Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Milenial dan Tahun Baru


Oleh: Dea Nurwangi (Santri Ponpes Darul Bayan Sumedang)


Menjelang pergantian tahun, banyak pihak yang ikut ambil bagian dalam merayakannya. Mulai dari resto, cafe, tempat nongkrong anak muda di pinggir jalan hingga stasiun televisi swasta, semuanya berlomba-lomba menggelar acara malam tahun baru yang unik dan menarik.

Tak ketinggalan pula, terutama remaja milenial yang paling heboh kalau urusan perayaan pergantian kalender ini. Mereka merencanakan konvoi kendaraan bermotor sambil tiup terompet atau patungan bareng teman sambil mengadakan acara makan-makan. Ada juga yang punya agenda camping di alam terbuka sambil menikmati malam pergantian tahun. 


Kalau sudah bicara perayaan, pastinya enggak akan jauh dari suasana pesta pora, meski cuman berduaan atau bareng-bareng temen. Itulah tradisi yang tetap lestari dari tahun ke tahun, hatta musim pandemi kini. Covid bakalan enggak digubris lagi, padahal kurva positif terus menanjak hari demi hari. Mereka sudah tidak peduli. Semua dilakukan demi kesenangan belaka. Mereka telah terjerumus dalam gaya hidup hedonisme, hanyut dalam budaya pesta pora dan melupakan bahaya serta akibatnya.


Memang, gaya hedonisme (menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup) dalam diri remaja sudah membudaya. Para remaja  ini menganggap akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin, entah itu menyenangkan orang lain atau tidak, entah itu baik atau buruk yang penting mah happy. 

Dari gaya hidup hedonisme inilah lahir budaya pesta pora. Budaya foya-foya yang menjanjikan kesenangan,  kemeriahan dan hura-hura inilah yang sekarang banyak digandrungi remaja. Kalau sudah kecanduan gaya hidup hedonis, apa saja bisa dijadikan alasan untuk mengadakan pesta pora. 


Untuk mengadakan pesta pora pun tidak sedikit biaya yang akan dikeluarkan. Tentunya mereka akan berusaha mendapatkan uang walaupun dengan cara yang salah/diharamkan. Sampai-sampai banyak dari mereka, menjual diri demi kesenangan semata. Ngeri. Naudzubillahi mindzalik. Hati-hati ya guys!

Selain itu, ternyata perayaan tahun baru masehi juga merupakan budaya/gaya hidup orang kafir (tasyabuh bil kuffar) dan sebagai hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nasrani. Karena perayaan tahun baru masehi bukan hari raya umat Islam, maka sebagai remaja Muslim enggak ada pantasnya kita meniru-niru budaya luar Islam, kayak perayaan tahun baru itu. Kalau kita ikut-ikutan, sama saja kita membenarkan apa yang diyakini oleh penganut agama lain. 


Rasulullah SAW dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama dan kepercayaan lain. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Daud).


Berdasarkan dalil di atas, haram hukumnya seorang Muslim merayakan tahun baru. Misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan dan sebagainya. Semuanya diharamkan karena menyerupai kaum kafir.

Nah, sekarang kita punya alasan kuat biar enggak ikut-ikutan pesta perayaan tahun baru yang merupakan budaya non Islam, menghapus gaya hidup hedonis dan budaya pesta pora yang cuma mengejar kesenangan dunia (baca: fun) dalam hidup kita. Pastinya lebih keren kalau kita isi masa muda dengan kegiatan bermanfaat, seperti rutin ikut kajian dan aktif dalam aktivitas dakwah.


Wahai remaja milenial, yuk sekarang saatnya berupaya mendekat dalam taat dan melaksanakan semua syariat. Dijamin deh hidup kita akan selamat, dunia dan akhirat! (reper/ar)

 

Posting Komentar untuk "Remaja Milenial dan Tahun Baru"