Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Isra' Mi'raj Abad 21


Oleh: Santri 2 KMI NDM Surakarta


Orang tua kita mengisahkan, tentang Nabi yang melakukan safar semalam, dari masjid al-haram ke masjid al-aqsha, menuju langit ke tujuh, sebagai pelipur lara setelah datangnya tahun kesedihan. 


Guru-guru kita mengisahkan, bagaimana Jibril A.S mendatangi Nabi. Sejarawan-sejarawan kita mengisahkan tentang Rasul yang dijadikan imam atas Nabi-Nabi terdahulu, saat sholat berjamaah dalam singgah singkat beliau di masjid al-aqsha. 


Riwayat-riwayat kita mengisahkan, bagaimana Jibril A.S menjawab pertanyaan para Nabi disetiap lapisan langit. Terhatur salam dari Nabi Adam, Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, dan terakhir Nabi Ibrahim. Semuanya mengisahkan pada kita, tentang sholat yang menjadi buah tangan teristimewa, atas pertemuan Rasulullah SAW dengan Rabbnya. 


Semuanya mengisahkan kepada kita, orang tua, guru-guru kita menceritakannya, buku sejarah yang berulang dibaca, pelajaran dikelas, bahkan diperingatkan setiap tahun. 


Lantas mengapa? Tadzkirah isra mi'raj itu berulang kali disebut, diperingatkan. Namun hanya lewat tak berbekas dalam benak kita?!. Telinga kita mendengar, namun hati kita tuli akan ibroh didalamnya. Pikiran kita bosan menyimaknya, namun aksi kita terbata dalam latah kehidupan. 


Kita mengabaikan kisah yang begitu luar biasa agung, yang menakjubkan akal bahwa kuasa Allah atas segalanya. Akal kita tidak dapat melampaui, bagaimana seorang insan mulia bersafar puluhan, ratusan bahkan jutaan tahun perjalanan dalam satu malam. Kita lengah, bahwa isra mi'raj adalah bukti bahwa ilmu Allah sangat luas tak bertepi, Ia mengajarkan banyak teori ilmu, tapi lebih banyak lagi yang masih menjadi misteri. Dan yang paling kita lalaikan, fakta bahwa Rasullulah SAW dipilih menjadi imam atas para nabi terdahulu. 


Dr. Muhammad Rawas Al-qol'ahji menuturkan, kejadian ini menjadi tanda bahwa tugas besar mengemban risalah telah terpikul dalam pundak mulia Nabi Muhammad SAW dan tugas inilah yang diwariskan kepada kita, ummat Muhammad SAW. Sebagaimana termaktub dalam Q.S Ali Imran ayat 110 : 


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. "


Ayat Allah tersebut, telah menobatkan kita sebagai khairu ummah yang memikul tugas mulia lagi penuh rintangan. Ya, amar ma'ruf nahi mungkar, menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk. Tugas berat yang meniscayakan jalan penuh halang rintang, ujaran kebencian juga cacian. Tugas yang diatasnya sejarah mengabadikan pengorbanan para nabi dan rasul, darah para syuhada, gurat lelah para da'i dan ulama. Tugas yang bahkan gunung dan bumi tak kuasa memikulnya. Apakah kita lupa posisi kita sebagai khairu ummah? Terlena dalam nikmat fana, dengan entengnya meninggalkan syariat Allah, memilih-milihnya bahkan menjual-belikannya. 


Maka sampaikan pada dunia bahwa Islam adalah haq dan tinggi tanpa ada yang menandinginya. Serukan bahwa kita harus bersatu dalam sebuah institusi bermanhaj Rasul yang akan menyatukan langkah dan barisan kita dalam menyerukan kebenaran. 


Sangat banyak tokoh yang patut kita jadikan contoh kepada siapa kita bercermin. Maka jadilah Abu Dzar Al-ghifari abad 21 yang tanpa ragu meneriakkan kebenaran walau tubuhnya lebam penuh luka. Jadilah Asma' binti Yazid abad 21 yang dengan berani menjadi corong aspirasi muslimah zaman Rasulullah saw. tanpa menodai muru'ahnya sebagai muslimah terhormat.


Lantas, apa peran kita? Sebagai seorang remaja islam, sudah seharusnya kita mengkaji tsaqofah islam, serta menekuni ilmu yang lausnya melebihi lautan. Serta tanpa ragu menyampaikan kebenaran. 

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا


Sampaikanlah kebenaran, walaupun pahit. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Refleksi Isra' Mi'raj Abad 21"