Malin Kundang di Era Millenial?
Oleh: Neng Ranie SN (Pegiat Literasi)
Hai, sobat remaja. Pasti sudah tahu cerita legenda “Malin Kundang”, kan? Cerita legenda dari Sumatera Barat ini, mengisahkan tentang anak durhaka bernama Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya dengan tidak mengakuinya sebagai ibu kandungnya sendiri. Tak hanya legenda, ternyata legenda kisah Malin Kundang ini bukan hanya ada di cerita saja, melainkan banyak terjadi di dunia nyata. Hah, beneran?
Yapz, ada banyak kasus tentang anak yang tega berbuat durhaka kepada orang tua kandungnya sendiri. Fenomena perseteruan anak dan orangtua yang berujung pidana semakin sering terjadi, salah satunya kasus kakek Koswara. Nasib malang menimpa kakek Koswara yang digugat secara perdata oleh anak-anak kandungnya. Kakek Koswara dituntut membayar Rp3 miliar atas sengketa tanah dan bangunan yang berlokasi di Jalan AH Nasution, Kota Bandung. Bahkan beliau diteriaki dengan kata-kata kasar oleh anaknya (tribunnews.com, 26/01/2021).
Astagfirullah, kok mereka tega yah! Padahal kalau kita diminta untuk membayar apa yang sudah dikorbankan orangtua dalam merawat, mendidik dan membesarkan hingga sekarang, sampai kapan pun takkan sanggup melunasinya. Yekan?
Mmm, mengapa itu bisa terjadi yah? Semua terjadi karena Islam bukan lagi menjadi asas bagi kehidupan manusia, guys. Karena saat ini sistem kapitalisme sekularisme yang diadopsi oleh negara telah meracuni pemikiran masyarakat. Terbukti generasi durhaka merajalela dan enggak ada lagi keharmonisan dalam keluarga.
Sistem kapitalisme menilai segala sesuatunya dari aspek materi, bahkan hubungan dalam keluarga. Hubungan keluarga bukan lagi kasih sayang, menghormati, bahkan peduli. Sistem rusak ini menyebabkan hubungan anak dengan orangtua hanya diukur untung rugi alias asas manfaat. Sistem kapitalisme yang memisahkan aturan agama dari kehidupan menjadikan gugatan sah dilakukan siapa saja dan kepada siapa saja, bahkan orangtua sendiri. Etdah!
Bukan hanya itu, sob. Hak menggugat bagian dari kebebasan individu yang dilindungi undang-undang. Akibatnya, manusia bebas berbuat sesuka hati, tanpa peduli benar salah menurut standar Islam. Enggak ada lagi rasa hormat, menyayangi atau ingin melindungi orangtua. Hiks, miris yah!
Sobat remaja, kita sudah diajarkan dan diperintahkan dalam agama tentang birrul walidain. Birrul walidain artinya berbakti kepada orang tua. Jadi ingat yah sobat, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekadar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, tapi bagian dari perintah Allah Swt. Kedudukannya disebutkan setelah perintah bertauhid. Allah berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23).
Birrul Walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي
Artinya: "Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu guys, pentingnya memahami ajaran agama, jangan sampai kita menjadi the next “Malin Kundang” yang tega berbuat durhaka pada orangtua. Naudzubillah min dzalik.
Nah, dalam hal ini peran masyarakat dan negara juga sangat dibutuhkan. Masyarakat seharusnya aktif dalam beramar makruf nahi mungkar, saling menasihati jika ada yang berbuat kemaksiatan. Begitu pun negara, sebagai junnah (pelindung) ri’âyah (pelayan) berkewajiban menjaga ketakwaan warganya. Dengan adanya sinergi ini dan penerapan Islam kafah, hubungan dalam keluarga akan terjalin harmonis. Wallahu 'Alam bishowab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Malin Kundang di Era Millenial?"