Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dimana Amal Jariyah Itu?


 Oleh: Irsad Syamsul Ainun (Pegiat Literasi Papua)


Mungkin dari sekian pekerjaan aku hanya fokus pada satu kata ilmu yang bermanfaat. Berpikir keras untuk bisa studi, meraih gelar sarjana dan bisa terjun ke dunia pendidikan. Mengumpulkan kepingan amal yang setiap hurufnya bisa menjadi amal yang tak pernah terputus.

Mendapatkan penghargaan dari manusia, juga posisi yang lagi-lagi bisa dijadikan referensi dalam berbuat juga bertindak. 


Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin Al Khathab Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat, dan setiap manusia mendapatkan sesuai dengan apa-apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.

(Diriwayatkan oleh Imamul Muhadditsin, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husein Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, dalam kitab shahih mereka yang merupakan kitab hadits paling shahih)


Jelaslah apa yang diperoleh sesuai dengan yang diniatkan. Jangan gagal paham ya. Jadi gini saat saya, Anda atau siapa pun itu yang terjun ke dunia pendidikan misallnya jika niat awalnya semata-mataengejar rupiah maka apa yang diajarkan akan memperoleh uang. Dimata Allah tak ada pahalanya. Sia-sianya ya Rabb..

Ya kembali kepada amal jariyah tadi.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya."


/Sedekah Jariyah/


Sedekah jariyah merupakan amalan yang akan terus mengalirkan pahala selama apa yang disedekahkan itu dari sumber yang benar dan cara memperolehnya juga sesuai dengan syariah.


Misalnya membangun masjid, buku bacaan, waqaf tanah, membangun rumah pendidikan, menggali sumur dan lain-lain.


/Ilmu yang Bermanfaat/


Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


سَلوا اللهَ علمًا نافعًا ، و تعوَّذوا باللهِ من علمٍ لا ينفَعُ

“Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat”1.


Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mendapatkan anugerah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang sesuai dengan petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam dan mewariskan amals shaleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala2, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mungkin memerintahkan untuk memohon kepada Allah Ta’ala kecuali sesuatu yang mulia dan mendatangkan kebaikan besar di Dunia dan akhirat.


Tatkala seseorang memiliki ilmu, lalu ilmu itu diajarkan kepada orang lain, kemudian orang tersebut mengamalkan ilmu yang diajarkan maka pahalanya juga akan mengalir tanpa mengurangi pahala orang yang pernah mengajarkan. 


Ketika Anda menyadari potensi diri Anda sebagai pewaris ilmu perlu diketahui bahwa ilmu tidak hanya diatas kertas. Orang berilmu akan senantiasa menundukan hati dan pikirannya kepada hal-hal positif, tidak hanya sebatas ilmu kertas yang ditandai dengan angka tinggi.


Mereka yang berilmu tentu akan diimbngi pula dengan akhlak yang baik seperti ilmu padi. Ilmu bukan hanya dikumpulkan lalu didiamkan begitu saja dengan harapan seseorang akan menjumpaimu untuk belajar. Akan tetapi orang yang merasa memiliki ilmu juga harus mencari mangsa untuk mewariskan ilmunya.


/Doa Anak Shalah/


Isyarat bagi seorang muslim yang telah meninggal adalah adanya orang-orang yang senantiasa mendoakan mereka. Terwujudnya seseorang yang bisa mendoakan ini tergolong sangat rendah saat ini.


Mendoakan tidak cukup dengan menuliskan Al Fatihah di kolom komentar. Sejatinya mendoakn juga harus bisa diungakpan baik dalam hati maupun secara terang-terangan. Sungguh agunglah mereka yang meninggalkan anak-ank shaleh yang senantiasa mendoakan kedua ibu bapaknya.


Meninggalkan anak yang senantiasa mendoakan bukanlah perkara mudah. Orang tua harus bisa menjadi pondasi atau dasar pencetak pertama bagi anaknya agar bisaendoakan.


قَدۡ خَسِرَ الَّذِيۡنَ قَتَلُوۡۤا اَوۡلَادَهُمۡ سَفَهًۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٍ وَّحَرَّمُوۡا مَا رَزَقَهُمُ اللّٰهُ افۡتِرَآءً عَلَى اللّٰهِ‌ؕ قَدۡ ضَلُّوۡا وَمَا كَانُوۡا مُهۡتَدِيۡنَ


Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anaknya karena kebodohan tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan merekayasa kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am:140)


Maka alangkah ruginya kedua orang tua yang sibuk setiap hari mengumpulkan pundi-pundi rupiah sampai lupa mendidik anak-anaknya tentang ilmu agama. 


Kebanyakan orang tua saat ini memperlakukan tempat pendidikan ibarat laundry. Berharap dengan demikian anak-anak bisa menjadi pengusaha, konglomerat dan lain sebagainya.

Ingatlah wahai calon orang tua, juga semua yang kini telah berstatus orang tua. Anak yang shaleh tidak diperoleh dengan mudah. Kontribusi kalian juga sangat menentukan bagaimana menjadikan anak shaleh yang tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga akhirat. Wallahu a'alam bissawab.(reper/az)

Posting Komentar untuk "Dimana Amal Jariyah Itu?"