Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebesaran Hati Salman Al Farisi


Oleh: Mia Fitriah el.karimah


Siapa yang tidak mengenal kata cinta? Cinta telah hadir sejak zaman nabi Adam diciptakan, cinta juga banyak memberikan inspirasi dan pengorbanan akan tetapi cinta jugalah yang kadang membawa kesengsaraan bagi mereka yang salah mengartikan.


Cinta butuh diperjuangkan. Mulai dari berjuang untuk menemukannya, membuatnya bertahan, membawanya ke pelaminan, sampai menjaganya sampai waktu memisahkan. Namun nggak memungkiri, memperjuangkan cinta bukan hal yang mudah.


Cinta merupakan misteri. Ia bisa datang kapan pun, di manapun dan berlabuh kepada siapapun yang dikehendaki hati. Perkara cinta, apa yang paling membahagiakan darinya. Tentunya ketika cinta itu terbalas dengan indah dan tulus. Tetapi ketika perasaan cinta tak terbalas, maka cinta yang akan mengajarkan kerelaan dan ketulusan.


Kisah tentang sahabat rasul memang banyak menyimpan teladan. Termasuk sepenggal  kisah dua orang sahabat rasul, Salman al-Farisi Ra. dan Abu Darda Ra. yang memang sudah begitu populer.


Salman al-Farisi sang arsitek Perang Khandak yang tengah mencari jodoh. Ingin mengkhitbah seorang perempuan  Anshar,  Salman pun kemudian mendatangi seorang sahabat yang Rasul persaudarakan dengan sahabat yang mulia Abu Darda’. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya saat mengkhitbah. Salman adalah sahabat Nabi  yang telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga)-nya. 


Kedatangan dua orang sahabat Rasulullah diterima baik, Namun, sang wanita itu  lebih memilih abu darda sebagai pengantar Salman dari pada sang khatib, betapa sikap mulia  Sahabat Nabi menunjukan bahwa takdir cinta tidak lah disematkan untuk dirinya, dan keikhlasan itu menyadarkan  bahwa takdir itu bukan lah miliknya.


"Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”


Jika seperti pria pada umumnya  pasti hancur berkeping-keeping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Tetapi berbeda ketika cinta dipandang seorang sahabat Nabi yang mulia. Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta dimiliki,  ia tentu mengetahui bahwa cinta yang haqiqi hanyalah untuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak seharunya kita mencintai apa-apa yang di dunia ini secara berlebihan. Sahabat Nabi ini tidak gelisah karena urusan jodoh sudah ditetapkan, tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Apabila  berjodoh, pasti akan didekatkan sesulit apapun jalannya. Namun bila tidak jodoh, pasti akan jauh  walaupun dipaksakan mendekat.  Percayalah, Allah tidak akan mengambil sesuatu yang baik kecuali diganti oleh hal yang lebih baik lagi. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Kebesaran Hati Salman Al Farisi"