Anak Muda Melek Politik Islam? Why Not!
Oleh: Feny Nur Amalia (Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)
Banyak anak muda intoleran dalam hal politik, dibandingkan intoleran pada praktik ritual sosial keagamaan. Hal ini menjadi temuan dalam hasil survey suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021.
“Isu-isu politik jauh lebih tinggi tingkat intoleransinya ketimbang intoleransi pada tingkat keagamaan,” Ujar Burhannuddin dalam rilis hasil survey secara daring. Sebanyak 62 pesen anak muda menyatakan tidak keberatan apabila non-Muslim membangun tempat ibadah disekitar tempat tinggalnya. Ada 16 persen yang keberatan dan 18 persen menyatakan tergantung (republika.co.id, 21/3/2021).
Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sedangkan sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi suah cukup baik mendengar aspirasi.
Hasil survei juga menunjukkan hanya 3 persen anak muda yang sangat percaya pada partai politik. Sebanyak 7 persen sama sekali tidak percaya. Sementara sebanyak 54 persen anak muda masih percaya pada partai politik (merdeka.com, 21/3/2021).
/Kesalahan Politik Saat Ini/
Suara anak muda tentang isu-isu sosial, politik bangsa semakin banyak diperbincangkan. Bahkan ditemukan anak muda sebanyak 42,8 persen tidak punya pilihan politik. Karena bisa jadi mereka tidak tahu partai politik yang akan mereka pilih, atau bisa jadi mereka memang tidak ingin memilih partai.
Survei yang memperlihatkan fakta bahwa anak muda lebih intoleran terhadap keagamaan. Sebanyak 62 pesen anak muda menyatakan tidak keberatan apabila non muslim membangun tempat ibadah di sekitar tempat tinggalnya. Terdapat sekitar 16 persen yang keberatan dan 18 persen tergantung. Maka anak muda dapat dikatakan intoleran terhadap keagamaan dibandingkan pada bidang poitik, walaupun tingkat intoleran mereka lebih rendah.
Anak muda banyak melihat kepalsuan dalam politik. Terlihat dari kepercayaan anak muda terhadap politisi dengan keagamaan. Dari situlah isu keagamaan lebih banyak diangkat, meskipun para aktor politisi banyak bicara tentang rakyat untuk rakyat, dan pada akhirnya sekedar untuk perut sendiri. Sebaab itu, anak muda tidak mengambil peran dalam bidang politik. Karena pada dasarnya politik yang di bawa berasal dari barat dengan sistem cacatnya.
Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan agama Islam dipandang istimewa oleh masyarakat. Namun, anak muda yang semakin enggan dalam berpolitik, malah membawa isu agama untuk menyerang sana-sini atau bahkan hanya mencari keuntungan di kubu mereka sendiri.
/Politik dalam islam/
Secara bahasa, politik (siyasiyah) adalah mengurus kepentingan seseorang. Dalam pengertiannya adalah ‘pemeliharaan atau pengurusan’. Sedangkan menurut istilah siyasah adalah mengatur aatau memelihara urusan umat luar atau dalam negeri dengan aturan islam.
Dalam hadist terdapat penegasan terkait tugas politik. Bahwa tugas politik ini merupakan kerja para nabi yang mengurus, mengatur, dan memelihara urusan umat dengan aturan Allah Swt., Termasuk tugas mulia setelah sepeninggalan Nabi Muhammad SAW., melalui politik Islam yang disebut sebagai negara Islam yaitu Khilafah.
Dapat dikatakan pula jika politik dan agama ibarat dua anak kembar, yang mana tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Maka tugas politik dalam Islam wajib hukumnya, agar dilaksanakan oleh umat Islam dalam kapasitas mereka sebagai pemerintahan, partai politik maupun rakyat biasa.
Politik Islam menitikberatkan nilai kemanusiaan tanpa memandang bangsa maupun agama. Seperti pada masa pemerintahan sultan Bayezid II, beliau telah menyelamatkan 1500 pelarian yahudi daripada kekejaman raja Ferdinand dan Ratu Isabella yang menaklukan Andalusia lalu memaksa orang Islam dan yahudi agar menukar agama kepada kristiani atau mereka akan dibunuh. Mendengar kabar tersebut sultan Bayezid II memberi perlindungan dan hak yang sama seperti rakyat lainnya.
Tidak hanya kejadian itu saja, banyak contoh lain yang dilakukan dalam politik Islam, yang mana tugas politik sangat mulia dihadapan Allah Swt. Dan dengan begitu politik islam dapat menyejahterakan rakyat dalam naungan Khilafah. Jadi, berdasarkan fakta tersebut politik yang agung dan mulia akan didambakan oleh semua umat manusia, bukan hanya umat Islam.
Maka jelaslah bahwa tekad anak muda dan umat saat ini sangat kurang, bahkan abai terhadap politik. Karena politik barat yang saat ini diterapkan sangat bertentangan dengan Islam. Dan menjadi malapetaka bagi umat islam karena kemuliaan Islam dicabut di dalamnya. Wahai anak muda, tugas politik demi kembalinya khilafah merupakan tuntutan mendesak bagi umat Islam saat ini. Allah berfirman; “Dan bagi Allah kemuliaan itu dan bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Munaafiqun:8).
Wallahu ‘alam. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Anak Muda Melek Politik Islam? Why Not!"