Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam Menangkal Bullying

Oleh: Srihartati Hasir (The Voice of Muslimah Papua Barat)


Bully, istilah ini kian popular seiring dengan berkembangnya teknologi. Kini bully tidak lagi hanya di dunia nyata tapi juga kian marak di dunia maya. Sebagaimana arti bullying dalam Wikipedia yaitu penindasan, menggunakan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk mengintimidasi orang lain. Perilaku bullying dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. 


Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan, dan diarahkan berulangkali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. 


Video penganiayaan oleh sekelompok siswi SMP terhadap temannya viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak seorang perempuan dijambak oleh perempuan lainnya yang mengenakan seragam SMP. Ia juga dipukuli dan ditendang dibagian belakang. Peristiwa ini terjadi 4 maret 2021 di salah satu kompleks SMP Negeri di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. (http://news.detik.com, 16 Maret 2021)


Di Media sosial TikTok pun beredar sebuah video dimana seorang ibu menceritakan peristiwa bullying yang dialami anak perempuannya. Ia mengaku sangat sakit hati saat tahu anaknya menjadi korban bullying  dan nekat menggunting rambutnya karena diejek memiliki rambut jelek oleh temannya. (http://hits.suara.com, 20 Maret 2021)


Perilaku bullying semakin meresahkan, apalagi ini kebanyakan terjadi di lingkungan sekolah. Dimana sekolah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan memanusiakan manusia, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ya, beginilah jika sistem Pendidikan sekuler yang diterapkan dimana memisahkan ajaran agama dalam proses mendidik siswa di sekolah. Pelajaran agama Islam tetap kita dapatkan di sekolah tapi itu hanya sebatas pengetahuan saja, tidak lebih. Islam tidak ditanamkan dan diajarkan oleh sekolah ke kita sebagai pedoman hidup dan standar menilai segala sesuatu dalam kehidupan. Ibarat kata, ilmu agama yang diajarin sekolah sekuler hanya masuk telinga kanan dan kemudian menguap begitu saja. Dan kebanyakan materi agama yang kita pelajari hanya seputar ibadah ritual saja padahal Islam itu sempurna yang bahkan mengatur urusan interaksi antar sesama.


Tidak mengherankan jika output Pendidikan sekuler melahirkan generasi “barbar”, generasi yang individualis dan liberal yang menganggap perilaku bullying sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, berekspresi dan bertingkahlaku. Padahal Islam agama yang sempurna yang mengatur persoalan ini. Rasulullah SAW bersabda : “Abu Musa r.a. berkata ‘mereka (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya’.” (HR. Bukhari)


Kesimpulannya adalah kita tidak layak disebut muslim sejati kalau kita masih sering menjadikan saudara muslim kita yang lain celaka akibat keburukan lisan dan tangan kita. Dan bukan pula muslim yang baik jika ia tidak mau menyelamatkan muslim yang lain dengan kebaikan lisan dan tangannya yang menimpa mereka. Allah berfirman: “hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab : 70-71)


Bullying sangat dilarang dalam Islam karena sangat merugikan orang lain. Sebagaimana dalam Al Qur’an surah Al Hujurat ayat 11: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”


Selain itu, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal mendidik anak, khususnya Ibu. Banyak ibu yang terjun ke ranah publik sebagai wanita karir (apakah itu karena eksistensi diri atau tuntutan ekonomi) berlepas diri dalam mendidik anaknya dan menyerahkan penanaman aqidah anak ke sekolah yang serba sekuler. Belum lagi peran media yang cukup besar dalam menampilkan tontonan yang tidak berisikan tuntunan, game yang mengandung unsur kekerasan, film yang menampilkan adegan bullying, dan lain sebagainya yang membuat perilaku bullying semakin subur.


Untuk itu, dibutuhkan peran keluarga, masyarakat dan terlebih lagi peran negara dalam mengatasi permasalahan ini. Dimana negara yang menerapkan Islam kaffah dalam seluruh sendi kehidupan, selain dari memberikan Pendidikan berkualitas secara gratis, juga memberikan tontonan dan tayangan yang mendidik untuk generasi serta menangkal segala jenis tayangan yang merusak aqidah umat. Wallahu ‘alam. (reper/toriq)

 

Posting Komentar untuk "Islam Menangkal Bullying"