Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gaes, Sudahkah Kamu Beriman dan Berislam Secara Kaffah?


Oleh: Mochamad Efendi


Gaes, sering terbersit dalam pikiran kita untuk apa mengurusi urusan orang lain. Mereka bermaksiat atau berbuat dzalim bukanlah urusan kita. Sudah merasa beriman dan merasa paling baik dan bijak dengan tidak Ikut campur urusan orang lain. Mengaku beriman karena sudah berbuat banyak kebaikan tapi mendiamkan kemaksiatan dan kedzaliman didepan mata. Dan sering menghujat dan menghalangi orang atau kelompok yang dengan lantang melawan kemungkaran. Gaes, apakah benar kita sudah beriman dan berislam kaffah dengan membiarkan kemungkaran didepan mata?


Islam bukan hanya agama ritual yang hanya mengatur hubungan manusia dengan TuhanNya. Islam adalah agama lengkap dan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Semua hal diatur dalam Islam dan tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Islam bukanlah agama individu yang tidak perduli dengan nasib orang lain. Islam mengajarkan kita untuk berbuat banyak kebaikan, tapi juga perduli dengan orang lain dengan mengajak mereka untuk mengikuti hidayah, petunjuk ajaran Islam yang lurus dan mulia.


Gaes, jika kamu mengaku beriman, kamu harus berislam secara kaffah. Mengikuti petunjuk Islam secara utuh, tidak menambah dan mengurangi tidak pula memodifikasi sesuai keinginan hati dan kepentingan kita. Bahkan pemahaman dan pemikiran manusia yang lemah yang harus dirubah agar sesuai dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia. Kita harus menyampaikan kebenaran Islam meskipun hanya satu ayat. Yang bengkok dan menyimpang harus diluruskan dengan Islam agar Islam benar-benar menjadi rahmat untuk seluruh alam.


Geas, jangan merasa sudah paling beriman dan paling bijak serta cinta damai sehingga membiarkan kemaksiatan dan kedzaliman ada disekitar kita tanpa ada usaha untuk merubahnya. Kalaupun tidak bisa dengan tangan kita paling tidak dengan kata-kata bahkan hati kita meskipun Itu adalah selemah-lemahnya iman. Jangan malah menjadi pendukung dalam barisan orang-orang berbuat dzalim. Ingat Gaes, kisah burung pipit yang berusaha untuk mematikan kobaran api yang membakar nabi Ibrahim. Meskipun usaha yang dilakukan tidak akan mampu mematikan kobaran api dengan meneteskan air dari paruhnya, namun ada hikmah dari kisah Itu bahwa bukan hasil yang terpenting tapi keberpihakan kita pada kebenaran itulah yang paling penting. Allah tidak melihat hasil tapi usaha maksimal dari seorang hamba yang ingin membela dan memperjuangkan Agama Allah. 


Bukankah dalam surat al-Asr dijelaskan bahwa orang-,orang beriman adalah mereka yang tidak hanya berbuat banyak kebaikan tetapi juga mereka yang saling menasehati dengan kebenaran Islam dan juga dengan kesabaran. Jadi sudah seharusnya kita harus perduli pada orang lain bukan atas dasar kebencian, tapi kita mengingatkan karena rasa cinta dan perhatian pada sesama agar tidak terjerumus pada kesesatan.  Gaes, kita itu bersaudara bukan musuh yang saling menjatuhkan. Kita harus saling menolong agar bisa bersama-sama kembali ke SurgaNya, sebaik-baik tempat kembali.


Bahkan, Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Menasehati penguasa yang dzalim dengan berani mengatakan kebenaran termasuk jihad bahkan semulia-mulianya jihad. Namun dengan catatan di sini, menasehati mereka dengan cara baik, bukan memfitnah apalagi menyebar hoaks yang mengandung kobohongan. Bukan berarti kita tidak cinta damai, tapi Kita tidak bisa membiarkan kedzaliman ada didepan mata meskipun yang melakukan adalah penguasa. Gaes, memang tidak mudah mengingatkan orang yang punya kekuasaan, tapi Itu harus kita lakukan sebagai bukti keimanan kita yang hanya takut kepada Allah. Bukan pujian dan jabatan yang kita harapkan tapi ridho Allah walaupun tidak menguntungkan kita di dunia bahkan sesuatu yang penuh resiko dan membutuhkan keberanian karena kebenaran hakiki tidak kompatible dengan kepentingan penguasa.


Tentunya Kita menasehati dan menyampaikan sesuatu harus didasarkan pada ilmu. Bukan menyebar fitnah dan kobohongan atas dasar kebencian. Jangan sampai apa yang keluar dari mulut Kita hanyalah dusta. Gaes, oleh karena Itu kita perlu mengaji agar apa yang kita sampaikan sesuai dengan ajaran Islam, bukan sesuatu yang mengada-ngada tanpa ilmu. Dalam sisa umur yang kita punya, Kita harus semangat menuntut ilmu agar semakin bertambah umur, Kita menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu menyampaikan kebenaran Islam dengan ilmu.


Dalam surat ali-Imran ayat 104, Kita diperintahkan untuk berjamaah dalam berdakwah. "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." Apakah kita masih tidak perduli dengan yang lain dan membiarkan kemungkaran terjadi didepan mata kita? Tentunya kita tidak boleh tinggal diam apalagi jika kita menjadi bagian dari kemungkaran. Buktikan keimanan kita dengan berani berislam secara kaffah meskipun terkadang bertentangan kebenaran umum di masyarakat. 


Berislam kaffah adalah perintah Allah. Demikian Allah memerintahkan kita dalam Q.S. Al-Baqarah: 208, "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan...," . Dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini diterjemahkan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya agar berpegang kepada tali Islam. Jadi berislam tidak boleh setengah hati, memilih ajaran yang sesuai dengan keinginan hati, tapi meninggalkan ajaran yang tidak disukai. Semua ajaran Islam harus diyakini sebagai kebenaran yang harus diikuti dan ditaati. Jika belum bisa diterapkan, Kita harus memperjuangkan agar ajaran Islam bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem khilafah rasyidah ala minhaj nubuwwah. (reper/ar)

 

Posting Komentar untuk "Gaes, Sudahkah Kamu Beriman dan Berislam Secara Kaffah?"