 3 kali di atas ayah. Sebagai, laki-laki kita tidak akan faham bahwa Allah telah jadikan laki-laki pemimpin bagi wanita dan Allah memintanya menjadi pemimpin terbaik.
Kawan, kitalah penggerak perubahan itu. Kita harus berusaha sekuat tenaga agar mampu mengubah sahabat kita ke arah kebaikan bukan keburukan. Dari ber-Islam setengah-setengah menuju Islam Kaffah. Dari yang tak paham syariat jadi pejuang taat.
So, lebih baik jadi mantan keburukan daripada mantan kebaikan. Karena, Allah menilai akhir perjalanan kita. Dan, akhir perjalanan hidup kita harus Khusnul khatimah. Mati dalam keadaan taat pada Allah.(reper/az)


Posting Komentar untuk "Kitalah Penggerak Perubahan"