Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Krisis Jatidiri Mengintai Generasi


Oleh: Giriyani SS (Member Revowriter)


Generasi millenial, merupakan generasi penerus yang mana kontribusinya sangat diharapkan dalam membangun peradaban. Tentu saja generasi yang dimaksud adalah generasi terbaik. Namun faktanya, sebagian besar generasi penerus ini mengalami berbagai krisis dalam dirinya. Salah satunya adalah krisis jatidiri.


Jika kita teliti lebih jauh, remaja zaman now kebanyakan adalah remaja yang tolak ukur perbuatannya hanyalah kesenangan belaka. Hanya melakukan yang mereka sukai dan apa-apa yang sedang trend. Tak peduli apakah hal-hal tersebut melanggar rambu-rambu syariat Islam. Mencari popularitas adalah tujuan utama mereka. Inilah krisis jatidiri yang mereka alami. Krisis jatidiri terjadi ketika mereka melupakan identitas mereka sebagai seorang muslim.


Para remaja menganggap masa remaja adalah masa senang-senang dan bebas melakukan apapun. Kemudian hal ini diperparah dengan arus informasi yang liberal dan sekuler. Tayangan bebas tanpa sensor menjadi konsumsi sehari-hari mereka. Berbagai aplikasi yang tidak berfaedah juga menjamur di masa sekarang ini. Dan penikmat semua itu sebagian besar adalah para remaja. Pendidikan dan lingkungan yang sekuler juga turut berperan dalam krisis jatidiri yang dialami mereka. Pemerintah pun abai dalam memperhatikan akidah generasi penerusnya, meskipun arus sekulerisme telah menyebar dan merusak para remaja sebagai generasi penerus.


Padahal para remaja yang sudah baligh, mereka seharusnya paham bahwa mereka sudah dikenakan taklif (beban hukum falam melaksanakan kewajiban). Sudah tentu seharusnya mereka menggunakan masa remaja mereka dalam pencarian jatidiri mereka sebagai seorang muslim. Standar kehidupan yang mereka gunakan seharusnya adalah Islam. Namun, dalam sistem kapitalisme, standar pemikiran bukanlah Islam. Ini menjadi penyebab utama segala problematika yang dialami para remaja khususnya terkait dengan jatidiri dan identitas mereka sebagai seorang muslim. Dalam sistem kapitalisme, agama telah dipisahkan dari kehidupan. Islam hanya dianggap sebagai agama ritual belaka. Padahal Islam merupakan seperangkat aturan hidup.


Sistem kapitalisme telah menghasilkan pemikiran sekuler ditengah-tengah masyarakat, khususnya remaja. Inilah penyebab utama rusaknya para generasi penerus zaman sekarang. Jadi tidak heran jika para remaja sekarang perbuatan dan tingkah lakunya sangat jauh dari Islam.


Generasi penerus seharusnya merupakan generasi terbaik. Karena mereka merupakan ujung tonggak sebuah negara. Dan generasi terbaik hanya bisa dihasilkan melalui sistem yang baik sebagaimana sistem Islam. Sudah banyak bukti nyata bahwa Islam selalu mencetak generasi penerus yang terbaik. Para Imam besar, Muhammad Al-Fatih 1453 merupakan generasi terbaik yang dihasilkan oleh Islam. Seperangkat aturan dalam Islamlah yang membuatnya dapat mencetak generasi cemerlang yang dapat meneruskan peradaban gemilang.


Sistem Islam dengan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan sangat mungkin dapat membentuk generasi unggul yang memiliki pondasi akidah Islam yang kokoh. Dengan akidah yang kuat maka tidak akan terjadi krisis jatidiri dalam diri para remaja. Mereka akan disibukkan dengan mencari ilmu dan jatidiri mereka adalah seorang muslim sejati yang pandangan hidupnya seantiasa berkiblat kepada Islam. Wallahu'alam. (reper/ar)

 

Posting Komentar untuk "Krisis Jatidiri Mengintai Generasi"