Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Arah Pembinaan Gen Z


Oleh: Giriyani SS (Member Revowriter)


Millenials, atau sering kita sebut sebagai Gen Z merupakan ujung tonggak sebuah negara. Tetapi sungguh miris, mereka bagai terombang-ambing oleh zaman. Pemikiran mereka sangat jauh dari agamanya. Tak sedikit Gen Z di era kapitalis seperti sekarang yang menjadi korban keganasan sekulerisme.

Mereka jauh dari agamanya. Yang mereka pikirkan hanya kesenangan belaka. Halal haram tidak jadi prioritas utama mereka. Apapun yang membuat mereka bahagia pasti akan dilakukan, meskipun rambu syariat dilanggar. Tak heran hal ini terjadi, pembinaan Gen Z yang tak jelas arahnya kemana memperparah keadaan ini.


/Gen Z adalah bonus demografi/


Indonesia dikabarkan akan mendapat bonus demografi. Dilansir dari bappenas.go.id Jakarta (22/5), pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Ini merupakan kabar menggembirakan. Disaat beberapa negara di belahan dunia lainnya sangat menantikan datangnya bonus demografi, maka Indonesia dipastikan akan mendapatkannya. Namun, apakah hal ini akan benar-benar menjadi sebuah bonus yang menguntungkan? Atau malah sebaliknya?


/Sekulerisme adalah akar kerusakan/


Faktanya, Gen Z merupakan korban dari sistem penanganan rezim yang abai terhadap generasi di masa pandemi. Istilah "dilahirkan manusia tetapi diasuh oleh media sosial" agaknya sangat cocok disematkan bagi para Gen Z sekarang ini. Negara semestinya lebih memperhatikan para millenials. Jika memang negara menginginkan para millenials ini menjadi sebuah keberkahan.

Permasalahan yang timbul dikalangan millenials belakangan ini adalah buah dari sistem kapitalis sekuler. Kenakalan remaja, narkoba, sex bebas, ada pula yang sampai masuk RSJ karena kecanduan main gadget. Akar penyebab kerusakan ini adalah sistem yang diemban oleh negeri ini. Betapa tidak, sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal inilah yang menjadi penyebab para millenials tak lagi mengenal agamanya. Memeluk agama Islam bukanlah lagi menjadi suatu kebanggan bagi mereka. Ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi yang ada sekarang ini semakin memperparah kondisi remaja yang miskin akidah Islam.


/Islam mencetak Gen Z yang mustanir/


Jika sebuah negeri ini menginginkan bonus demografi yang menjadi sebuah kesempatan emas, maka para millenialsnya a.k.a Gen Z harus menjadi generasi yang mustanir. Mustanir artinya cemerlang. Generasi yang cemerlang merupakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, yang sudah pasti akan memajukan sebuah negara. Untuk mencetak generasi cemerlang ini maka tidak cukup hanya dengan mengingkatkan prestasi akademiknya saja. Namun pola pikir dan pola sikap merekapun harus diisi dengan tsaqofah agama Islam.


Tengok saja para pemuda mustanir yang dilahirkan oleh sistem Islam. Salah satunya adalah Sultan Muhammad Al-Fatih 1453. Beliau merupakan bukti nyata bahwa Islam mampu menghasilkan remaja tangguh yang dapat menaklukkan Konstantinopel. Karena Islam merupakan sebuah mabda yang memiliki seperangkat aturan dalam kehidupan. Para remaja millenials a.k.a Gen Z yang paham akan Islam akan menjadi generasi yang senantiasa memperhatikan rambu dan batasan syariat dalam segala tingkah lakunya. Sistem Islam juga mendidik setiap manusia agar senantiasa tunduk dan patuh kepada sang Pencipta.


/Kesimpulan/


Bercermin dari hal ini, sejatinya para millenials menyadari dan tidak membiarkan dirinya terombang-ambing dalam arus sekulerisme. Hendaknya mereka memegang erat agama Islam, agar mereka dapat membentengi diri dari kerusakan sistem yang merusak. Dengan Islam, mereka akan mampu meningkatkan kualitas diri dan hal itulah yang akan menjadi bekal mereka sebagai bonus demografi yang akan memajukan negeri dan peradaban Islam.(reper/toriq)

 

Posting Komentar untuk "Arah Pembinaan Gen Z"