Berhijab, Tapi Akhlaknya Kok Gitu?
Oleh: Neng Ranie SN
Permasalahan hijab sering kali dikaitkan dengan akhlak seseorang. Hingga hampir mencoreng kemuliaan hijab itu sendiri. Sering terdengar kalimat-kalimat cibiran terhadap akhlak seorang Muslimah yang memakai hijab, misalnya, "Pakai jilbab, tapi tingkahnya begitu!", “Buka ajalah jilbabnya ... Percuma pakai jilbab ..., dan aneka celotehan lainnya.
Kini terjadi lagi dan lebih heboh lagi, saat vokalis sebuah grub musik religi berinisial “NS” yang 'katanya' dituduh sebagai pihak ketiga dalam rumah tangga teman segrubnya. Meski belum tahu kebenaran beritanya, tidak sedikit nitizen yang latah memvonis jilbabnya.
Mmm, sebenarnya ada enggak sih hubungan jilbab dengan akhlak seseorang? Biar enggak gagal paham, kita harus paham dulu tentang apa yang telah Allah ta’ala syariatkan kepada seorang Muslimah terkait jilbab dan akhlak.
/Perintah tentang Menutup Aurat/
Allah Ta’ala secara telah memerintahkan Muslimah untuk mengenakan jilbab (gamis). Dalam Kitab-Nya Allah berfirman:
"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Terkait perintah Allah Ta’ala untuk mengenakan “khimar" (kerudung). Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.Dan hendaklah mereka *menutupkan kain kudung kedadanya,* dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali....".(Qs. An-Nuur: 31)
Dari kedua ayat ini telah jelas bahwa perintah menutup aurat secara sempurna (jilbab dan khimar) bagi seorang Muslimah adalah wajib. Semua ulama sepakat tentang wajibnya seorang Muslimah untuk menutul aurat dan tidak boleh ditampakkan kecuali kepada yang berhak melihatnya. Maka dengan dalil ini bisa dikatakan bahwa menutup aurat secara sempurna bagi seorang Muslimah bukanlah menjadi suatu hal yang baik bagi dirinya, melainkan menjadi sebuah kewajiban yang tentu di dalamnya dan bonusnya akan terdapat banyak kebaikan dan maslahat bagi dirinya.
/Perintah tentang Akhlak/
Akhlak secara bahasa berasal dari bahasa Arab ‘khuluqun خُلُقٌ yang artinya: perangai atau tabi’at atau budi pekerti atau tingkah laku.
Akhlaq tercakup dalam bagian syariat Allah, guna mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, posisinya sejajar atau setara dengan bagian hukum syariat yang lain.
Hal ini terdapat dalam al-Qur’an maupun hadist. Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat”. (QS.Shaad : 46 )
Rasulullah Saw. bersabda, Dari sahabat Rasul, Abu Darda` ra bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.” (Hr. At-Tirmidzi 1925).
Rasulullah Saw juga bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (Hr. al-Bukhari dan Muslim).
Penentuan akhlak baik (akhlak al-mahmudah) dan akhlak buruk (akhlak al-madzmumah) ini bukanlah otoritas manusia, melainkan wahyu ilahi, baik itu dari nash Al-Qur’an maupun Sunah. Baik dan buruknya sebuah tindakan bukan karena perasaan dan kebiasaan manusia, tapi ada aturan/syariat yang menetapkannya.
Misalnya: berbuat baik kepada orang tua, menjauhi perbuatan yang menimbulkan penyakit hati, jujur, lemah lembut, tidak ber-ghibah, khusyu saat solat, sikap marah dan tegas terhadap penistaan agama dan Rasul, dan sebagainya.
Jadi, akhlak bisa ada pada diri manusia bila ia beriman. Karena sesungguhnya standar akhlak sendiri adalah bagian dari syariat Islam dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Dari penjelasan di atas, maka pertanyaan, “Manakah yang lebih baik, Muslimah yang berjilbab tapi berkelakuan buruk, atau Muslimah biasa saja tak berjilbab tapi kelakuannya baik?” adalah tidak apple to apple.
Pertanyaan ini tidak bisa begitu saja dibandingkan karena pertanyaan ini saling membenturkan antara yang haq dan yang bathil. Berjilbab dan berakhlak baik adalah perintah Allah. Sedangkan meninggalkan jilbab dan berakhlak buruk adalah tidak disukai Allah.
Jika seorang wanita berhijab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena hijabnya namun karena akhlaknya. “Yang berhijab belum tentu baik akhlaknya, namun yang baik akhlaknya pasti berhijab".
Semestinya berjilbab dan berakhlaq baik harus dilakukan dan diamalkan bersamaan. Muslimah itu harus berjilbab dan berakhlak baik, sebagai konsekuensi berislamnya kita terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Wallahu 'Alam bishowab. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Berhijab, Tapi Akhlaknya Kok Gitu? "