Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Toxic Positivity


Oleh: Na'ilah Nabilah


Dalam istilah psikologi toxic positivity adalah ketika seseorang terus menerus mendorong kita yang sedang ada masalah untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan pengalaman yang dirasakan kita atau tanpa memberi kita waktu untuk meluapkan perasaannya. Atau bisa dikatakan nasehat yang beracun. Banyak orang  menganggap bahwa ketika selalu berpikir positif akan membuat seseorang merasa senang dan mampu mengatasi tantangan yang dihadapi. Hal itu mungkin saja benar, akan tetapi perpikir positif juga butuh etika.


Terkadang seseorang butuh empati, diperhatiin, dedengar dan bukan butuh disemangati juga bukan nasehat-nasehat.


Jika yang disampaikan adalah pesan-pesan positif secara langsung, seperti : jangan menyerah! tetap positif! kamu kurang bersyukur sih! yaelah, coba lihat yang lain, ada yang lebih terpuruk dari kamu! alah, segitu aja udah nyerah! jangan lemah! dsb.


Apakah pesan-pesan positif ini akan tersampaikan dan akan diterima dengan baik? bagaimana jika kita diposisi terpuruk, apakah itu yang kita inginkan?


Tapi bukan karna itu berarti kita boleh berlindung dibalik terminologi toxic positivity, yang mana acuh, cuek, dan gak peduli cuma karna pesan2 itu kita dapat di waktu yang tidak tepat.


Lantas apa solusinya? Untuk menghindari toxic positivity kita harus mencoba untuk memilih lingkungan sosial yang membuat kita bisa berkembang. Izinkan diri kita untuk merasakan sedih, kecewa, marah, dan emosi negatif lainnya. 


Karna merasakan emosi tidaklah salah, dan justru bisa membuat kita mampu memahami kondisi diri kita yang sebenarnya.


Kalau kita memendam atau mengacuhkan emosi kita, bisa jadi suatu saat nanti yang kita pendam akan membludak, misal, awalnya anak baik-baim tiba-tiba jadi jahat, usil, atau nakal.


Meluapkan emosi bisa dengan bercerita, berdiskusi, dsb. Akan tetapi perlu di perhatikan siapa orang kita ajak diskusi atau ajak bicara, pastikan dia bisa memberikan solusi, juga menjaga pembicaraan kita, pastikan juga dia bukan orang yang toxic positivity. Karna alasan diatas.


Meluapkan emosi bukan berarti kita lemah, karna itu manusiawi. Meluapkan emosi tidaklah salah, karna disana kita bisa mencari solusi yang bisa jadi belum terpikirkan, disana kita merasa lega. Karna sejatinya saat kita sedang emosi, akal dan hati nurani kita tertutup, bisa diibaratkan dalam otak kita ada benang yang sedang membelit, dan kita butuh seseorang untuk membantu kita menguraikannya.


Ini berkaitan dengan fenomena psikologis manusia yang dikenal dengan Amygdala Hijacking, yang mana terjadi dalam diri kadar emosi yang berlebihan sehingga menutup akal sehat dan hati nurani. Disaat seperti ini akal dan hati nurani sudah tidak memiliki tempat dalam mengendalikan diri kita. Ini adalah kondisi ketika logika kita 'dibajak' sama emosi sesaat. Ini juga alasan ketika orang jatuh cinta atau nge-fans sama sesuatu atau orang susah untuk diajak berpikir.


Meluapkan emosi juga bukan hanya untuk seseorang yang tak tau arah, buta, tersesat dalam pikiran sendiri, tidak punya solusi. Tapi, boleh juga bagi yang sudah punya jalan, punya solusi untuk meluapkan emosi untuk membuat diri kita lebih tenang, lebih bisa menerima diri, menerima keadaan, dan itu akan kita dapat dengan kerasionalan yang bisa diterima akal dan hati nurani kita atau membuka akal dan hati nurani untuk merasakan kelegahan.


Jangan mengacuhkan api dalam rumah, jangan juga mengacuhkan emosi dalam diri kita sebagai manusia yang lemah. Karna kedua itu akan membesar dan membawa bencana. Sadari, padamkan, dan jangan lupa action.


Karna jika kita jatuh, itu artinya kita juga butuh bangkit dan melesat lebih jauh. Itulah arti dari keterpurukan yang kita dapat. Seperti halnya panah, dia butuh mundur untuk melesat lebih jauh, begitu juga mutiara dia harus menahan perihnya pasir yang masuk agar menjadi mutiara yang mulia. Begitu pula kita manusia, kita butuh jatuh untuk sadar bahwa kita lemah, dan butuh yang lain dan butuh yang lebih dari kita, yaitu; Alloh. Ketika merasa terpuruk disaat itu kita juga seharusnya merasa bahwa kita hanya makhluk, seorang hamba, yang butuh tempat bergantung.


Kita bisa melihat contoh dari tauladan kita, Khadijah istri Rosul, saat Rosul menerima wahyu, Rosul pulang dengan keadaan hati yang tak karuan. Lantas apa yang dilakukan Khadijah? beliau menyelimuti Rosul, menenangkan, dan tidak langsung menanyakan apa yang terjadi, tidak pula 'langsung' memberi petuah positif.


Bagaimana jika kita menerima curhatan? Karna orang yang sedang emosi butuh empaty, maka kita bisa mencoba untuk berpikir dan membayangkan diri kita ada di posisi dia, bagaimana dan apa yang ingin kita dapatkan jika sedang kesusahan kemudian curhat, pastinya didengarkan, dimengerti, diperhatikan, dan dituntun untuk mencari solusi juga untuk menerima diri dan situasi.


Terakhir, untuk toxic positivity. Ucapan atau nasehat-nasehat positif tidak pernah punya sisi gelap, tapi kadang hati memang memerlukan cahaya pada waktu yang tepat. Seperti halnya kue manis, di tak akan pernah hilang rasa manisnya, hanya saja jika diberikan kepada seseorang yang sedang sakit gigi, apakah itu masih terlihat indah baginya? sembuhkan dulu sakit giginya. Pun mutiara dia tak akan pernah hilang posisinya yang mulia, namun jika diberikan dengan cara melempar tiba-tiba apakah orang itu reflek dengan muka senang? tentu tidak.


/Nasehat itu punya etika, diantaranya:/


1. Perhatikan zona waktu, kapan kita memberikan nasehat. Tidak disaat tergesa-gesa, tidak juga di saat emosi memuncak.


2. Perhatikan zona tempat, dimana kita memberikan nasehat. Tidak ditempat keramaian, karna imam syafii mengatakan :'seseoramg yang menegurmu di tempat ramai, dia bukanlah berniat untuk menasehati, melainkan untuk mempermalukanmu'.


3. Perhatikan zona situasi, bagaimana keadaan dia, perasaan dia. Tidak menasehati dengan kata-kata to the point disaat dia berada di situasi terpuruk.


Dan tidak pula di waktu, tempat, dan situasi yang tidak mengkondisikan nasehat itu perlu disampaikan dan akan diterima dengan baik.


/Ketika menasehati kita juga harus memperhatikan :/


1. Niat yang ikhlas, dan cara yang benar, yaitu mengharap ridho Alloh dan dengan cara yang di ridhoi.


2. Tidak dalam rangka mempermalukan, yakni mengingatkan di depan umum.


3. Menasehati dengan cara yang pas, setidaknya mengurangi hal-hal yang bisa menyakiti hati. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Toxic Positivity"