Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cintaku Untuk Negeri di Tengah Pandemi dan Musibah


Oleh: Kak Yuli dan Kak Dia (Member SWI Muslimah Bangil)


Pada awal tahun 2021 kita disambut dengan berbagai bencana, mulai dari pandemi Covid-19 yang belum berakhir, jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang bikin hati nyesek, gempa di Sulawsi Barat, banjir di Kalimantan Selatan dan daerah lainnya, tanah longsor dimana mana. Semua menimpa negeri kita tercinta. Inilah keadaan negeri kita yang tidak baik-baik saja.


Merespon kondisi ini, pada Ahad, 7 Februari 2021 Smart With Islam Muslimah Bangil mengadakan kajian online via zoom yang bertema "Cintaku Untuk Negeri di Tengah Pandemi dan Musibah." Acara dihadiri oleh peserta dari berbagai daerah. Mulai dari Bangil, Rembang, Kalisat dan dari daerah lainnya. Peserta sangat antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir.


Smart With Islam Muslimah Bangil menghadirkan  dua pemateri, yaitu Kak Dia dan Kak Ila. Acara dibuka dengan sebuah pertanyaan oleh Kak Yuli selaku MC. 


“Melihat banyaknya bencana silih berganti yang menimpa negeri kita tercinta, apa hikmah di balik ini semua yang bisa kita petik? 

"Kita bisa bermuhasabah diri. Semakin yakin bahwa Allah sungguh Maha Kuasa, Allah Maha Besar. Dunia dan seisinya bertekuk lutut dengan takdir yang terjadi. Kita semakin sadar dan harus mau mengakui jika manusia itu sebenarnya tidak berdaya. Mau sepintar apapun, sekaya apapun, sesehat apapun.  Ketika didatangkan musibah mereka  menjadi lemah dan tidak beraya. Semua masalah ini bisa diatasi kalau kita saling bahu membahu, membantu, mendukung dengan semangat kekebersamaan," tutur Kak Ila.


"Dengan adanya musibah ini pada akhirnya banyak yang bermuhasabah dan menyadari  bahwa ini merupakan teguran dari Allah disebabkan banyaknya kemaksiatan yang terjadi, manusia sudah melupakan ayat-ayat Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ruum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut akibat dari perbuatan manusia itu sendiri agar  kembali ke jalan yang benar. Tentunya musibah ini juga untuk menguji apakah manusia bersabar atau tidak atas musibah yang menimpa. Dahn yang terpenting adanya musibah ini adalah bukti kebesaran Allah, di mana Allah  berkuasa atas bumi ini dan manusia sebatas makhluk yang sepatutnya tunduk kepada-Nya," jelas Kak Dia. 


Kak Dia juga menuturkan kalau penyumbang kemaksiatan terbanyak itu dari kalangan remaja. Pergaulan bebas (freesex), pornografi, pornoaksi, narkoba, miras, LGBT. Remaja lebih dekat dengan kemaksiatan daripada ketaatan. Hal ini juga didukung dengan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan ajaran agama (syariat Islam) dari kehidupan. Sehingga kemaksiatan dibiarkan terjadi bahkan difasilitasi.


"Kondisi negara kita saat ini serba membebaskan, kemaksiatan banyak dibiarkan seperti zina, pacaran, dan miras. Selain itu, remaja juga dijauhkan dari pemahaman Islam sehingga remaja sekarang jadi alergi dengan syariah Islam," lanjut Kak Ila.


Kak Dia menambahkan, “Sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya kita mencintai negeri kita dengan kembali kepada jalan Allah, meninggalkan segala kemaksiatan terutama di bulan cinta ini (Februari). Jangan sampai kita merayakan dengan perbuatan maksiat yang mengundang murka Allah lebih-lebih kita masih dalam keadaan pandemi.” 


“Sudah saatnya bagi pemuda sebagai penerus peradaban berjuang untuk memperbaiki negeri tercinta yang sedang tidak baik-baik saja ini, dengan cara mengkaji Islam kaffah sebagai penguat iman dan menjauhkan diri dari maksiat. Membudayakan amar makruf nahi mungkar, mengajak orang-orang di sekitar kita kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Bergabung dengan kelompok ideologis yang memperjuangkan tegaknya sistem Islam (pengganti sistem kapitalisme) yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dengan Ini akan menjamin kemaksiatan tidak akan terjadi,” pungkas Kak Dia mengakhiri pemaparan materi pada acara tersebut. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Cintaku Untuk Negeri di Tengah Pandemi dan Musibah "