Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Butuh Sistem Penjaga Kehormatan Diri


Oleh: Yuyun Rumiwati


Generasi adalah aset negeri. Bagaimana kualitas generasi hari ini menjadi salah satu penentu bagaimana kondisi negeri ini ke depan. Untuk mewujudkan generasi yang berkualitas tentu butuh sistem menjaga rasa aman. Tak bisa dibayangkan jika mereka tumbuh dalam susana kekhawatiran dan penuh ancaman. 


Betapa fakta memilukan yang dialami anak negeri seakan seakan tak kunjung henti. Kasus pencabulan pada remaja putri bahkan anak kerap terjadi. 


Baru-baru ini terungkap Aksi pencabulan yang kerap dilakukan pimpinan pondok pesantren di Ngoro, Jombang, Jawa Timur, bernama S (50) akhirnya terbongkar.

Diperkirakan jumlah korban pencabulan itu mencapai 15 santriwati dalam dua tahun terakhir. (CNN Indonesia, 16/2/2021).


Dari fakta ini bisa kita bayangkan kekhawatiran dan kecemasan orang tua terhadap nasib di buah hatinya. Jika di lingkungan yang mereka harapkan semisal pesantren saja belum bisa menjamin kondisi putri-putrinya. Lalu, bagaimana dengan tempat lain, yang notabene lebih bebas dan mengkhawatirkan? 


Dari kondisi ini ada bebepa catatan penting, semoga menjadi perhatian bagi orang tua, masyarakat terlebih negara sebagai penanggung jawab atas nasib generasi.


*Pertama: Pembekalan Pemahamam Islam yang intensif bagi siswa pun para pendidik.


Betapa kita sadari salah satu tindak kejahatan karena rendahnya pemaham Islam di tengah umat. Jika pun mereka pandai secara ilmu semisal pengajar atau guru. Itupun belim memastikan pemahamam yang kuat atas syariat Islam. 


Bisa jadi mereka tahu haramnya zina. Namun sebatas tahu, belum sampai menancap sebagai sebuah pemahaman kokoh yang meniscayakan pelaku berusaha dengan keras melaksanakan pemahan itu.


Justru amat aneh saat ini ulama' atau organisasi yang sangat perhatian terhadap penanaman pemahaman Islan yamg kental dan mendalam justru dicurigai dan dicap radikal.


Tak ayal lagi sebagian masyarakat pun phobia terhadap kajian Islam karena takut jadi radikal. Inilah efek islamophobia.


*Kedua: Empati  keluarga dan masyarakat.


Tak dapat dipungkiri peliknya problem hidup di era kapitalis terlebih masa pandemi. Membuat para orang tua bersibuk dengan masalah pribadi atau ekonomi. 


Perhatian pada anak amat minimal. Maka diambillah langkah praktis menyerahkan sepenihnya urusan pendidikN anak ke lembaga khususnya pesantren. Dengan harapan anam lebih baik dari pada di rumah.


Tentu ini bukan harapan yang salah. Namun, menyerahkan secara penuh. Tanpa pembekalan dan pengawalan secara ketat pada anak juga rawan. Mengingat sistem sejarang tidak "selugu" masa dulu. Sebelum arus liberalisasi menyerbu separah sekarang.


Dari sini oprimalisasi peran orang tua dalam pemantauan pendidikan maupun doa harus berlipat. Begitu pun peranasyarakat untuk saling amara'ruf nahi munkar juga harus digalakkan. Budaya cuek dan permisif terhadap kebebasan pergaulan remaja pun bisa memicu tumbuh kembangnya kebebasan.


*Ketiga: Peran negara menciptakan lingkingan kondusif.


Peran negara sebagi institusi penjaga amat diperlukan. Tontonan yang mrmicu pergaulan bebas sebisa mungkin dibatasi. Termasuk lingkungan dan budaya bebas memicunya juga ditutup rapat-rapat.


Lagi-lagi muncul satu pertanyaan besar. Mungkinkan kondisi di atas mampu diterapkan di tengan sistem kapitalisme sekuler seperti ini? Sedang wadah kebebasan dibuka lebar-lebar atas nama kebebasan. 


Pengaturan sekolah untuk mrnjaga kehormatan pun dipermasalahkam seperti di salah satu sekolah di Padang. Hingga memunculkan SKB 3 menteri. 


Kondisi ini kian membuka kesadaran kita bahwa serangkaian masalah generasi yang datang bertubi-tubi adalah efek dicampakkannnya aturan Allah dalan kehidupan terkhusus dalam kenegaraan. 


Maka tiada lain dari solusi tuntasnya. Selain kembali pada aturan Islam kaffah yang Allah turunkan sebagai rahmad bagi semesta alam. Hingga kondisi yang penuh kecemasan dan ketakutan ini hilang sebagaimana janji Allah dalam Qs. An-Nur : 55


وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ


"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (reper/toriq)

 

Posting Komentar untuk "Generasi Butuh Sistem Penjaga Kehormatan Diri"