Remaja Tanpa Iman, Hasil Dari Sekulerisme
Oleh: Ikhwatunnisa
Indonesia akhir-akhir ini sedang berduka. Bencana dimana-mana. Bencana yang satu belum dibenahi, bencana yang lain datang silih berganti. Bahkan, bukan nya bermuhasabah diri di era pandemi, kemaksiatan malah semakin menjadi-jadi.
Baru-baru ini terjadi seorang remaja bernama Andhika mencekoki keponakan nya seorang bayi berusia 4 bulan dengan Miras(minuman keras). Diduga motif pelaku adalah iseng belaka. Kejadian ini terjadi di Gorontalo pada Kamis (21/1).
Jika ditelusuri lebih jauh. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di awal tahun 2021 saja. Dilansir dari kompas.com (24/08/2020) dua orang pemuda berinisial FE (20) dan RH (19) ditangkap lantaran mencekoki anak dibawah umur. Mereka merupakan warga Desa Timampu, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.
Bagaimana tidak miris. Menyaksikan kemaksiatan terpampang jelas didepan mata. Sedang efek nya terjadi bukan hanya pada dirinya, bahkan merugikan orang lain. Seolah hidup tak ada tujuan, lupa bahwa dunia hanya persinggahan. Jika permasalahan ini diurai secara rinci, maka kita dapati bahwa kejadian seperti ini lahir dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (Sekulerisme).
Islam hanya dijadikan agama ritual semata. Tak heran jika kawula muda banyak yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim, tujuan nya bukan lagi Syurga. tapi, kenikmatan semata. Remaja disuguhkan dengan tontonan yang tidak menjadikan tuntunan. Sehingga Remaja dibuat tak seimbang antara usia dan kematangan fisik dalam pembentukan pola fikir dan berbuat. Remaja yang sudah baligh harusnya sudah mampu membedakan mana yang benar dan salah. Mana yang baik dan buruk. Karena pada saat usia baligh sudah dikenakan taklif(pembebanan suatu kewajiban bagi seseorang).
Pernah dengar kisah muhammad alfatih? Atau pernah membaca langsung buku nya? Ya, betul sekali . Muhammad Al-fatih remaja berusia 21 tahun yang pada saat itu mampu menaklukan negara adidaya yaitu konstantinopel. Pada 20 Jumadil awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453 M. Di usia nya yang bisa dikatan masih belia. Pada saat itu Muhammad Al-Fatih sudah memiliki kepakaran dibidang Kemiliteran, Ilmu pengetahuan, Matematika dan menguasai enam bahasa saat berusia 21 tahun. Muhammad Al-Fatih di didik dengan keimanan yang kokoh sehingga menjadikannya generasi yang unggul, sholih serta cerdas.
Alhasil dari kisah diatas, kita dapati bahwa untuk membentuk generasi yang unggul, sholih dan cerdas harus lah memiliki pondasi yang kuat dan Aqidah serta keimanan yang kokoh. Serta pentingnya peran Negara untuk andil dalam mencetak generasi unggul.Wallahu 'alam bishowab.(reper/ar)


Posting Komentar untuk "Remaja Tanpa Iman, Hasil Dari Sekulerisme"