Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ber-Amal dengan Ikhlas dan Shawab, Check !


Oleh: Fara Lorenza 


Fulan 1:” Kerudung nya sekarang trendy banget. Aku berniat berhijab sekarang”.

Fulan 2: “Hi guys, lagi bagi-bagi sembako nih. Biasa, sultan mah bebas.”  <posting di  MedSos>


Astagfirullah, miris sekali ya Soebat Muslimah. Betapa menyedihkannya hidup di zaman yang dimana panjang angan-angan, hidup segan mati tak mau dan tentu nya penuh kerakusan akan pengakuan yang “wah” dari orang lain. Hal tersebut terjadi akibat dari pemisahan antara agama dengan kehidupan di tengah-tengah umat (baca: sekulerisme), sehingga berakibat pada ketidaktahuan bahkan sampai ‘bodo amat´ dan menjadikan ketidakpahaman fatal terhadap hukum syara’ terkait dengan amalan terbaik yang sering kita sebut ihsanul amal. 


Ketika berkeinginan untuk melakukan suatu amalan, tentu nya juga harus memiliki niat atau tekad atau motivasi yang menjadi latar belakang  dan tolak ukur dalam berbuat. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadis)


Alhamdulillah, niat nya udah tumbuh nih, siap eksekusi untuk melaksanakan amalan. Eits, wait a minute, ternyata bukan hanya menumbuhkan niat saja loh supaya kita bisa meraih amalan terbaik sebagai kaum muslim. Yuk kita perhatikan lebih mendalam lagi.

Dalam Islam, terdapat dua syarat untuk meraih amalan terbaik agar di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala yang wajib diketahui dan dipahami oleh kaum muslim.


Pertama, ikhlas yang berarti tujuannya murni meraih ridho Allah subhanahu wa ta'ala dan bukan mencari pencitraan diri di mata manusia atau untuk mencari keuntungan untuk dunia semata. Kedua, mengikuti sunnah atau tuntunan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam (shawab/benar) yang artinya meneladani Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, Sang lentera penuntun amalan yang telah memberikan petunjuk memilih pilihan yang tepat dengan upaya kita sebagai kaum muslim yaitu mengkaji ilmu Islam.


Antara iklas dan shawab harus berjalan beriringan agar mampu meraih amalan terbaik. Apabila hanya terpenuhi salah satunya saja, maka amalan tersebut akan tertolak. Sungguh akan menjadi sia-sia amalan yang kita kerjakan apabila masih terjebak hanya pada keikhlasan semata tanpa memahami cara ber-amal. 


Sehingga, tidak mengetahui apakah amalan tersebut halal atau haram menurut pandangan syariat Islam. Maka dari itu, wajib hukum nya bagi seorang muslim untuk belajar ilmu syar’i atau istilah keren nya meng-kaji Islam agar dapat mencapai kesempurnaan dalam ber-amal. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


“Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami perintahkan, maka perbuatan itu tertolak.” (HR. Muslim)


MasyaaAllah,  ternyata Islam itu begitu sempurna. Perihal meraih amalan terbaik saja, penjelasannya pun ada sampai detail. Bangga sekali menjadi bagian dari umat Islam. Harus banget ini bersegera meng-kaji Islam secara kaffah. Yup, benar sekali. Tetapi, masih ada yang perlu diperhatikan kembali dan menjadi renungan bagi kita semua. Imam Nawawi mengingatkan kita, 


“Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barang siapa yang ujub dengan amalnya, maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya, maka amalnya pun menjadi terhapus.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 584)


Memang tidak ada yang sempurna apabila menyangkut tentang manusia. Ketidaksempurnaan ini menjadi peluang bagi setan yang akan selalu mencari celah untuk menggoda hati manusia. Apabila manusia tergoda, maka akan muncul sifat riya' atau kita kenal dengan istilah pamer dengan amalan. Dengan begitu, seseorang menjadi bersemangat saat amalannya dilihat yang orang lain. Dan sebaliknya, setan juga menggoda agar seseorang menangguhkan diri untuk beramal dengan membisikkan ketakutan terhadap riya' saat beramal. Ketika godaan itu berhasil, orang justru meninggalkan amalan karena takut dikatakan riya'. Ternyata ada saja rintangan yang harus kita lalui dalam melaksakan amalan terbaik. Maka dari itu, kita harus meneguhkan niat agar selalu menuju ridho Allah dengan meng-kaji Islam kaffah. InsyaaAllah, wallahu a’lam bish-shawab. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Ber-Amal dengan Ikhlas dan Shawab, Check !"