Gadget, Bikin Untung Atau Buntung??
Oleh: Surya (The Voice of Muslimah Papua Barat)
Dalam beberapa dekade ini, teknologi di dunia berkembang dengan sangat pesat. Sebagian besar masyarakat mendambakan kemudahan dari teknologi ini, salah satu wujudnya adalah dalam bentuk produk yang digunakan dengan istilah gadget. Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Contoh gadget di antaranya telepon pintar (smartphone) seperti iphone & blackberry, serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet). Gadget hadir guna memberi kemudahan bagi penggunanya dalam hal berkomunikasi, mencari informasi, hiburan atau aktivitas lainnya. Gadget seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak yang lahir di zaman milenial saat ini. Namun adakalanya sesuatu yang baik juga dapat berubah menjadi tidak baik karena diakibatkan pemanfaatan yang kurang bijak. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi orang tua, penting untuk mempertimbangkan sikap, persepsi dan keyakinan orang tua dalam menggunakan teknologi baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota keluarga yang lainnya.
Anak adalah salah satu konsumen terbesar pengguna gadget saat ini. Diperparah dengan terjadinya pandemi Covid-19, yang mengharuskan anak-anak bersekolah dari rumah secara daring, sehingga penting untuk menggunakan gadget. Persentase pengguna gadget yang termasuk kategori usia anak-anak dan remaja di Indonesia cukup tinggi, yaitu 79,5 % berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Informasi dan Unicef pada tahun 2014. Dilansir dari m.liputan6.com. Dengan gadget, anak pintar memilih informasi, berpikir kreatif serta lebih kritis, meningkatkan kemampuan berbahasa dan lainnya. Namun ada juga sisi negatif dari gadget jika digunakan secara berlebihan, dampak negatif yang merusak bukan hanya mental tetapi dapat berupa kerusakan fisik. Seperti resiko terkena radiasi, kecanduan, lambat memahami pelajaran, resiko penyalahgunaan, kurang interaksi sosial, kurang berempati, meningkatkan level kecemasan dan depresi, sakit mata, kelumpuhan syaraf dan lainnya.
Gadget didukung dengan berbagai aplikasi yang menarik. Sebut saja permainan, media sosial hingga aplikasi viral yang salah satunya adalah TikTok. Aplikasi ini tak cuma sebatas mengajarkan gerakan tarian, kini TikTok juga kerap digunakan untuk aktivitas demo masak hingga sekadar curhat. Banyak juga fenomena yang terjadi akibat TikTok. Misalnya beberapa waktu lalu, seorang gadis remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengunggah aksinya setelah membunuh seorang bocah 5 tahun yang adalah tetangganya. Ada pula kasus tindakan asusila yang sengaja direkam di TikTok. Dengan sering beredarnya video-video yang nantinya tidak pantas ditonton dan dilihat, sudah pasti berpengaruh sedikit banyaknya merusak moral dan perilaku anak. Negara pun terkesan abai dengan hal ini. Terbukti dengan tidak adanya pembatasan aplikasi atau konten-konten yang minim faedah. Yang akan membuat makin merosotnya moral generasi penerus. Berbeda dengan sistem islam yang begitu memperhatikan kualitas generasi mudanya. Yang sedari awal dididik dengan intensif agar menjadi generasi yang tidak hanya memiliki spiritual yang tinggi namun juga gemilang secara akademis. Salah satu tokoh Islam, yaitu Imam Syaf’i dapat menghafalkan Al-Qur’an pada usia beliau yang masih 7 tahun. Karena ibunya adalah seorang hafidzah yang mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam seminggu. Dimasa itu, saat daulah islamiyah berkuasa sudah menjadi kewajaran anak usia dini menghafalkan Al-Qur’an.
Kaum muslimin saat ini justru mengalami kemunduran, bermain gadget berjam-jam, menghafalkan lagu dan berjoget-joget adalah hal biasa. Padahal nasib suatu peradaban tergantung kepada kualitas penerusnya. Sehingga islam tidak membiarkan adanya aktivitas sia-sia yang dilakukan oleh umatnya. Negara bertugas menjaga masyarakat agar tidak terjerumus pada hal yang bersifat maksiat & haram. Media yang ada saat ini berpotensi merusak serta meracuni akal dan moral para generasi muda melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik dengan memberikan tayangan-tayangan yang tidak berfaedah, mengumbar syahwat dan kekerasan. Ungkapan ini terjadi saat ini dimana "barat semakin maju saat meninggalkan kitab sucinya, sementara islam justru semakin terpuruk saat umatnya menjauhi Al-qur'an". Hanya dalam sistem islam segala permasalahan akan tuntas, peran negara akan maksimal menjamin kehidupan rakyatnya. Sehingga dapat hidup dengan kemuliaan. Karena syariat islam bukan hanya bagaimana individu menjadi baik, namun juga perlu lingkungan yang islami serta peran negara dalam membuat kebijakan yang berfungsi sebagai pelindung untuk masyarakatnya. Islam itu sempurna karena datang dari yang Maha Sempurna yaitu Allah SWT, sehingga segala aturannya selaku memiliki kebaikan untuk manusia.
Wallahu 'alam bishowab. (reper/rmn)


Posting Komentar untuk "Gadget, Bikin Untung Atau Buntung??"