Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

FRIENDS WITH BENEFITS, IS IT OKAY?


Oleh: Ratna Kurniawati (Aktivis Remaja)


Ngobrolin friendship pasti gak akan ada habisnya sob…mulai dari temen sesama jenis perempuan dengan perempuan atau perempuan dengan laki-laki. Kalo perempuan dengan perempuan biasanya dekat karena sehobi,  satu kelas ato satu kompleks perumahan. Berbeda lagi dengan pertemanan laki-laki dengan perempuan, bisa jadi teman masa kecil yang kini menjadi kakak adek’an ato bahkan yang lagi viral akhir-akhir ini adalah FWB


/Apaan tuh FWB??/


Pertama kali dengar istilah FWB (Friends With Benefits) terus terang persepsi saya adalah berteman dengan mengambil keuntungan.  “Eh, jahat banget ya.  Memanfaatkan teman” begitu pikir saya, polos.  Yah menurut saya keuntungan berupa materi gitu.  Bisa langsung berupa uang, atau materi yang lain.  Begitu saya coba googling, 

 Astaghfirullah.  Ternyata apa yang menjadi persepsi saya tampak lebih polos lagi.

Penjelasan dari psikologi001.blogspot.com bahwa Friends With Benefits adalah budaya di kalangan muda yang sudah banyak merasa muak dengan relationship yang ‘konvensional’.  Maka beralihlah mereka pada sebuah hubungan Friends With Benefits yang biasa disingkat dengan FWB. Adalah sebuah hubungan “teman” yang sangat dekat tanpa melibatkan harapan satu sama lainnya.  Dalam hubungan ini jalinan yang dibangun meliputi berbagi suka duka, diskusi intelektual, atau sekedar main bersama.  Pada akhirnya membawa pada sebuah hubungan yang lebih intim dan berakhir pada hubungan seksual. 


Pada penjelasan lain, FWB tidaklah berbeda dengan TTM (Teman Tapi Mesra).  Mereka yang terlibat FWB bisa melakukan aktivitas fisik yang intim seperti berciuman, bercumbu, bahkan berhubungan seks berkali-kali dengan temannya tanpa ada status pacaran atau hubungan terikat lainnya.  Mereka berinteraksi saat ingin melampiaskan nafsu saja. Dan setelah selesai melakukannya, mereka bertingkah seperti teman biasa meski telah berkali-kali terlibat hubungan fisik yang intim. Dan bisa melakukan hubungan seksual lagi kapan pun mereka mau, sekali pun sama-sama punya pasangan.


Di dalam FWB kita dilarang baper lho guys…no baper-baper club ya guys. Jadi komitmen di awal kalo mau FWB an kudu komitmen bahwa tidak ada rasa diantara kita… Cieelah…

Kalo gue jalan sama cowok laen loe gak boleh baper…terus kalo loe jalan sama cewek lain gue juga gak boleh baper…intinya seperti itu dah…jadi kita kalo mau ketemuan pun kalo ada perlu misal mau having fun ato bahkan having sex…

Widiih…ngeri banget…


Jadi satu cowok bisa punya lebih dari satu nih FWB…terus no komitmen juga buat pacaran ato relation ship yang lebih serius lagi…karena aku cuman mau having fun aja…kalo udah bosan tinggal ganti yang lain..

Kalo udah mulai timbul benih-benih rasa diantara kita tinggal di obrolin lagi komitmen di awal mau lanjut pacaran ato udahan sampe disini…dan memang kebanyakan si cewek yang cenderung auto baperan karena ngerasa diperhatiin mulu…Kalo si cowok mah bebas kalo udah bosen tinggal ghosting ngilang gitu aja ato tiba-tiba lenyap di telan bumi.


/Benarkah FWB merugikan ?/


Fenomena FWB paling sering terjadi pada golongan dewasa muda (usia sekolah menengah atas atau perguruan tinggi) yang masih aktif mengeksplorasi seksualitasnya. Mereka yang menjalani hubungan teman tapi mesra ini pun harus bisa memisahkan antara cinta dan seks yang mungkin akan sulit bagi sebagian orang. Karena hubungan friends with benefits tidak bersifat mengikat, ada sebagian orang yang memiliki lebih dari satu hubungan FWB.  Seseorang yang punya banyak pasangan seks akan lebih berisiko mengalami infeksi menular seksual (IMS). Beberapa penyakit infeksi menular seksual yang mungkin terjadi, yaitu sifilis (kencing nanah), HIV, HPV, herpes, dan lainnya.


Wah ternyata  gaul bebas sudah menjadi perkara yang lumrah dan dianggap wajar di negeri yang mayoritas muslim ini. Contohnya, FWB (Friends With Benefits), ONS (One Stands Night), pacaran, bahkan LGBT(Lesby, Gay, Bisex, Transgender)  mulai banyak digandrungi remaja yan minim agama di negri ini. Padahal  Islam sendiri sudah mewanti-wanti agar kita senantiasa menjauhi segala jalur kemaksiatan. 

“Janganlah kamu mendekati zina , sesungguhnya (zina) itu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”.(QS Al Isra ayat 32 )


Maka terjadilah banyak kerusakan-kerusakan pada remaja sehingga mengundang azab Allah cepat atau lambat di negeri ini, apabila penyelewangan terus dilakukan. Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata, “Jika perbuatan zina tampak di suatu negeri maka Allah akan membinasakan negeri tersebut.” Na’udzubillahimindzalik.


/Why did it happen?/


Gaul bebas yang kebablasan berawal dari rasa cinta atau gharizah nau yaitu keinginan untuk mendorong manusia memperbanyak keturunan atau berhubungan seksual dan kasih sayang. Islam punya solusi yaitu menikah bagi yang sudah mampu dan berpuasa bagi yang belum mampu. Namun, budaya barat dengan medianya baik mulai dari media sosial, tv, majalah dan lain-lain membuat remaja yang minim agama tergerus dan terjerumus pada pergaulan bebas. Apalagi boomingnya virus FWB, TTM, dan LGBT yang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan kerugian besar dunia dan akhirat.


/Hubungan dalam Islam/


Dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat rinci aturannya.  Bahwa laki-laki dan perempuan terpisah.  Kecuali untuk hal-hal yang memang diperbolehkan.  Misalnya dalam pendidikan.  Boleh murid perempuan belajar pada guru laki-laki.  Demikian pula sebaliknya. Dalam kesehatan, boleh saja dokter  memberikan pertolongan kepada pasien meski berbeda jenis kelamin.  Juga pada aktivitas jual beli.  Boleh saja penjual dan pembeli berinteraksi, meski satu pihak laki-laki dan pihak lain perempuan.  Namun semuanya tetap dalam bingkai syariat Islam.  Masing-masing menetapi syariat Allah saat melakukan aktivitas keluar rumah dengan seijin mahram, menjaga aurat, sikap dan kehormatan, semua  sesuai tuntunan syariat. Adapun hubungan antara laki-laki dan perempuan lebih lanjut, berdasarkan aqad syar’i.  Yaitu dalam ikatan suci berupa pernikahan.


Munculnya istilah dan prilaku FWB di kalangan anak muda, tidak lain karena life style masyarakat yang serba bebas (liberal).  Termasuk dalam membangun relasi pertemanan.  Kebebasan telah banyak menciptakan kerusakan pada generasi kekinian. 


Kerusakan moral, menabrak nilai-nilai agama. Bahkan membuat mereka tak merasa perlu ikatan pernikahan, tanggung jawab, kesetiaan dan sebagainya.  Sungguh tak layak, dan mudah menular jika tak segera mencegahnya dengan penerapan Syariah Islam.  Tak bisa mencegahnya hanya dengan nasehat kepada individu, tanpa dibarengi penerapan sistem sosial yang bersih seperti di atas dan sistem sanksi atas pergaulan bebas yang tegas.


/FWB dengan Benefits Syar’i/


Berteman dengan mendapatkan benefits atau keuntungan, sangat dianjurkan dalam Islam.  Bukan dalam rangka memanfaatkan teman dengan niat dan cara yang salah.  Kita bisa mendapatkan banyak keuntungan karena kita berteman dengan orang-orang sholih. 


Allah memerintahkan kita agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar “ (QS. At Taubah :119).

Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda “Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa teman dekatnya” (HR Ahmad).


Abu Darda’ berkata, diantara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama dan teman duduknya. Teman yang dalam perjalanan hidup nanti akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, watak, perilaku dan kebiasaan.  Jika teman kita baik, in syaa Allah kita akan mendapat keuntungan ikut menjadi baik.  Demikian pula sebaliknya.


Demikian pula nasehat dari Imam Hasan al Bashri :

“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman.  Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”.


Demikianlah ajaran Islam, mengajarkan kita untuk mendapatkan keuntungan di dunia hingga di akhirat dengan berteman dengan orang-orang yang shalih.  Sekaligus pentingnya membangun life style Islami dengan sistem Islam yang mampu menjauhkan masyarakat dari kerusakan.(reper/toriq)

Posting Komentar untuk "FRIENDS WITH BENEFITS, IS IT OKAY?"